Tabayyun Ala Imam Bukhori

‘Ketika media menjadi kitab shohih bagi para pemuja dan pencela’

Saya membayangkan Imam Bukhori melakukan perjalanan dari Bukhara(Usbekistan) menuju Basrah(Irak) atau dari Kuffah(Irak) menuju Mesir dan kota-kota lainnya yang pernah didatanginya untuk memvalidasi sebuah Hadist.
Pastinya perjalanan darat dengan menggunakan Onta atau Kuda. Perjalanan panjang menempuh jarak beribu-ribu mil dan membutuhkan waktu berminggu-minggu demi untuk memvalidasi(keshohihan) sebuah hadist
Jangan bayangkan perjalanan yang nyaman dan cepat seperti saat sekarang dengan menggunakan pesawat udara,kereta api atau kapal laut.
Tujuan Imam Bukhori adalah memvalidasi sebuah hadist yang akan dibukukannya kedalam kitab yang kita kenal sekarang Shohih Bukhori yang menjadi rujukan bagi umat islam seluruh dunia.
Imam Bukhori sebelum membukukan satu Hadist harus benar-benar yakin bahwa yang beliu tulis benar dari Rasullulah Muhammad SAW.
Dalam satu Hadist biasanya berkisar 3 sampai 7 perawi hingga sampai kepada sahabat yang mendengar atau melihat lansung sebuah sunnah dari rasullah.
Sanad yang tidak terputus dan kehidupan para perawi Hadist inilah yang didalami oleh Imam Bukhori sehingga beliau rela melakukan perjalanan jauh.
Masa kehidupan antar perawi, kehidupan perawi (jujur,tidak pernah berbohong,punya hafalan yang kuat) inilah yang di veryfikasi oleh Imam Bukhori dengan cara mendatangi Kota-Kota yang pernah didiami oleh para perawi. Beliau akan menggali tentang kehidupan para perawi sebelum memasukan sebuah hadist yang diriwayatkan oleh perawi kedalam kitab shohih Bukhori.
Terlalu jauh membandingkan apa yang dilakukan oleh Imam Bukhori dengan para pemuja dan pencela dalam memvalidasi sebuah berita.
Bagaikan siang dan malam.
Bagaikan setetes air dengan lautan.
Memang tidaklah pantas membandingkan Imam Bukhori dengan para pemuja dan pencela dalam memvalidasi dan memveryfikasi sebuah berita. Karena zaman sudah berubah.
Dahulu Imam Bhukori melakukan safar dengan Onta untuk memvaludasi sebuah hadist sedangkan sekarang para pemuja dan pencela cukup berselancar didunia maya untuk memuja atau mencela.
Zaman memang telah berubah, kemajuan tekhnologi sudah berkembang.
Tapi esensi sebuah berita tetaplah sama yaitu jujur dan tidak memihak serta adil.
Itulah tugas dari para penyampai berita (ahli hadist, jurnalis).
Kita saksikan sekarang pengguna sosial media juga menjadi penyampai berita dengan share link opini dari blogger atau situs yang propaganda yang mengabaikan validasi dan veryfiksi.
Judulnya dibuat heboh seperti diawali dengan kata “wow terbongkar……”, “akhirnya terkuak…..”, “rahasia dibalik….”.
Tanpa sadar sebagian saudara saya yang muslim menceburkan dirinya dengan ikut menyebarkan berita yang belum divalidasi disosial media.
Padahal kalau berita itu bohong bukankah kalian sudah memfitnah saudara sesama muslim, sedangkan kalau benar bukankah sesama muslim kita dianjurkan untuk menutupi aib saudara sesama muslim.

Selamat sore para jurnalis sosial media.

Pondok aren, 24 Jumadil Awal 1437.

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close