Jangan Panik Mr. Presiden

Pria berkaos merah “dengar-dengar aksi damai kemarin berakhir ricuh, benar begitu bung?.

“Sepertinya begitu, setelah subuh saya sempat mendengar siaran RRI yang mengkhabarkan demikian”, balas pria berkemeja biru.

“Sangat disayangkan aksi yang berlansung damai, tertib dan bersih diakhiri dengan insiden seperti itu”, pria berkaos merah menimpali sambil membenarkan kacamatanya.

“Menurut bung, apa pemicunya”, ujar pria berkemeja biru sambil mengeluarkan permen karet dari mulutnya.

“Saya tak berani menduga-duga bung, terlalu banyak variabel yang harus kita diurai sebelum menyimpulkan penyebabnya”, terang pria berkaos merah sambil meremuk botol air mineral yang sudah habis.
Sejenak hening.
“Dan saya tidak tertarik, mencari penyebabnya. kalau bung yang menjadi presiden kemarin, kira-kita apa yang bung lakukan?”, tanya pria berkaos merah.

“Aksi kemarin sebenarnya hal yang biasa dalam negara mengaku menganut sistim demokrasi”, jawab pria berkemeja biru.

“What’s, terlalu, ratusan ribu gelombang masa melakukan aksi demostrasi mengusung isu yang sangat sensitif, bung berani bilang biasa?”, desak pria berkaos merah.

“Sorry, bung jangan salah memahami, yang saya maksud biasa adalah aksi demonstrasinya, Demonstrasi merupakan hak bagi warga negara bahkan Undang-undang juga menjaminnya, bukankah begitu?, namun kalau saya sebagai presiden menanggapinya juga biasa saja “, ujar pria berkemeja biru tenang nyaris tanpa tekanan.

“Saya gagal paham, coba bung jelaskan agar saya paham?”, desak pria berkaos merah.

“Saya akan datang menemui masa sesuai dengan yang mereka inginkan, saya tidak perlu menghindar dengan pergi ke terminal maupun ke pangkalan angkot untuk blusukan seperti yang biasa saya lakukan”, ujar pria berkemeja biru.

“Apa bung tidak takut, terjadi sesuatu yang buruk terhadap keselamatan bung, mengingat mereka yang datang dari berbagai lapisan masyarakat, dengan beraneka macam latar belakang, pengalaman serta kepentingan”, ucap pria berkaos merah serius.

“Saya paham dan bahkan sangat paham”, ujar pria berkemeja biru dengan enteng.

“Lantas, bagaimana?”, ujar pria berkaos merah.

“Jelas saya tidak akan mendatangi mereka yang masih dalam formasi lengkap dan dalam keadaan segar dan fit”, jelas pria berkemeja dibiru, lagi-lagi dengan ekspresi yang nyaris datar.

“Lalu kapan?”, desak pria berkaos merah.

“Ya, saat mulai terjadi aksi bakar-bakaran”, ujar pria berkemeja biru.
Kali ini pria berkaos merah hanya diam tanpa menimpali.

“Saya akan mendatangi mereka, saat sebagian gelombang masa yang sabar sudah membubarkan diri dan pulang sedangkan sebagian lagi sudah terpancing amarah lantas meluapkannya melalui aksi pembakaran” terang pria berkemeja biru sambil merapikan kemejanya yang sudah agak sempit.

“Kenapa tidak dari awal”, tanya pria berkaos merah penasaran.”

“Bung, tahu kita sedang mengalami multikrisis termasuk krisis keuangan, kita sedang menjalankan pengetatan anggaran” ucap pria berkemeja biru mulai serius.

“Tahu, ya saya paham”, ujar pria berkaos merah sambil menganggukan kepala.

“Kepala rumah tangga istana akan saya perintahkan untuk menyediakan, ketela,singkong dan berbagai macam yang sekiranya yang dapat dibakar serta beberapa ekor kambing. Saya akan jamu meraka dengan begadang semalaman ditemani api unggun sambil makan singkong dan ketela bakar serta kambing guling tidak ketinggalan nasi kebuli. Ingat para Habib sangat senang dengan nasi kebuli, Kami ngobrol hingga fajar berbagai hal yang dianggap penting dan juga yang tidak penting mulai dari peliharaan saya kecebong hingga kemungkinan dukungan kepada saya pada Pilpres 2019. Jelaskan semua itu tidak mungkin saya lakukan disiang hari dan juga anggaran tidak cukup untuk menjamu massa sebanyak itu” papar pria berkemeja biru.

“Jenius” ujar pria berkaos merah sambil tertawa.

Lantas kemudian meraka tertawa terbahak-bahak sehingga semua mata yang ada ditempat itu mengarah kepada mereka.

Tiba-tiba terhenti.

“Perhatikan bung, kenapa nona yang kita minta tolong untuk mengambilkan photo ada dalam hasil jepretan photo ini?” Ujar pria berkaos merah sambil meng’zoom’ photo. Pria berkemeja biru memiringkan tubuhnya hingga jarak kedua wajah mereka hanya sekepalan tanngan.

“Jangan-jangan, han, han…hantuuuuuuuuuuu”, ujar mereka berbarengan sambil berlari hingga melintasi pembatas jalan, lantas mencegat angkot yang paling pertama lewat tanpa mereka tahu arah dan tujuan angkot membawa mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close