Dakwah Akhlak

Saya punya seorang teman atau boleh juga dibilang sahabat. Dalam ilmu agama beliau memang jauh lebih dibandingkan saya. Bayangkan saja diakhir kuliah ia sudah tidak berjabat tangan untuk bersalaman dengan muslimah non muhrim. Padahal hal semacam ini disaat itu dalam lingkungan kami belum lazim.

Setelah tamat kuliah saya berkunjung ke rumahnya, saya sempat kaget namun saya sudah menduga sebelumnya, ia menggunakan gamis dengan celana tidak isbal dagunya sudah ditumbuhi jenggot walaupun sangat jarang.

Saya sangat salut dengan semangat dalam menerapkan syariah Islam, setiap kali bertemu selalu topik pembicaraan seputaran ghiroh islam. Saya lebih sering mengiyakan dengan menganggukan kepala jarang menimpali apalagi membantah karena saya selain yang disampaikannya adalah haq dan lagipula saya tak punya ilmu untuk mengimbangi pembicaraannya. Terkadang terlihat tidak seperti diskusi tapi sedang bermonolog dihadapan saya.

Setelah menetap beberapa tahun di Jakarta saya mendapat khabar dia juga hijrah ke Jakarta, saya sangat yakin dia yang selalu menceramahi saya untuk hijrah dari riba tidak mungkin hijrah ke Jakarta karena mengikuti saya.

Alhasil kami semakin sering bertemu walaupun hampir semua pertemuan atas inisiatif dia tapi selalu saya yang datang ke tokonya di pusat kawasan Tekstil Jakarta. Bahkan sampai saya balik ke Padang dia tidak pernah berkunjung ke rumah saya selain hanya janji-janji.

Walaupun saya selalu menjadi bulan-bulanan dakwahnya karena mencari nafkah dari riba namun saya selalu mendatanginya. Seperti yang sudah-sudah dakwah yang kaku tanpa melihat uzur keadaan, saya hanya bisa mengiyakan dengan menganggukan kepala.

Pernah suatu hari saya berkunjung ke tokonya, karena keasyikan ngobrol jadi terlambat keluar dari parkiran mobil. Sehingga untuk turun dari parkiran lantai tiga, mesti naik dulu hingga top roof,sedangkan jalur turun lansung sudah ditutup oleh petugas.

Disinilah saya melihat antara akhlak dengan ilmu tidak serta-merta bersinergi lansung. Dengan alasan repot naik hingga top roof dia membelokan mobil memasuki jalur naik namun digunakan untuk turun. Seorang petugas parkir menegurnya tapi dia malah lebih galak dengan alasan klasik terburu-buru. Lagi-lagi saya hanya tersenyum heran.

Bukankah Rasullukah 13 tahun kenabian di Makkah untuk dakwah akhlak, sedangkan 9 tahun kenabian di Madinah barulah turun ayat yang berhubungan dengan syariat.

****

Al Albana, Andalas, 7 April 2017

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close