Sepasang Sandal Reinkarnasi

Saya mungkin tipikal pria yang konservatif dan suka bernoltagia. Setidaknya terlihat dari selera berpakaian. Perihal berpakaian, saya hampir tidak pernah mengikuti tren terkini. Saya lebih suka membeli pakaian yang pernah saya miliki sebelumnya.

Sekarang saya punya sepasang sandal reinkarnasi.

Begini ceritanya. Ketika anak pertama saya lahir, enam tahun lalu isteri saya tercinta menghadiahkan sepasang sandal dan dua kaos polo. Kaos polo sampai saat ini masih layak pakai dan malah salah satunya masih utuh berhubung sangat jarang saya kenakan. Warnanya coklat tua tidak serasi dengan kulit saya yang eksotik ini, membuat saya tidak percaya diri mengenakannya.

Seiring berjalannya waktu, anak semakin bertambah usia, fisik serta mentalnya juga semakin tumbuh dan berkembang sesuai harapan. Sedangkan sandal yang dulunya kinclong dan empuk diinjak serta kuat cengkraman solnya sekarang sudah sudah terlihat pudar, tipis dan semakin kehilangan daya cengkramannya.

Sampai mencapai usia empat tahun sandal sudah mencapai titik kritis, sudah tidak pantas digunakan untuk berpergian, kecuali pergi sholat ke Masjid.

Selama enam bulan sandal hanya saya gunakan untuk pergi ke Masjid. Namum akhirnya anak saya protes karena kondisi sandal sudah meranggas. Lalu dengan berat hati saya mengikhlaskan kepergian sepasan sendal itu dengan menyerahkan kepada pemulung sebagai ujung tombak dalam proses reinkarnasi.

Selepas kepergiannya saya pernah memiliki beberapa sandal namun tidak sesuai dengan selera akibatnya saya sia-siakan dan tidak terawat.

Suatu hari saya pergi kepusat perkulakan Tanah Abang dalam rangka membeli perlengkapan sekolah untuk anak, sekelebat saya melihat sepasang sandal dengan merk,model, warna dan ukuran yang percis sama dengan yang pernah saya miliki terpajang di salah satu etalase toko. Dengan dada berdegup kencang tanpa sadar kaki menuntun saya semakin mendekati sehingga tangan dapat merabanya. Akhirnya terlontar ucapan untuk menanyakan maharnya. Hanya naik sedikit di banding enam tahun lalu. Toko menetapkan harga fix tanpa ada ruang untuk negosiasi. Karena dulu gratis hadiah dari isteri sedangkan sekarang bayar sendiri terasa mahal. Dan lagi pula membeli tanpa dapat menawar saya merasa dilecehkan sebagai orang padang, derajat keminangan terasa luntur. Dengan berat hati saya balik badan setelah sebelumnya mengucapkan terima kasih.

Dua bulan berlalu akhirnya saya putuskan untuk kembali ke toko tersebut untuk mendapatkan sandal reinkarnasi. Dengan segala konsekwensinya berhubung lebaran sudah semakin dekat.

Menjelang masuk waktu sholat jum’at saya sampai di TKP. Dengan sedikit mencoba bernegosiasi namun tidak berhasil. Akhirnya saya memaksakan diri merogoh dompet untuk membayar mahar sesuai yang tertera.

Berbeda dengan sandal sebelumnya, sandal ini setiap hari saya rawat dan bersihkan. Sambil berharap solnya tidak kehilangan daya cengkraman untuk menempuh jalan kebenaran yang kerap kali terlalu licin dan rentan membuat kita terpeleset ke jurang kekhilafan.

Al Albana,
Legian, 9 syawal 1437 H.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close