JOKOWI KAMBING NGEPOP[NGEVLOG]

Pagi tadi sambil menunggu anak makan sebelum berangkat ke sekolah, saya sempat menonton tayangan TV tentang vlog Jokowi terbaru. Jokowi mengunggah tentang kelahiran dua anak kambing yang lucu, peliharaannya di Istana Bogor.

Seminggu yang lalu, juga melalui TV saya menyaksikan cuplikan perform Iwan Fals di perhelatan Java Jazz Festival. Awalnya saya kaget dengan kehadiran seorang musisi Balada pada panggung Jazz.

Genre musik jazz sampai kini belum mendapatkan tempat di blantika musik tanah air, segmented, sepi peminat dan penikmat, setidaknya kalau dibandingkan dengan genre musik lainnya.

Seperti halnya dalam agama, para pengusung dan pengikut sebuah genre musik pun seakan punya kewajiban “syiar” untuk menyebarkannya. Memperluas jangkauannya.

Untuk strategi syiar jazz tersebut, Java Jazz Festival tidak melulu menampilkan musik yang serba jazzy, swing atau fussion, tapi kadang terkesan mengaburkan batas-batas musik jazz itu sendiri dalam konsepnya.

Sebagai contoh, dalam perhelatan tiga tahun yang lalu, Java Jazz 2014 tak segan menghadirkan grup unyu-unyu JKT 48.

Dan kali ini Iwan Fals hadirkan, tidak menutup kemungkian kita menyaksikan Bang Haji melantunkan lirik-lirik dakwah diiringi suara ketipung dan tiupan seruling di acara yang sama.

Bongkar Bang…!, Syiar, Dakwah Bang Haji…..!!!.

Seperti halnya Jazz, mungkin, ini mungkin lho, Jokowi ingin mendekatkan dirinya, atau memasyarakatkan ‘Jokowi’ , bisa juga memperluas segment kepada kelompok-kelompok yang masih menunjuk “Presiden mereka” atau “Presiden Kalian”.

Selain punya akun Twitter dan Facebook Jokowi juga suka ngevlog. Memang di era digital cara yang paling cepat dan mudah dengan jangkauan yang tak terbatas adalah sosial media. Ini adalah cara yang paling effesien dan effektif untuk memasyarakatkan Jazz, ups salah Jokowi. Saya setuju.

Tapi kenapa mesti memilih pelihara Kambing?, seharusnya Gubernur Jendral Hindia Belanda pelihara Harimau, Singa atau sekurangnya punya Istal Kuda di belakang Istana.

Kerenkan?, kalau Jokowi pelihara Harimau atau Singa kayak Raja-Raja Yunani, jika ada yang demo ajak berunding dikandang Singa. Atau sekurangnya pelihara Kuda agar bisa main Polo sama Pangeran William, atau kalau jalanan macet bisa memacu Kuda ke Hambalang karena Sepeda sudah dikasih kepada Raisa.

“Tapi, nganu e, bukankah hampir seluruh nabi pernah menjadi penggembala Kambing”, jawab Jokowi dalam salah satu dialog imajiner. Saya tersentak dan sadar bahwa selama ini Jokowi mencitrakan dirinya sebagai Kawula, mungkin dia lupa atau pura-pura lupa kalau sekarang sudah tinggal di Istana.

Kerumunan orang (Rakyat) adalah pasar. Generasi akan terus berganti. Menyiasati pasar harus dibarengi cara-cara kreatif yang ngepop kekinian. Adaptable.

Era Bung Karno, lukisan tangannya menghiasi dinding-dinding Istana. Zaman Pak Harto, kita bisa menyaksikan kegiatan Presiden kita lewat acara kelompencapir. Zaman Pak Beye, belasan tembang dan lirik lahir dari Istana. Lain halnya di jaman Jokowi sekarang ini, kita bisa melihat penangkaran kecebong dan kandang Kambing di Istana, sedangkan bagi kita penghuni jagad maya yang tak sempat berkunjung ke Istana juga dapat menyaksikan kegiatan Presiden lewat Vlog (postingan video di medsos).

Terlihat alay saat Presiden nge-Vlog?

Bisa ya, bisa tidak.
Jika ya, tertawakanlah selama hal itu bisa membuat kita bahagia sekalipun mentertawakan presiden (selama tertawa tidak kena pajak, ujar Mukidi ).
Jika tidak, setidaknya kita bisa tersenyum simpul bahagia melihat seorang Presiden yang ngepop kekinian.

Banyak cara untuk membuat kita bahagia, bukan?

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close