ON THIS DAY SEVEN YEARS AGO

Hari ini, tujuh tahun lalu. Pada sebuah klinik bersalin yang tidak jauh dari Tugu Simpang Haru arah ke Timur. Saya sudah lupa berapa jumlah rakaat sholat Dhuha yang saya selesaikan dipagi itu kemudian dilanjutkan dengan memanjatkan do’a-do’a agar kamu dan Bundamu Wisdawati Syafri diberikan keselamatan dan kemudahan dalam proses bersalin.

Nasib baik, Bundamu terhindar dari ‘kesesatan pemahaman’ bahwa; kesetiaan seorang suami pada keberadaannya saat proses melahirkan. Kalau seandainya iya, alamak, matilah awak, lha bagaimana tidak, melihat gunting dan pisau operasi saja di TV, tangan saya lansung reflek mengganti channel.

Adalah melalui seksio sasarea kamu dibantu oleh dokter berhasil keluar dari rahim bundamu setelah 34 minggu berdiam disana, dengan berat 2.800 gram dan panjang 47 cm. Setelah saya mengumandangkam azan di kupingmu, lalu hari itulah saya memproklamirkan ‘hari Ayah’ setidaknya untuk diriku sendiri.

Hingga hari ini, dirimu satu-satunya harapan kami untuk mendapatkan do’a anak yang sholeh setelah malaikat Izrail memisahkan roh dari jasad kami nantinya. Terlalu banyak harapan yang kami sandarkan di bahu kecilmu. Terlebih Bundamu yang sering mengekpresikan secara verbal.

Kamu masih ingatkan?, setiapkali berangkat sholat Magrib ke Masjid, Bundamu sering berpesan, “Jangan lupa do’akan agar kita sekeluarga dikumpulkan Allah di Syurganya”, atau kadang selepas sholat, “Ada dido’akan Bunda selalu sehat dan diberikan umur panjang agar dapat mendampingimu hingga punya cucu nantinya”.

Diantara harapan Bundamu yang paling berkesan bagi saya adalah ketika kamu masih usia empat tahun. Saat menyaksikan tayangan adzan Magrib di TV dengan visualisasi seorang anak kecil menziarahi makam ibunya dengan menyiramkan air diatas pusara kemudian diakhiri dengan do’a. “Jika Bunda sudah meninggal nanti akankah kamu sering do’akan seperti anak kecil itu?”, tanya Bundamu. “Anak tak mau Bunda meninggal, jangan tanyakan itu lagi “, jawabmu sambil menutup mulutnya dengan tangan kecilmu.

Sebagai seorang ayah tentunya saya juga punya harapan yang tidak kalah besar dibanding Bundamu. Seperti yang sudah sering kita bicarakan menjelang tidur. Namun kali ini saya tidak akan menguraikannya disini, saya tidak tega bahumu yang kecil menahan segunung harapanku.

Cukuplah empat hal saja yang saya tuliskan disini ;
1. Setelah hari ini, saya sangat ingin melihatmu menangis sesegukan penuh penyesalan di sudut kamar karena bangun kesiangan sehingga terlambat sholat shubuh. Jika ini terjadi saya akan berfikir ulang atau setidaknya menunda untuk membeli seikat lidi seperti yang sering saya janjikan sebelum ini.
2. Dalam hidupku, sebelum Allah mengutus malaikat maut kepadaku. Entah dimana atau kapan waktunya, saya memohon kepada Allah dan berharap kepadamu, agar suatu masa, saat mengangkat kepala menjawab salam dari Khotib Sholat Jum’at dirimu yang berada diatas mimbar.
3. Jika telah datang waktunya malaikat Izrail menjalankan tugas untuk memisahkan roh dari jasad. Besar harapan saya sekiranya kamu disampingku dan menuntunku dalam mengucapkan kalimat Tauhid.
4. Sama seperti harapan Uwomu kepadaku, Saya juga berharap agar kamu menjadi imam dalam Sholat jenazahku nanti, lalu kamu berdiri memintakan maaf dan kerelaan orang-orang atasku sebelum keranda diusung.

Terakhir sebelum menutup tulisannya saya hanya mengingatkan diri sendiri bahwasanya seorang anak bukanlah copy paste dari diri sendiri dengan segala macam tambal sulam atas kesalahan atau kekeliruan orangtua pada masa silam. Orang tua yang hebat adalah mereka yang dapat membantu putera-puterinya dalam menggali potensi diri (bakat) anaknya bukan memilihkan jalur kehidupan yang ia disukai untuk anaknya.

Saya rasa cita-citamu saat ini menjadi Diplomat atau Arsitek sama hebatnya dengan menjadi Dokter Bedah di Palestine atau Wartawan Perang di daerah konflik. Saya bersyukur hingga hari ini kamu tidak berminat sedikitpun pada dunia militer sama seperti saya dan Bundamu.

Peluk cium Ayahmu, Andalas,08 Rajab 1438

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close