Sutan Sjahrir ; Peran Besar Bung Ketjil

Berharap ada produser dan sineas mengangkat perjalanan hidup anak minang bertubuh mungil tidak lebih dari 160 cm dan bobot 45 kg tapi punya peranan dan sumbangsih besar untuk negeri ini.

Beliau dikenal sebagai Diplomat ulang berjuang agar kemerdekaan indonesia diakui oleh dunia international. Pernah menjabat sebagai perdana menteri termuda di dunia dalam usia 36 tahun.

Seorang sosialis kanan, humanis, tidak terperangkap dalam oleh nasionalisme sempit, moderat,egaliter, pandangan yang jauh kedepan dan konseptor ulung. Sosok otodidak, walaupun pendidikan formalnya hingga Belanda namum beliau tidak berminat sedikitpun menyelesaikan kuliahnya di Leiden Belanda. Ia berujar ; “lama kelamaan saya tahu bagaimana membebaskan diri dari perbudakan ilmu resmi (pendidikan formal). Otoritas ilmiah tidak terlalu berarti bagiku secara batin. Dengan begitu seolah-olah jiwaku semakin bebas tidak ada nama besar dan tenar yang resmi maupun tidak resmi yang menguasaiku untuk membutakanku dengan kehebatannya dan membuang atau membantai semua kegiatan orisinilanku….yang lebih penting bagiku adalah bagaimana tiba pada kebenaran harmonis dan pribadi sifatnya”.

Pemuda kosmopolitan yang mahir menggesek biola, pemain teather,penulis skenario dan Sutradara. Pria tenang,kalem yang romantis dengan kisah cinta dengan Marie Duchateau yang tidak berakhir manis.

Anak minang kelahiran 6 maret 1909 di nagari penghasil intelektual Koto Gadang-Bukittinggi.
Beliau terlahir dari keluarga intelektual modern. Bapaknya Muhammad Rasyad Maharadjo Sutan adalah kalangan elite Hindia Belanda bekerja sebagai Jaksa, sedangkan kakaeknya Lemang Sutan Palindi juga merupakan kalangan pegawai elite Hindia Belanda.

Pendiri Partai Sosialis Indonesia sebenarnya tidak begitu tertarik dengan dunia politik tapi karena keadaan negerinya yang telah dijajah beratus-ratus tahun dan juga karena seorang intelektual yang terpelajar menarik beliau dalam pusaran politik dalam memperjuangakan kemerdekaan. Walaupun berhasil memperjuangkan kemerdekaan negerinya dan berhasil mencapai karir politik tertinggi sebagai Perdana Menteri. Namun akhir hayatnya tragis-sebagai tahanan politik.

Menurut sahabatnya Salomon Tas~soerang Yahudi berkebangsaan Belanda yang juga merupakan mantan suami dari Isteri pertama Sjahrir~Sjahrir tidak menyukai politik, “ia melibatkan diri kedalamnya karena tugas mulia sebagai anak bangsa bukan karena terpikat. Ia tidak terpesona dengan fenomena yang dahsyat,menarik bergairah terkadang luhur,sering kotor namun sepenuhnya manusiawi yang kita sebut politik. Ia tidak merasakan ada panggilan”.

Beliau menghembuskan nafas terakhir pada 15 juli 1966 di Zurich-Swiss dalam usia 57 tahun meninggalkan dua orang anak Kriya Arsjah Sjahrir (Buyung) dan Siti Rabyah (Upik) dan seorang isteri Siti Wahjunah (Poppy Sjahrir)
Setelah empat tahun menjadi tahanan politik merasakan dingin penjara tanpa pernah diadili.

Kategori Tokoh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close