Membaca, Tuna Baca dan membaca-baca

Hirarki pengetahuan khususnya dalam media sosial adalah membaca, selanjutnya memahami kemudian baru dapat menyimpulkan terserah setuju atau tidak dengan opini yang anda baca kalau anda ingin lebih silakan berkomentar namum jangan keluar dari topik. Meskipun berselisih pendapat biasakan debat intelektual dengan hanya membahas content tulisan. Hindari debat moral dengan menyerang ad hominen diluar topik yang diperdebatkan.

Saya haqul yakin semua pengguna media sosial tidak ada yang buta huruf apalagi buta benaran. Namun sebagian dari kita mengalami ‘tuna baca’. Tidak usah buka KBBI untuk mencari arti ‘tuna baca’ tidak akan ada, itu hanyalah istilah saya saja untuk mereka yang hobi berkomentar atau membagikan link namum enggan membaca terlebih dahulu. Mereka hanya membaca judul kemudian merasa-rasakan lalu membagikan atau berkomentar untuk memenuhi hasrat kenabiannya kalau tidak sekurang merasa Enstein sosial medialah merasa lebih tahu dari yang lain.

Sedangkan sebagian lagi dari kita lebih senang ‘membaca-baca’ dari pada membaca. Mereka tidak bersedia benar-benar membaca dengan seksama yang tertulis dari postingan dari pihak yang mereka anggap berseberangan dengan mereka. Namun hanya ‘membaca-baca’ pikiran dan pandangan pemilik status (hampir seperti paranormal). Lalu berkomentar menyerang.

Dalam perjalanan spritual saya di dunia maya, hampir seluruh perdebatan disosial media bahkan sampai unfriend atau blokir di dunia maya (semoga tidak di dunia nyata) berawal dari kedua hal diatas yaitu ; (1) Malas membaca [tuna baca] (2) lebih suka ‘membaca-baca’ daripada membaca benaran.

Maka dari itu sejak setahun belakangan saya sangat hati-hati untuk membagikan sebuah link atau tautan selain karena menjamurnya media online yang tidak kredibel tentu juga karena dua hal yang saya sebutkan diatas. Kalaupun sekali-kali menyebarkan tautan biasanya saya menghindari yang berhubungan dengan politik dan agama. Karena dua topik ini yang paling banyak diperdebatkan baik yang memang sudah berkompenten sampai yang masih awam sangat gatal untuk berkomentar sedangkan maqom saya belum sampai kepada dua topik tersebut.

 

Padang, 19 Safar 1439.

 

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close