Iqra’ Bacalah

Terjadinya perdebatan antara Pro dengan Anti PKI/Komunis akarnya hanyalah masalah hobbi, ya hobbi.. maksudnya hobbi atau kegemaran yang sering ditanyakan waktu sekolah atau data yang sering harus dilengkapi saat mengisi formulir akademis.

Kalau kita masih setiap mengisi formulir dalam dunia pendidikan dan akademisi selalu ada kolom hobbi.
Hampir bisa dipastikan 50% atau lebih mengisi kolom tersebut dengan Baca atau membaca selebihnya ada yang mengisi : Renang, Badminton, Sepakbola,Basket, Camping, Mendaki Gunung, Melukis atau musik.

Membaca. Ya membaca sebagai pelajar, siswa sampai mahasiswa memang harus dan kudu wajib “membaca”. Tapi apakah benar hobbi “membaca” atau di paksa “hobbi membaca” ?
Membaca adalah kegiatan aktif dengan berusaha mendapatkan bacaan sendiri dengan meminjam diperpustakaan atau membeli jika punya uang. Sedangkan mereka yang dipaksa ‘hobbi membaca’ bersifat pasif hanya membaca buku yang diwajibkan oleh Guru atau Dosen.

Lantas kenapa terjadi perbedaan dalam mensikapi issu komunis/PKI?
Kalau bagi Rumi (Jalaluddin Rumi) agama adalah cinta sedangkan bagi Karl Max Agama adalah candu. Dan Hatta pernah berucap ” selama dengan buku kalian boleh penjarakan aku dimana saja”.

Sehingga mereka tidak pernah puas dengan buku-buku yang didapatkan dari sekolah atau Kampus yang diwajibkan oleh Guru atau Dosen. Mereka akan mencari buku sampai kepasar buku loak atau bagi yang berkantong tebal mencari buku hingga ke sampai ke Belanda atau yang Paling Terkenal Frankfurt Book Fair di Jerman. Karena memang di luar negerilah terutama Belanda perpustakaan yang paling lengkap untuk mengetahui sejarah Indonesia. Hingga akhirnya mendapatkan “buku-buku yang terpinggirkan” pada rezim Orde Baru.

Berbeda dengan mereka yang dipaksa ‘hobbi baca’ mereka sudah puas dengan yang didapatkan dari guru disekolah.
Buku-buku sejarah yang dipelajari disekolah sudah diformalkan oleh rezim Orde Baru dalam mata pelajaran PSPB, PMP/PPKN, film “Dokumenter” Janur Kuning, serangan fajar 1 maret atau Pemberontakan Gerakan 30 S/PKI yang wajib ditayangkan setiap 30 september.

Sekali lagi perbedaan dalam mensikapi issu ini hanyalah perbedaan literatur yang kita baca. Mereka yang pro menggunakan literature buku-buku sejarah yang terpinggirkan sedangkan mereka yang kontra membaca buku-buku sejarah yang diformalkan oleh rezim Mbah Harto.

Anakku Alwi bukankah ayat yang paling pertama turun di gua Hira’ berbunyi Iqra‘. Baca ! bukan bicara.
Pada dasarnya banyak orang anti ini-itu karena tidak paham. Hal yang tidak terpahami adalah ancaman dan itu menakutkan. Semilir angin yang menggerakan daun bambu dianggap Harimau yang siap menerkam. Karena dengan membaca dapat menghilangkan rasa takut
Maka teruslah membaca !
Engkau kurangi bicara !
Hindarilah berdebat !, karena Iman Syaf’i pernah berkata “Debat hanya akan mengeraskan Hati.

Anakku sikap yang paling bijak untuk saat ini kembali ke pepatah lama “setelah makan jengkol hendaklah diam karena diam adalah emas”.

Bumi 06° 10′ LS 106°49’ BT,
Hari ke-7 Sya’ban 1437.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close