Alzheimer

Bundamu sering memperingatkanku untuk berhenti berdebat atau meributkan apa pun di Facebook. Sebagai orang yang telah hidup bersamanya lebih dari delapan tahun dan mengenalnya dua puluh tahun tentu, saya maklum pada ketidaksukaannya. Ia orang yang hidupnya lurus-lurus saja. Saat masih mahasiswi, ia tipe penggembira alias tim hore dan itulah membuatnya bisa diterima oleh ‘geng’ manapun. Elektabilitasnya jauh melampaui saya.

Jadi, soal Facebook ini, saya telah banyak mengikuti sarannya. “Kunci kebahagiaan rumah tangga itu cuma satu: selama tidak prinsipil, ikuti istrimu!”. Itulah nasehat bijak Ustadz yang pernah saya dengar pada suatu acara pernikahan sepupuku Gerry dan Afni dua tahun silam dan saya berusaha mengamalkannya.

Bundamu Nak, ia adalah penunjuk jalan kita. Dalam arti seluas-luasnya. Walaupun dia sering kebingungan membedakan antara stasiun Kebayoran dengan Kemayoran, atau Purwakarta dengan Purwokerto. Akan tetapi dia tak pernah salah dalam membedakan mato aie dengan anak aie atau lubuak kilangan dengan lubuak bagaluang. Tapi itu dahulu. Dahulu sekali.

Hebat! Dia juga bisa memasak apa pun dan enak, selama ada resepnya di google. Dan tentunya menu masakan dari daerah manapun pasti dia tambahkan cita rasa padang. Saya mengelarinya koki ATM (amati,tiru, modifikasi) dalam hal memasak. Kamu pasti tidak lupa bahwa sampai saat ini saya belum pernah kebagian mencicipi steak buatannya, karena saking enaknya selalu kehabisan olehmu.

Hari ini sebelas Januari
—————————-

Saya akan tuliskan sebuah cerita. Karena cuma ini yang saya bisa kasih.

Ceritanya begini. Waktu saya kecil, saya duduk di serambi rumah Ayah tuo (kakek) dan Uwo (nenek) ku tentu saja kakak dan nenek buyutmu. Saya memang biasa main di situ, karena rumah Uwo berdekatan dengan rumah kami. Saya sering menemani Uwo.

Ayah tuo belum pulang dari sungai kecil dekat rumah. Kakek buyutmu ini umurnya sudah sekitar 80-an tahun waktu itu, tapi dia selalu sholat subuh,zhuhur dan ashar di sungai dengan mandi terlebih dahulu sebelum sholat.

Saya ingat sore itu, Ayah tuo terlambat pulang dari shalat ashar. Biasanya sebelum magrib dia sudah sampai dirumah.

Namun, sebelum Uwo cemas, Ayah tuo sudah muncul dari ujung jalan dengan tongkatnya.

Sesampainya di depan rumah, Ayah tuo tidak berbelok masuk. Ia justru memanggil Uwo

“Kamarilah, pulang kitolai…” kata Ayah tuo. Artinya kurang lebih, “kesinilah,mari kita pulang.” , sambil menunjuk arah yang bertolak belakang dengan rumah.

Uwo segera maklum. Ia turun dari serambi rumah dan menyambut Ayah tuo lalu menuntunnya masuk.

“Mau ke mana? Ini sudah rumah kita,” kata Uwo dalam bahasa minang.

Saat itu umurku 12 tahun. Dan itulah untuk pertama kalinya saya mengerti bahwa akan ada suatu fase, di mana manusia perlahan-lahan akan melemah memorinya. Tergerus sedikit demi sedikit karena faktor usia yang secara medis disebut alzheimer. Ingatan dan kenangan akan hilang. Ayah tuo saat itu mulai lupa pada rumahnya, lupa pada anak cucunya, bahkan pernah sholat subuh saat jarum jam baru menunjukan pukul 01.00 dini hari tapi, ajaibnya, ia tidak lupa pada Uwo, pada kekasih yang telah menemaninya menua.

Saya pikir, ia lelaki yang beruntung. Seandainya saya pun dikarunia kesempatan untuk ‘menua dengan anggun’ seperti itu, saya berharap hal terakhir yang disisakan di kepalaku adalah ingatan tentang Bundamu.

****

Al Albana, Andalas 11 Feb ’17

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close