GURU PAHLAWAN TANPA TANDA JASA TANPA UNJUK RASA

Guru adalah pekerjaan yang sangat mulia, saking mulianya pekerjaan ini  termasuk salah satu diantara tiga hal yang tidak terputus pahalanya setelah kematian ;
√ Doa anak sholeh
√ sedekah jariyah
√ ilmu yang mamfaat.
Ilmu yang bermamfaat yang telah diajarkan oleh guru akan terus mengalir pahalanya kepada sang guru setelah kematian.

Ketika SD dulu ada 4 orang guru yang bukan berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS) pada zaman sekarang disebut guru honorer. Tapi zaman dulu ada juga sebutan “Guru Bantu”.
Bahkan ada juga istilahnya “Guruga”. Dari dulu sampai sekarang kami tidak tahu arti dan maksud frasa tersebut.

Dua diantaranya sudah berusia lanjut.
1. Kami memanggilnya dengan “ibu apauk”. Sebenarnya sudah tidak pantas dipanggil ibu karena sudah sangat tua, seharusnya dipanggil “uwo/anduang” karena usia beliau sudah lebih dari 60 tahun.
Sebagai anak SD kami tidak tahu usia beliau tepatnya sama seperti kami tidak tahu nama KTP-nya. Kami hanya bisa memperkirakan umurnya sudah lanjut karena beliau adalah adik ipar sekaligus sahabat “uwo” kami. Saat itu usia “uwo” sudah lebih 60 tahun. Kami tetap memanggilnya “ibuk” disekolah sedangkan saat diajak uwo bertandang kerumahnya atau beliau datang kerumah kami memanggilnya “Anduang”.
2. Sedangkan yang laki-laki seorang kakek yang sudah tua, bahkan lebih tua dari “ibu apauk”. Kami memanggilnya dengan “Pak Kolang”, seorang kakek tua yang kurus dan pendiam. Tapi punya samangat mengajar yang luar biasa. Bayangkan untuk mengajar beliau menempuh jarak tidak kurang dari 5 Km dengan mengendarai sepeda onthel. Jangan bayangkan jalan lurus dan datar serta mulus seperti saat ini. Jalan yang beliau lewati penuh kekikil, becek, berlubang, tanjakan dan turunan. sepeda hanya bisa dinaiki saat jalan mendatar dan menurun sedangkan saat tanjakan harus didorong.
Kami sering membantu mendorong sepeda onthel tua beliau di tanjakan “kelok apa” salah satu tanjakan terjal dan berliku tajam yang harus dilewati beliau untuk mengajar. Berbeda dengan “ibu apauk” yang kami tidak tahu nama lengkapnya sedangkan “Pak Kolang” punya nama asli Adnan. Nama Arab yang hebat, bagi kami layak disejajarkan dengan nama kakek ke-25 generasi sebelum nabi Muhammad SAW yang juga bernama Adnan.
Atau anda mengenal Adnan Kashoggi pengusaha senjata yang kaya raya dari Arab Saudi. Kami juga mensejajarkan beliau dengan Adnan Buyung Nasution pejuang penegakan hukum dinegeri ini.
Dua sosok ini sungguh luar biasa. Mahaguru yang mengabdikan hidupnya untuk mencerdaskan anak kampung yang sebelum masuk SD belum pernah mendapat pendidikan formal. Jangankan TK apalagi PAUD cara menggunakan pensilpun belum bisa. Hampir 2 minggu pertama masuk SD pelajaran kami hanya cara menggunakan [memegang] pensil yang benar.
Jangan tanya gelar atau pendidikan formal mereka karena dilahirkan zaman kolonial Belanda dan hanya mengecap pendidikan “Sekolah Rakyat” setingkat SD dizaman pendudukan Nippon.
3. Dua orang lagi gadis belia yang baru berusia menjelang 20 tahun.
Jebolan Sekolah Pendidikan Guru (SPG). Jenjang pendidikan ini sudah dihapuskan sejak belasan tahun yang lalu. Kami tidak ingat berapa lama mereka mengabdi salah seorang kebetulan tetangga dekat kami memanggilnya “elok”.
4. Guru honorer kami yang keempat bernama Nur Azizah. Percis seperti judul lagu dangdut yang sedang hits di era itu.
Beliau mengajar tidak lebih dari 2 tahun kemudian melanjutkan pendidikan study.

