FASHION DAN INTERAKSI LAWAN JENIS

Dalam urusan fashion saya memang kalah jauh dari dia. Dari jejak sejarah yang saya temukan pose saya paling keren saat seumuran dia adalah berkaos oblong dan celana pendek di pematang sawah dengan ketapel menggantung dileher. Saya mengenal celana panjang setelah kelas lima atau enam SD sedangkan kemeja lengan panjang kalau tidak salah setelah masuk perguruan tinggi. Bahkan hingga saat ini pun dalam selera berpakaian saya memang ketinggalan tiga putaran dibanding dia ibarat Rio Haryanto yang tertinggal jauh dibelakang Kimi Raikonen.

Semenjak kecil dia memang sangat memperhatikan penampilan terutama pakaian. Jangan harap jika malam hari mau diajak ke Indomaret atau beli nasi goreng di seberang blok tanpa mengganti baju tidur yang sudah dikenakannya selepas sholat magrib dengan pakaian yang menurutnya pantas digunakan untuk keluar rumah.

Saya selalu repot dan sering masbuk setiap kali sholat isya di Masjid karena harus menunggu dia mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian muslim untuk ikut sholat ke masjid.

Begitupula setiap sabtu atau minggu untuk bermain badminton dia selalu mengganti pakaian tidurnya dengan pakaian olahraga walaupun main dijalan depan rumah.

Dulu sebelum masuk TK, dia TPA pagi, isi tasnya selain buku Iqro’ dan buku tulis juga ada parfum. Yang katanya obat anti bau’.

Namun dalam hal interaksi dengan lawan jenis saya belum mau angkat bendera putih. Walaupun tidak termasuk tipikal seperti Don Juan, setidaknya di usia kelewat matang ini, keberadaan dia cukuplah sebagai bukti saya bisa menaklukan hati seorang wanita.
Tapi bagaimana dengan dia?
——————————————————–

※Al Husna awal Nopember 2016

“Siapa nama teman perempuan yang duduk disebelah kamu?”, ujarku sambil mengambil tasnya.

“Tak tahu”, balasnya sambil mengangkat kedua bahu.

“Sudah berapa lama kalian duduk bersebelahan di kelas?”, tanyaku lagi

“Sejak senin, nasib baik besok jum’at terakhir duduk sebelah dia”, terangnya.

“Kenapa?, kok kamu tidak senang duduk bersebelahan dia”, desakku.

“Saye tak suka berteman dengan perempuan, dia pemarah juga”, balasnya.

“Kok begitu, galak bagaimana”, tanyaku penasaran.

“Malas berteman dengan perempuan. Berisik, barang-barang dia sering ditaruh di meja saya, giliran barang saya tak sengaja tergeser ke meja dia, dijatuhkannya ke lantai”, terang dia dengan bersemangat.

“Jadi siapa namanya?”, aku mencoba mengulangi lagi.

“Tak tahu”, ujarnya enteng sambil berjalan kerah motor.

Belakangan baru saya tahu dari gurunya bahwa; dia sengaja diposiskan duduk bersebelahan dengan perempuan karena selalu ngobrol jika duduk dengan laki-laki.

※Rumah medio Nopember 2016

“Bun, tau tak?, tadi disekolah Azmi dihukum”, terangnya sambil melepas sepatu.

“Bikin ulah apalagi?”, timpal ibunya.

“Dia buat pesawat kertas, lalu ditulisnya satu nama laki-laki dan satu perempuan, pakai tanda love”, terangnya lalu menegak air mineral yang masih tersisa di botol minum.
Lantas menyebutkan beberapa nama temannya secara berpasangan.

“Namamu ditulis juga?”, tanya ibunya.

“Iya”, balasnya.

“Sama siapa?”, desak ibunya.

“Emmmm, tak tahu”, jawabnya dengan enteng.

Saya yang dari tadi menguping dari kamar menimpali.
“Masa sudah empat bulan sekolah belum hafal juga nama teman?”.

“Iya, saya tak tahu”, jawabnya

“Setiap pagi ada absensi, nama semua murid di panggil guru”, balasku.

“Nama saya nomer dua dipanggil, selepas itu saya tak memperhatikan lagi”, ujarnya membela diri.

——————————————————–

Like father like son, pepatah wong londo ini mungkin tepat untuk mejalaskan kenapa dia sangat kaku berinteraksi dengan perempuan dan bahkan untuk meyebutkan nama pun dia enggan. Atau barangkali dia masih memegang erat tradisi Jazirah Arab bahwa ; laki-laki hanya menyebut nama perempuan saat akan mengkhitbah(melamar) sedangkan dia belum pantas untuk itu. Masil cindil.

Al Albana~Seorang Ayah~

Pondok Aren, 23 Nop ’17

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close