Pulang

Dari ruang kokpit terdengar suara co pilot menjelaskan bahwa pesawat telah berhasil take off. Bagi penumpang yang berkepentingan dipersilakan menyalakan lampu, menutup jendela atau merebahkan sandaran kursi. Secara perlahan pilot terus menambah ketinggian hingga mencapai 33.000 kaki. Bersamaan dengan pesawat semakin naik saya terus menukikan pandangan ke bawah. Memandangi belantara Batavia yang ditumbuhi oleh gedung-gedung pencakar langit serta jalan-jalan yang mengular. Semakin jauh, semakin mengecil lalu hilang tak terliat. Pemandangan di luar jendela berganti dengan Gunung Salak mandi cahaya matahari pagi. Bayang-bayang puncaknya jatuh memanjang di atas awan. Di ketinggian ribuan kaki, bayangan itu membangun aneka imaji ; Kenangan masalalu dan harapan masa depan.

***

Perlahan-lahan dan penuh kepastian waktu telah menelan usiaku. Tanpa kusadari perjalanan ini kian jauh dari tujuan. Rasanya baru kemarin aku berlari ditengah rumput hijau, menggenggam sejumput asa di belantara tembok-tembok gedung pencakar langit Batavia, berjubel-sesak di sela asap knalpot yang bertebangan terbawa angin. Berhamburan menaiki kopaja dan bis kota. Bergegas menaiki anak tangga peron agar tidak ketinggalan comuterline. Melaju di beriringan dengan parade pekikan klakson dan umpatan pengendara di jalanan. Satu persatu mimpi itu kugapai dan genggam erat, kudekap, sebagian terlepas dari tangan. Hanya tersisa satu, yakni pulang.

Tak ada masa yang perlu disesali. Sebab jarum jam tak pernah berputar ke kiri, matahari tidak bergerak ke Timur. Aku harus bersegera melangkah, walau ditengah jalan tersandung oleh kebodohan. Setidaknya aku masih menyadari jarum jam itu selalu berputar ke kanan.

Kalaupun aku harus memutar haluan hidup, ke arah kiri, itu sama artinya aku membuka baut yang sudah terpasang atau aku berpikir jarum jam berputar terbalik. Walaupun baut yang telah dibongar tadi dipasang kembali, kekuatanya tidak akan pernah sama. Apa guna aku memutar baut yang telah kokoh tertancap.

Begitupun mimpiku, apa gunanya aku mengumpulkan mimpi yang sudah terserak. Sementara ditanganku ada mimpi yang harus diperjuangkan. Lebih baik aku mencari kapal untuk pulang. Masih adakah kapal untuk ku?.

Selama tiga belas tahun melangkah, baru kali ini aku merasa tersesat. Aku kira ini surga, rupanya hanya dunia. Tempat dimana kebimbangan selalu menghantuiku.

Seharusnya aku tidak boleh meragukan ‘kapten kapal’ (bisikan hati) yang membawaku pulang. Semestinya aku tidak usah takut dengan ombak yang menerjang. Karena perjalanan hidup ini adalah perjuangan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close