Seni Diplomasi dan Seni Beladiri

Meskipun bercita-cita mejadi Diplomat namum dia sangat menyukai beladiri. Seni diplomasi memang sungguh jauh berbeda dengan seni beladiri. Sebagai pengagum Tokoh diplomasi sehebat ; Sutan Syahrir, Agus Salim, atau Amr bin Ash karena sering mendengar ‘ dongeng’ dari ayahnya. Namum tak mengurangi kekakagumannya kepada : Bruce Lee, Tariq bin Ziyad atau Muhammad Al fatih

Dari kecil memang di sering diceritakan ayahnya tentang perang dalam penaklukan islam. Keberanian Hamzah bin Abdul Muthalib, kehati-hatian Ali bin Abi Thalib atau kekuatan syair Abdullah bin Rawahah dalam perang menjadi menjadi pengantar tidurnya.

Baginya kecerdikan diplomasi Mush’ab bin Umair atau Amr bin Ash tak kalah hebat dibanding tebasan pedang Khalid bin Al Walid dalam menghantam benteng-benteng Persia dan Romawi.

Ia sangat terkesan dengan kecerdikan Rasullulah pada perjanjian huddaibiyah, kehebatan strategi Rasullulah pada peristiwa Fathul Makkah tanpa menumpahkan darah. Terlebih lagi penyesalan Alfred Nobel atas penemuan Dinamit telah menginspirasinya untuk memantapkan hatinya menjadi juru runding yang akan mencegah atau menghentikan perperangan. Demi menghiasi dunia dengan pelangi perdamaian.

“Kalau ada masalah selesaikan dengan otak bukan dengan otot” cakapnya sambil menunjuk kepala selanjutnya lengan.

Diakhir massa TK dia minta ikut eskul Drum Band namum karena tanggung sebentar lagi masa TK akan berakhir ibunya menjanjikan nanti setelah masuk SD.

Namun saat masuk SD ada pilihan eskul seni beladiri dari negeri gingseng-Tae Kwon Do membuatnya lupa pada Drum Band. Bahkan ketika ditawarkan ibunya untuk ikut futsal dengan enteng dia berucap ” saya tak punya soul untuk bermain bola”

Dengan sangat antusias dia mengikuti latihan di hari pertama, siang itu saat matahari di atas ubun-ubun. Dia memperhatikan dan mengikuti semua instruksi dari sabam selama 90 menit.

Barangkali selain melatih Tae Kwon Do sabam juga seorang pendoktrin yang hebat. Buktinya berselang dua jam selesai latihan hari pertama sudah terlihat hasilnya. Untuk pertama kali dia berani membalas ketika di pukul. Sebelumnya dia hanya bisa menangis pulang.

Sebut saya nama aslinya Avin, seorang teman-tetangga yang sering memukulnya ketika bermain sepeda atau main Bola. Sore itu berbeda dari biasanya, “saya tadi balik pukul Avin dan dia minta bantu Aska” ujarnya dengan bangga kepada ibunya.

Hari ini dia latihan gabungan dari selesai subuh di sudah tidak sabaran untuk berangkat.

“Selain belajar seni berdiplomasi,pelajarilah seni beladiri nak, sehingga engkau bisa menghentikan kekerasan dengan cara yang benar. Hentikanlah kekerasannya bukan hidup pelakunya seperti om anggota salep 88” ujar ayahnya.

PS ; “Sakarepmulah yuang!, semoga kamu dapat menumpaskan dendam ayahmu yang tidak pernah ikut eskul dan segala macam produk turunannya, sekolah bagi ayahmu dulu hanya buat belajar. Rekor ayahmu adalah tidak pernah tercatat namanya dalam kegiatan apapun di sekolah atau kampus selain daftar piket dan absensi”.

Al Albana, Pemogan Zukhaidah 1437

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close