Peremajaan Oblong

Sore ini, saya datang lagi ke outlet kaos oblong yang menjadi ikon cinderamata kota ini. 1381 hari yang lalu saya berhasil membawa dua kaos oblong dari outlet ini. ‘Sikuning’ untuk saya dan satunya lagi merah buat bocah yang saat itu berusia dua setengah tahun.

Walaupun seorang yang tertuduh dan mengaku konservatif dalam berpakaian. Tapi saya juga punya oblong. Namum tanpa paksaan dan tekanan saya telah berikrar dengan tidak sepenuh hati ; demi menjaga keseimbangan alam kosmis almari maka jumlah oblong tidak boleh lebih dari dua. ‘Sikuning’ dan ‘simerah’ yang menjadi dwitungggal penghuninya.

Lelaki konservatif berkaoas oblong juga bukan hal terlarang kecuali bergambar palu arit didepan atau belakangnya, atau couple dengan saya bergambar Palu dan bojo bergambar Arit ini akan membuat saya berurusan dengan Bapak Kiv*** Z**n karena anda termasuk kedalam 30 juta simpatisan Partai Kilo Indonesia yang sedang bersiap melakukan kudeta seperti di negara Om Erdogan.

Bukan, bukan soal ‘kumunyis’ atau pe-ka-i yang akan saya ceritakan, biarlah itu urusan para pakar sosial media,maqom saya tidak cukup untuk membahas diskursus tentang kebangkitan KGB.

Setelah melewati masa batita ‘sikuning’ sudah lelah dan uzur terlihat dari warna yang memudar dan lusuh bahkan jika dipandang dari jarak kurang satu meter terlihat ventilasi kecil di bagian pundak. Hal inilah menjadi asbabun nuzul turun titah dari amak paja Wisdawati Syafri untuk mencari penerus ‘sikuning’ agar keseimbangan alam kosmis almari tetap terjaga dengan dua oblong. Seiring dengan itu maka ‘sikuning’ juga diberikan MPP sehinga orbitnya hanya dalam rumah tidak diizinkan keluar kecuali buang sampah dan main badminton didepan rumah. Sambil menunggu masuk museum.

Ceritanya jadi berliku ketika hendak berangkat ke pulau ini sebulan yang lalu. Kebetulan saya berkemas sendiri maka ‘sikuning’ saya sertakan dalam list yang diberikan kesempatan menemani saya. Masuklah ‘sikuning’ kedalam travel bag.

Sesampai disini dengan sepuas hati saya mengenakan ‘sikuning’ ke berbagai destinasi tanpa batasan ; sering ke garment dan toko, bersepeda dan kepasar bahkan pernah ke hotel.
Pernah melewati museum Antonio Blanco di Ubud sampai berkeliaran disekitar Monumen Grand Zero. Pokokya ‘sikuning’ boleh istirahat hanya untuk meleyapkan kotoran yang menempel.

Saya melupakan SK orbit ‘sikuning’ dan bahkan sampai tidak menyadari saat video call dengan amak paja dan Den Bagus Alwi Albana sedang mengenakan ‘sikuning’.

Sore ini pukul 16.17 sama seperti 1381 hari yang lalu saya berhasil mengeluarkan dua oblong dari outlet dan brand yang sama, yang satunya sebagai penerus ‘sikuning’ dan satunya lagi pastilah untuk bocah 6 tahun yang selalu cakap “saya nak juga” setiap kali saya membeli atau dibelikan sesuatu. namum warna dan motif yang beda. Inilah yang menjadi generasi penerus ‘sikuning’.

Lega rasanya karena tugas maha berat yang dititahkan tuntas sudah, tidak adalagi pertanyaan ; “ayah oblongnya sudah dapet belum?”.
Namum juga bercampur rasa iba saat ‘sikuning’ sudah 32 hari sering mengikuti aktifitas saya harus masuk masa MPP kembali sebelum menuju museum.

Note : amak paja = salah satu sebutan untuk
isteri dalam bahasa minang.

Alwi Albana
Bukan pecinta oblong

Tuban, minggu-pahing, 26 syawal 1437 H.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close