Demikian empat guru Honorer yang menjadi pahlawan tanpa tanda jasa yang kamu kenal.
Kami tidak pernah mendengar mereka melakukan unjuk rasa ataupun mogok mengajar demi menuntut status “guru benaran”[PNS] atau menuntut perbaikan kesejahteraan.

Apakah yang menjadikan mereka menjadi “PAHLAWAN TANPA TANDA JASA TANPA UNJUK RASA” ?
1. Guru sebagai pengabdian bukan mata pencarian.
Kedua guru yang kami ceritakan diawal [Buk Apauk & Pak Kolang] guru bukanlah profesi sebagai penunjang kehidupan mereka, bagi mereka guru adalah sarana pengabdian bukan mata pencaharian.
Buk Apauk punya toko pakaian dan P&D di pasar kenagarian kuranji ilir dan di kediamannya.
Beliau sudah punya ekonomi yang mapan bahkan beliau sudah melaksanakan ibadah haji sejak awal tahun 80-an.
Hanya sedikit sekali dikampung kami yang dipanggil “Pak Haji atau Buk Hajjah” dimasa itu.
Sedangkan Pak Kolang walaupun tidak punya penghasilan lain seperti ibuk apauk tapi punya sawah yang dikelola sendiri untuk menghasilkan beras.
Beliau hidup sederhana menjadi GURU-PETANI.
Adakah para guru honorer yang demonstrasi di istana negara seperti Pak Kolang?
Saat ini dialam kubur kedua guru kami almarhum Pak Kolang dan almarhumah Buk Apauk menikmati semua pahala dari ilmu yang bermamfaat yang pernah diajarkan kepada kami. Karena semasa didunia mereka sampai akhir hayat tidak pernah menuntut penghargaan sebagai “guru benaran”[PNS].
Di alam kubur mereka mendapatkan imbalan beribu-ribu bahkan berjuta kali lipat daripada yang dituntut oleh guru honorer yang yang sedang demonstrasi di Istana Negara.

2. Alih profesi atau putar haluan
Sebagai seorang yang punya ambisi besar terhadap kehidupan dunia [kekayaan] elok putar haluan menjadi seorang enterprenuer.
Bermula menjadi “Hair stylist” dengan mendirikan “Warung Dandan” alias salon kemudian berkembang menjadi “Tukang Sanggul”. Usahanya makin berkembang menjadi Even Organizer.

3. Up grade kompetensi untuk meningkatkan kompensasi
Sadar ijazah SPG tidak dapat menjadi tiket untuk menjadi “guru benaran”[PNS] ibu Nur Azizah mengupgrade ijazahnya menjadi Stara I, karena di negeri ini KOMPETENSI = IJAZAH. sehingga beliau melanjutkan pendidikan ke Fakultas Pendidikan dan mendapatkan gelar Sarjana Pendidikan [SPd] dan cita-citanya tercapai menjadi “guru benaran” setalah diangkat menjadi pegawai Negeri Sipil [PNS].

Tulisan ini hanyalah respon kami dalam menyaksikan demonstrasi guru honorer di Istana negara.
Ini hanya sekedar opini bukan untuk dimaki.

Ket
Uwo/anduang : nenek dalam bahasa minang khusus pariaman.
Elok : panggilan untuk bibi bisa juga untuk kakak perempuan dalam bahasa minang

Dharmawangsa, 4 jumadil awal 1437

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close