KAMU HAMPIR BERNAMA ABDULLAH

Salah satu kewajiban seorang ayah adalah memberikan nama yang baik untuk anaknya. Maka dari itu bahkan sebelum kamu ada dalam rahim bundamu saya telah mempersiapkan nama untukmu. Terlebih setelah diagnosa seorang dokter muda yang perokok menyatakan bundamu positif hamil pada awal juli 2009.

Entah kenapa, saya haqul yakin janin yang masih berusia dua minggu adalah bayi laki-laki seperti yang saya inginkan sejak awal bahkan sebelum ada tanda kehamilan.

Berangkat dari keyakinan itulah saya tak mempersiapkan nama untuk bayi perempuan. Dalam pikiran saya nanti jika perempuan tinggal tambahkan akhiran ‘ah’ atau ‘iah’ dibelakang nama laki-laki yang sudah dipersiapkan, misalnya Alwi→Alawiah, Ali→Aliah atau Luthfi→Luthfiah.

Dalam memilih nama, sama seperti kebanyakan nama bayi yang lahir setelah mileneal kedua, biasa terdiri dari tiga kata, saya pun mengikutinya. Nama tengah dan belakang sudah mantap dalam benak saya dan saya yakin bundamu tidak sanggup menyanggahnya.

Namun berbeda dengan cara orang tua zaman sekarang dalam memberikan nama anak, biasanya dengan mencari kata-kata dalam bahasa asing, biasanya bahasa Arab, Latin, Japan, Rusia atau bahkan bahasa Hindi dan Urdu, namun tidak ada yang menggunakan bahasa Timbuktu atau Kepulauan Salomon, yang jika diartikan kedalam bahasa Indonesia mempunyai makna yang bagus, berupa keindahan,kebaikan atau harapan serta kekuatan. Namun saya cukup memberikan ‘nama saja’ biarlah tanggung jawabmu memberikan makna terhadap namamu sendiri.

Kembali ke soal nama, saya pernah mendengar ceramah seorang Ustadz saat acara khitanan tetangga kita sebelum kami lahir, bahwa menurut ajaran Islam yang melalui sunnah Rasullullah sebaik-baiknya nama adalah Abdullah dan Abdurrahman, atau nama-nama nabi seperti Ibrahim, Musa, Ismail dan lainnnya, atau nama Sahabat nabi dan orang Sholeh yang terdahulu seperti Omar, Ali, Hamzah, Utsman, Zubair, Usamah dan banyak lainnya. Ajaran Islam selain melarang memberikan nama yang buruk juga melarang memberikan nama kota atau tempat kepada anak, misalnya : Makkah, Madinah, Madain,Kuffah,Konstatinopel,Hebron , Allepo, Damaskus atau Basrah dan lainnya, kecuali untuk julukan yang mengacu kepada daerah asal seseorang, misalnya Syeikh Ahmad Khattib Al minangkabawy, Muhammad Nawawi Al bantani, hanya untuk menunjukan mereka beliau berasal dari Minagkabau dan Banten.

Maka dari itulah saya hanya memberikan nama yang baik untukmu. Setelah clear nama tengah dan belakangmu dengan anggukan tanpa ada usulan nama lain dari bundamu, berbeda dengan nama depanmu dalam hal ini mengalami diskusi dan perdebatan yang alot walaupun tak sesengit perseteruan Pilpres 2014 atau Pilkada DKI 2017.

Awalnya saya mengusulkan nama Abdullah untuk nama depanmu, alasannya selainnya sebaik-baiknya nama berdasarkan hadist rasullullah, saya juga sangat mengagumi beberapa orang sahabat Rasullulah yang bernama Abdullah, seperti (1) Abdullah bin Abbas (Ibnu Abbas), sepupu yang dididik sejak usia empat oleh Rasullullah dan cendikiawan yang banyak meriwayatkan Hadist dizamannya, (2) Abdullah bin Umar, putera Umar bin Khattab yang lebih memilih menenggelamkan dirinya dalam lautan ilmu dengan menghabiskan hidupnya untuk majelis ilmu daripada melibatkan diri dalam fitnah perang saudara antara Ali dengan Mu’awiyah selanjutnya antara Hussein bin Ali dengan Yazid bin Mu’awiyah, (3) Abdullah bin Zubair, ksatria pemberani yang terbunuh dan kepala dipenggal oleh Hujaij bin Yusuf-Gubernur Makkah, pada saat perang saudara antara Ibnu Zubair dengan Yazid. Ibnu Zubair pernah dipuji Umar karena keberaniannya berpapasan dengan Umar sedangkan anak-anak lainnya menghindar ketika masih kecil. (4) Abdullah bin Mas’ud, gembala kecil, seorang sahabat yang sangat zuhud serta banyak meriwayatkan hadist, (5) Abdullah bin Rahawah, penyair dan panglima perang yang sahid di perang Mu’tah, satu bait puisinya saat berhapan dengan jumlah dan kekuatan besar pasukan Romawi, yang kamu juga hafal, “inilah yang kita takuti (musuh dengan jumlah dan kekuatan besar) namun inilah yang kita cari(sahid di jalan Allah)”. Serta banyak lagi sahabat rasullullah dan tabi’in yang bernama Abdullah.

