Ancaman Tsunami

Menyisir perjalanan sepanjang pesisir pantai Pariaman-Katapiang yang berjarak sangat dekat dari bibir pantai. Seakan-akan saya merasakan getar kecemasan warga pesisir pasca gempa besar 7,8 SR yang melanda pesisir barat Sumatera pada tahun 2009 lampau. Terlebih isu-isu yang bersileweran bahwa akan terjadi Gempa yang lebih dahsyat lagi yang sertai Tsunami akan menerpa pesisir Barat.

Hampir delapan tahun berlalu, alhamdullilah isu, prediksi dan analisa para pakar, entah apapun namanya tidak terbukti(semoga tetap tidak terjadi). Sekarang kehidupan kembali normal, orang-orang sudah mulai melupakan isu-isu tersebut. Masyarakat beraktifitas normal, para nelayan kembali melaut, petani bercocok tanam.

Lihatlah sepanjang jalan akan mudah ditemukan hasil panen para petani berupa buah-buah Tropis seperti ; Semangka, Kelapa Muda, Buah Naga, Bengkoang bahkan Air tebu berjejeran sepanjang jalan. Hasil tangkapan nelayan sebagian diolah menjadi peganan lalu di jajakan di pinggir jalan seperti ; rakik udang,rakik kepiting, rakik cumi dan sala lauk.

Melintasi Ulakan khayalan saya melayang kepada tokoh yang diyakini sebagai peyebar Agama Islam di Minangkabaw, Syeikh Burhanuddin(1646-1704), Saya membayangkan beliu melakukan pengkaderan di surau-surau pesisir ini kemudian para murid menyebar dataran tinggi.

“Adaik manurun, sara’ mandaki”, adagium yang diyakini orang minang.

Syukron Syeikh, melalui perantaraanmu kami anak nagari Minangkabau mendapatkan nikmat terbesar dalam hidup yaitu Islam dan Iman.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close