Harapan Seorang Ayah

Kamu ingat, Nak?, sejak bisa berbicara kamu hampir selalu mengiyakan semua keinginan kami. Seiring bertambah usia kamu semakin kritis, hampir setiap perbincangan kita selalu kamu akhiri dengan ‘kenapa’,(?).

Dan sekarang sudah 6 tahun lebih usiamu. Beberapa hal rasanya mulai tidak berjalan seperti yang kamu inginkan, atau saya inginkan.

Beberapa malam belakangan ini, sepulang sholat magrib seperti biasa, saya memintamu untuk belajar namun tidak kamu hiraukan. Saya merasa untuk kesekian kalinya sebagai ayah yang buruk, yang tidak bisa pintar bahkan sekiranya Ayah Edy dan Kak Seto berduet mengajariku.

Sebagai seorang yang pernah menjadi anak laki-laki sepertimu saya pahan, akan tiba saatnya nanti kita akan ; berselisih paham-berdebat-bersitegang urat leher atau saling diam tanpa bicara. Tapi saya tidak ingin secepat ini. Saat ini kekuatan kita belum imbang. Saya diuntungkan oleh otoritas ke-ayah-an dimana saya bisa sewenang-wenang menghentikan kamu menonton Televisi dan bermain game , lalu menyuruhmu masuk kamar tanpa kamu tahu apa kesalahanmu –atau kesalahanku.

Ahh. Tak apalah, bukankah saya juga pernah merasa sebagai ayah yang hebat melebihi Ayah Edy dan Kak Seto ketika selama tiga bulan kita berjarak ribuan mill hanya fasilitas video call dan voice call yang menghubungkan kita selain hubungan bathin.

Mendengar cerita ibumu, ketika itu melambungkan saya ketitik zenith kebanggaan seorang ayah. Cerita tentang aktifitasmu sepulang sekolah tanpa diminta lansung mengeluarkan buku dari tas lalu mengerjakan PR dari sekolah. Begitu pula Ketika saat azan ashar berkumandang kamu lansung mandi lalu berwudhu dan sholat ashar Selanjutnya minta diantar mengaji ke masjid. Pun ketika bundamu menceritakan begitu mudah membangunkan untuk sholat shubuh. Ah betapa bangganya aku.

Satu lagi khabar dari bundamu ketika itu adalah sebelum tidur kamu selalu memastikan pagar dan pintu rumah sudah terkunci. Atau setiap terbangun tengah malam kamu selalu menanyakan hal itu. Apalagi yang membanggakan dari seorang kepala keluarga ketika ketidakberadaanya dapat digantikan oleh anak laki-lakinya.

Anakku sayang, tahukah kamu kenapa saya memintamu belajar?
Bukan karena mengharapkan nilaimu tinggi lalu juara kelas mengalahkan teman-temanmu.
Tidak anakku, saya hanya ingin kamu disiplin menjalankan jadwal kegiatan sehari-hari yang kita susun bersama.
Tidak anakku, saya tidak pernah mengajarkanmu untuk berkompetisi dan saling mengalahkan.
Saya hanya ingin kamu belajar demi ilmu bukan demi yang lainnya, bukan demi nilai apalagi juara. Walaupun kamu telah membuktikan dengan nilai tertinggi pada ujian tengah semester kemarin.

Anakku, tahukah kamu apalagi yang bisa membuatku bangga?
Ketika kamu menagis-kamu marah-kamu menyesal saat bangun kesiangan sehingga terlambat sholat shubuh.

Alwi anakku, kita tidak mesti berjauhan-kan? Agar saya menjadi ayah yang hebat untukmu dan kamu anak yang hebat pula untukku?

Tabik,

Alwi Albana, seorang ayah bukan ayah Edy.
Pondok Aren, 25 Muharram 1438 H.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close