Waktu Mendesing Laksana Anak Panah

Serasa baru kemarin, anak ini dilahirkan. Serasa baru kemarin, dia mulai memanggil Bunda, merangkak dengan lutut goyah, lalu memberanikan diri untuk berdiri. Hingga akhirnya setelah berkali-bali jatuh dia berlari kencang, bersepeda, kemudian mengalahkan ayahnya berkali-kali dalam adu lari cepat. Seperti akhir tahun kemarin di Jogja-antara Bringharjo-Tugu.

Benar kata seseorang, waktu seringkali mendesing laksana anak panah. Banyak momen berlalu, banyak kebersamaan telah dilalui. Sebagai ayah, saya menyaksikan dirinya tumbuh dengan segala kemanjaan dengan hanya sedikit kenakalan. (Nakal boleh goblok jangan, ujar Ki Hajar Dewantoro)

Kepadanya saya sering berisik dengan berbisik, “Nak, seiring waktu kamu akan belajar. Bahwa hidup di dunia ini tidak selalu berisikan kenyamanan dan mendapatkan segala yang diiginkan. Sering kita merasa tidaknyamanan, karena berbagai alasan kita tidak mendapatkan yang kita inginkan, itulah kehidupan dunia, lain halnya di surga kelak. Namun melalui ketidaknyamanan dan segala keterbatasan itulah kita dapat merasakan betapa berharganya orang-orang di sekitar kita.”

Biarpun dia telah berusia tujuh tahun, dia akan tetap menjadi bocah kecil yang menggelendot manja di lengan dan di punggung ayah bundanya. Ah, andaikan waktu bisa dihentikan, saya ingin melihatnya tetap menjadi bocah kecil yang selalu minta dipeluk bundanya setiap ingin tidur . Namun saya juga sadar kalau dia adalah anak panah yang juga akan melesat untuk menggapai takdirnya. Dia berhak untuk melihat dunia, merasakan sejuknya udara pepohonan, menyaksikan daun-daun kering berjatuhan, mendengar gemericik air disela-sela bebatuan, menantang dirinya untuk sejauh mungkin berkelana.

Sebagai seorang ayah, saya hanyalah busur yang mengiringi lesatannya. Jika kelak dia ingin turun dari pebukitan rumah kita saya ingin membisikan pesan di telinganya. Bahwa saya akan selalu menjadi rumah kembalinya seusai berkelana di banyak medan kehidupan. Saya akan menjadi oase baginya untuk mereguk kasih sayang. Saya adalah tempat baginya untuk bercerita segala hal, tentang hal-hal biasa, hal remeh-temeh, hal menyeramkan, hingga hal-hal sederhana yang membuat kita sejenak tertawa lepas.
Saya akan menunggumu dengan secangkir teh lalu kita bermain catur menunggu langit jingga.

****

Al Albana, Andalas, 17 Maret 2017

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close