Teman Ngobrol

“Saye takut, Yah.” Ujarnya

“Takut kenapa, Nak?”, balas saya

“Nggak ada bunda”, ucapnya sambil menarik selimut.

“Tapi ada ayah” balasku sambil mengusap kepalanya.

“Sejak bunda pulang haji saye tak pernah tidur tanpa bunda”. Ucapnya sambil mengusap mata.

“Kalau tanpa ayah?”, balasku.

“Sering, malah sering bangat” balasnya.

“Trus, kalau tidur berdua bunda saja kamu takut ?”. Tanyaku lagi.

“Enggak”, balasnya.

“Kenapa ?, tanyaku.

“Karena ada bunda”, jawabnya.

“Kenapa kamu takut tidur berdua sama ayah tanpa bunda?”. Tanyaku lagi.

“Nggak tahu” balasnya sambil berusaha menggeleng kepala yang terganjal bantal.

“Berarti sekarang kamu bukan takut, tapi tidak biasa tidur tanpa bunda” ujarku.

Saya segera memeluknya. Dia balas memeluk erat. Dia memang pria yang sangat perasa, sama seperti Bapaknya, (cie-cie. Sambil benarin poni). Dan kalau sudah bicara dari hati ke hati, ia tak lagi seperti anak enam tahun, tapi seperti teman, sahabat bahkan partner seperti hubungan saya sama ibunya Wisdawati Syafri belasan tahun lalu. Namun bedanya kalau dulu, ibunya partner yang menyenangkan bagi saya tapi sebaliknya bagi ibunya, saya partner yang mengesalkan.(tapi itu cerita pada zaman dahulu).

Terus terang, ia teman ngobrol yang menyenangkan. Dan saya selalu berusaha agar begitu pula ia memandang ayahnya: seorang teman ngobrol yang menyenangkan.

Apakah berhasil?

Terkadang iya, namun tidak selalu, ternyata.

Buktinya malam ini, saat saya akan memulai cerita Uwais Al Qarni, sambil balik badan dia berucap,
“cerita ayah membosankan, cerita orang-orang hebat zaman dulu terus, nggak ada cerita robot kek, komik kek , apalagi superhero”.
Hanya berselang hitungan detik, ia sudah tertidur.

Padahal biasa kalau ada ibunya. Ia selalu memaksa saya ngobrol dengan mengajukan berbagai macam pertanyaan sampai saya benar-benar ngantuk berat sehingga seringkali jawaban saya yang ngelindur membuat dia terbahak-bahak karena tidak berhubungan dengan pertanyaannya.

Tapi tak mengapalah nak!, malam sedari tadi sudah masuk kedalam rumah dan bahkan sekarang sudah dalam lipatan selimut. Lagi pula agar besok jangan sampai subuh yang diantarkan muadzin yang masuk melalui ventilasi jendela tidak membuat kita terbangun dari mimpi.

Selamat tidur!!!

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close