Mabok Bahasa dan Kepingan Masa Silam

Kasus penistaan Al Maidah 51 telah menghadirkan banyak ahli Bahasa Indonesia atau pakar linguistik setidaknya di media sosial. Saya turut senang karena selama ini pelajaran Bahasa Indonesia yang walaupun mendapat bobot (porsi) yang cukup di kurikulum pendidikan namun hanya sedikit sekali yang benar-benar tertarik. Pelajaran Bahasa Indonesia hanya sebatas pelajaran wajib setiap semester dari SD sampai SMU/SMK. Bahkan saya sendiri masih dapat dua SKS di Perguruan Tinggi.

Dulu, dahulu sekali ketika saya menentukan pilihan jurusan SMA. Dengan sangat mantap dan sepenuh hati saya memilih jurusan A-4, kalau tidak salah saya deskripsinya seperti ini ; ilmu-ilmu Sastra dan Budaya. Namun apa yang terjadi setelah berdiskusi dengan saudara dan guru BP/BK mereka berhasil mengalihkan perjalanan pendidikan saya. Saya tidak berani mengatakan perjalanan hidup. Karena perjalanan hidup(pekerjaan) memang tidak selalu sesuai dengan latar belakang pendidikan.

Kalau tidak salah, saudara saya berujar seperti ini “tidak usahalah, jurusan budaya isinya anak-anak malas yang nyaris tinggal kelas dan sebagian lagi anak pindahan yang tidak naik kelas di sekolah lain lalu pindah sekolah agar naik kelas walaupun cuma dapat jurusan budaya”. Tambahnya lagi “lihatlah suasana kelasnya sangat berisik, penampilan mereka urak-urakan, kamu tidak akan betah dengan lingkungan seperti itu”. Kebetulan kelas saya berada satu lorong dan dari gerbang sekolah saya mesti melewati kelas A-4 sebelum masuk kelas. Suasana kelas dan siswanya percis seperti yang digambarkan oleh saudara saya.

Menyadari diri saya yang ‘cupu’ dan pendiam memang tidak tepat berada dalam lingkungan seperti ini.

Lain lagi saat konsultasi dengan guru BP/BK, saya sudah agak lupa ucapannya,kurang lebih seperti ini “tidak sayang kamu masuk A-4, saya lihat nilai matematika dan Fisikamu bagus, kenapa tidak masuk A-I atau A-II”. Bayangan saya lansung kepada Katak yang dibedah atau kupu-kupu yang diawetkan dengan air raksa saat mendengar kata A-II atau Biologi saya benar-benar tidak punya minat dibidang ini. Sedangkan untuk jurusan A-III (Ilmu-ilmu sosial) saya tidak punya gambaran sama sekali selain pembukuan dan neraca, celakanya lagi saya Guru BP/BK tidak menerangkan tentang mata pelajaran untuk jurusan sosial seperti Sosiologi, Antrophologi dan sialnya saya juga tidak menanyakan. Maka terdamparlahlah saya ke Jurusan A-I/Fisika.

Dua tahun berkutat dengan angka-angka membuat saya lupa akan kata-kata, bahasa sehingga setamat SMA tidak pernah terlintas untuk masuk fakultas Sastra ataupun Fakultas Komunikasi. Doktrin yang terjadi saat itu bagi siswa SMU jurusan Fisika masuk Fakultas Teknik. Saya satu korbannya, saya abaikan nilai tertinggi di Ijazah dan NEM (nilai evaluasi murni) adalah Bahasa Indonesia dan IPS (ilmu pengetahuan sosial. Sedangkan nilai Raport kelas 1 hingga kelas 3 untuk mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Sejarah kalau tidak sembilan ya delapan.

Akhirnya setelah dua kali gagal masuk Teknik Sipil nasib melemparkan saya masuk jurusan Teknik Kimia. Padahal sampai pada detik pengisian formulir pendaftaran salah satu PTN nun diseberang sana saya tidak pernah bermimpi untuk mendalami mata pelajaran Kimia. Namun apadaya setelah mengisi pilihan pertama dengan pasti dan yakin Teknik Sipil lama saya berfikir sambil menggigit tutup balpoint untuk menentukan pilihan kedua. Tapi gagal, hingga akhirnya ‘tangan malaikat’ menuntun saya untuk menuliskan Teknik Kimia.

Lima tahun di Fakultas Teknik tidak pernah membuat saya benar-benar melupakan Sastra. Saat teman sejurusan berlomba-lomba melengkapi koleksi buku yang berhubungan dengan Teknik Kimia, entah apalah judulnya saya benar-benar telah melupakan, saya malah larut dalam Novel Saman, Larung Karya Ayu Utami atau Dilarang Bernyanyi di Kamar Mandi, Sepotong Senja Buat Pacarku milik Seno Gumira. Saat teman-teman antri di mem-photo kopi buku pelajaran saya tenggelam dengan Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, Rumah Kaca. Magnum Opus Pramudya Ananta Tour.

Meskipun berhasil menyelesaikan kuliah tepat waktu dan termasuk mahasiswa yang menonjol sehingga sering dicari teman-teman jika ada tugas atau menjelang ujian semester, namun setelah tamat kuliah saya malah mengintip lowongan di media elektronik dan cetak. Al hasil memang tak satupun yang merespon surat lamaran dari belasan yang saya kirim.

Bagaimanapun kekeliruan masa lalu bukan untuk ditangisi. Ia adalah bagian perjalanan hidup yang telah digariskan oleh Allah di Laudz Mahfudz. Mengenai kegagalan menebus PTN tak perlu disesali karena hanya sampai itulah kemampuan akademis saya. Sedangkan kenapa tidak memilih PTS di pulau Jawa juga tidak memungkinkan dengan kondisi keuangan orang tua. Satu hal yang mungkin terus saya sesali hingga saat ini yaitu tidak bergabung dengan Pers Mahasiswa. Padahal setelah selesai ospek saya pernah mendatangi sekretariat Pers Mahasiswa dengan nama Wawasan Proklamator itu namun belum ada aktifitas karena masih suasana liburan Semester. Entah kenapa saya benar lupa sehingga tak pernah kembali mendatangi sekretariat itu. Bahkan karena bergaul dengan Mahasiswa Fakultas Teknik nyaris tidak pernah teman-temang ngobrol tentang aktifitas Pers Mahasiswa itu.

 

 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close