PACKAGING BRANDING LIFESTYLE

Kopi berasal dari bahasa Arab yaitu Qahwah yang berarti kekuatan. Kata Qahwah mengalami perubahan dalam bahasa Turki menjadi Kahveh kemudian menjadi coffe dalam bahasa Inggris.

Kopi adalah minuman seluruh kalangan mulai dari kaum proletar hingga kaum Bourjois.
Kopi sudah menyebar keseluruh dunia mulai dari Amerika Selatan hingga Pacifik.

Segara garis besar ada dua varietas kopi yaitu Arabica dan Robusta.

Kopi sudah menjadi bagian kehidupan manusia sejak 3000 tahun silam. Kopi diminum pertama kali oleh bangsa Ethiopia pada tahun 1000 SM.
Awalnya kopi dikonsumsi untuk menambah stamina dan meningkatkan energi untuk memulai aktifitas dipagi hari. Hingga muncul istilah “kopi pagi”. Untuk beberapa daerah seperti Aceh dan Bangka Belitung geliat kehidupan masyarakat di mulai dari hiruk pikuk di Warang Kopi di pagi hari. Biasanya sebelum beraktifitas mereka nongkrong terlebih terlebih dahulu di warung kopi sambil ngobrol. Obrolan mereka juga bervariasi mulai dari kenaikan BBM, tarif listrik, Pilkada, isu terorisme dan ISIS bahkan sampai masalah poligami.
Profesi mereka juga bervariasi mulai petani,buruh pabrik, pedagang hingga pegawai negeri. Itulah gambaran fungsi kopi masyarakat indonesia.

Namun memasuki abad 21 dan era digital kopi bukan hanya sebagai minuman tapi sudah menjadi lifestyle. Warung kopi menjelma menjadi coffe shop,tukang buat kopi berubah menjadi Barista. Kopi tidak lagi hanya sebagai minuman tapi sudah menjadi gaya hidup atau lifestyle. Coffe shop menjamur di Mall, kawasan bisnis dan perkantoran bahkan sampai di Rumah Sakit. Coffe shop bukan sekedar tempat ngopi. Coffe shop tempat meeting para pebisnis , pertemuan petinggi BUMN, kongkow selebritis dan publik figur, bahkan tempat kerja atau berkantor expatriat karena jaringan wifi super kencang.

Berapa harga segelas kopi?
Diwarung kopi dijual seharga Rp 3.000.000 sampai Rp 8.000 sedangkan di coffe shop segelas kopi di banderol seharga Rp 24.000 samapai 65.000
Apakah isinya sama?
Jelas sama karena isinya sama-sama kopi.
Apakah rasanya sama?
Bisa sama atau bisa juga beda, terkadang memang lebih nikmat minum kopi di coffe shop daripada di warung kopi tapi terkadang sebaliknya.
Apakah yang membuat kopi di coffe shop lebih nikmat dari warung kopi?
√ Packaging
√ Branding
√ Lifestyle

© Apakah packaging (kemasan) akan mempengaruhi lidah sebagai indera perasa?,
© Apakah Brand akan mempengaruhi lidah sebagai indera perasa?
Jelas kemasan dan brand tidak dapat mempengaruhi lidah sebagai indera perasa tetapi kenapa kopi di coffe shop lebih nikmat daripada di warung kopi?, Memang kemasan dan brand tidak dapat mempengaruhi lidah tapi pasti berpengaruh terhadap otak,
√ inilah yang membuat kopi di coffe shop lebih nikmat
√ Inilah yang membuat kopi di coffe shop lebih mahal.
√ inilah yang mereka bayar mahal oleh penikmat kopi di coffe shop.

Inilah yang mereka sebut LIFESTYLE
Mereka yang minum kopi seharga Rp 3.000 karena “isi” sedangkan yang membayar secangkir kopi seharga Rp 48.000 karena “gengsi”(LIFESTYLE)

KONSUMEN→PACKAGING + BRANDING = LIFESTYLE
PRODUSEN →PACKAGING + BRANDING = $$$$

****

Al Albana, Pondok Aren, 20 Des 15

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close