Apa yang terjadi?, walaupun tidak secara frontal bundamu Wisdawati Syafri menolak usulan ini, namun tetap bersikeras tidak mau dengan alasan nama terlalu kuno, nama orang zaman dahulu, tidak kekinian. Tentu saya maklum, sebagai bangsa inferior nama sebagai salah satu produk budaya dan peradaban akan selalu berubah-ubah dan mengalami kadarluasa seperti makanan dan bumbu dapat seperti alasan bundamu, ini sebagai akibat tidak terhadangnya budaya dari bangsa superior yang telah tinggi peradabannya. Cobalah runut nama-nama sejak zaman Sriwijaya, Majapahit, Mataram, Hindia Belanda, Era Jawanisasi (Soeharto) hingga saat ini. Nama-nama orang yangg mendiami kepulauan nusantara selalu berubah-ubah dan mengalami kadarluasa. Jika tidak percaya silakan! kalau berani beri nama putera anda; Kejo Ijo, Cindue mato, Malin Duane, Tukijan atau Partiyem. Berbeda dengan di Arab, nama Hamzah, Salman, Usamah atau di Eropa nama Phillip, William, Thomas sudah ada sejak dulu kala dan entah kapan ‘expired’.

Setelah beberapa kali mengusulkan nama depan untukmu namun tidak tercapai kesepahaman dengan dengan bundamu. Hingga suatu sore dalam perjalanan pulang dari kantor dengan mengendarai motor. Dibawah langit senja berwarna jingga yang menurutku indah sekali, diantara suara lantunan ayat-ayat suci Al qur’an yang dikumandangkan dari pengeras suara sebuah Masjid, percis didepan Toko material dan seberang Apotik sekelebat terlintas kata ALWI dalam benakku untuk nama depanmu.

Sesampai dirumah lalu saya usulkan nama itu kepada bundamu, “kalau Alwi saya setuju, nama yang bagus, bagus bangat”, balasnya dengan rona wajah yang sangat senang. Maka selesailah salah satu kewajiban seorang ayah ; memberikan nama yang baik untuk anaknya.

Alwi, jelas bukanlah sebaik-baiknya nama berdasarkan Hadist Rasullullah, dan tidak pula nama seorang nabi atau rasul, dan saya belum pernah mendengar atau membaca ; ada orang sholeh, sahabat nabi atau tabi’in serta pejuang dan cendikiawan Islam yang bernama Alwi. Bahkan satu-satunya tokoh yang bernama Alwi saya kenal adalah Alwi Shihab, namun saya memberimu nama Alwi bukan karena terinspirasi oleh beliau karena saya bukanlah pengagumnya.

Jelaskan nak, Abdullah dan nama-nama lainnya (nanti akan saya ceritakan) telah kalah dan Alwi telah menang. Apapun alasannya Alwi hanyalah sebuah nama yang terbaik menurut saya. Pernah seorang sepupu bertanya, kenapa saya memberi namamu Alwi, lantas saya jawab “saat dilafaldzkan ‘Alwi’ kedengarannya lembut, tidak keras atau kasar”, ini jelas sangat subjektif dan hanya menurut lidah dan kuping saya, orang lain belum tentu merasakan yang sama, karena bunyi adalah soal rasa. Seandainya alasannya kelembutan hati dan sikap pemalu, siapa yang bisa menandingi Utsman bin Affan.

Pahamkan sayang, kami hanya memberimu nama tanpa makna, maka selanjutnya silakan kamu beri makna, warna atau bahkan rasa.

TL;DR, bersambung ‘Ali pun dikalahkan Alwi’.

Peluk hangat Ayahmu, Andalas 06 Jumadil akhir 1438 H.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close