Bahasa Penanda Kelas

Setiap suku pasti merasa suku mereka yang paling unggul dan terkadang sebagian dalam kadar tertentu sampai mengecilkan suku lain. Hampir seperti doktrin agama atau pilihan politik di era pemilihan lansung, terutama jika berbicara dengan orang yang berada diluar meraka. Meskipun tak dipungkiri jika bicara internal mereka tidak sedikit mengkritisi adat-budaya dari suku mereka sendiri.

Tak terkecuali etnis Minang yang mendiami sebagian besar Sumatera bagian Barat hingga Tengah, mulai Sikilang-Aie Bangih di Utara hinggo Taratak Aie Hitam-Bengkulu, dari Durian ditakuak Rajo berbataasan dengan daerah Muaro Bungo-Jambi hinggo Sialang Balantak Basi daerah Rantau Barangin,Kampar-Riau juga mengalami ‘Ultrasukuisme’ seperti ini.

Bahasa sebagai salah satu pilar dan penanda suku-budaya seharusnya segaris dengan kebanggan terhadap suku, namun dalam hal ini terjadi anomali terhadap Suku Minang. Pengamatan Subjektif saya mereka (suku Minang) sangat bangga sesuku dengan Hamka, Hatta, Natsir, Agus Salim dan seterusnya yang telah mengharumkan nama Suku Minang di Panggung Perjuangan Kemerdekaan Indonesia namun mereka (terutama kelas menengah) saat ini mulai merasa malu menggunakan Bahasa Minang.

Belasan tahun silam, sebelum meninggalkan Kampung-Halaman, Ranah-Tapian menuju Batavia, Bahasa Indonesia hanya digunakan sebagai Bahasa Pengantar di Sekolah hingga perguruan tinggi, bahkan kadang agar lebih mudah dipahami guru lebih sering menggunakan bahasa minang dalam menyampaikan materi pelajaran. sedangkan dalam pergaulan di lingkungan sekolah dan kampus hingga urusan birokrasi di kantor pemerintah hampir seluruhnya menggunakan Bahasa Minang.

Bahkan beberapa siswa dan mahasiswa yang berasal dari luar daerah akan mengalami kendala dalam komunikasi hingga mereka mampu berbahasa Minang.

Kini setelah belasan tahun saya kembali ke kampung-halaman, apa yang terjadi?, bahasa Minang mulai tergeser. Jika anda masuk swalayan atau Mal pramuniaga akan meladeni anda dengan Bahasa Indonesia, jika anda mampir ke kafe di akhir pekan riuh gelak tawa remaja dengan Bahasa Indonesia akan memenuhi gendang telinga. Cobalah datang ke gerai Makanan cepat saji anda akan jarang sekali mendengar, ” apo pasan da?” atau “bara kanai ambo sadonyo?”.

Namun jika anda yang suka ke Pasar tradisional, berinteraksi dengan kaum buruh dan petani hampir tidak merasakan ‘pandemik malu berbahasa Minang’ masih seperti dulu. Walaupun ada beberapa kosa-kata yang sudah jarang dituturkan seperti ; rangik berganti nyamuk, gulo-gulo berganti perment, kuhue berganti batuk dan banyak lainnya.

Ini lagi-lagi pengamatan subjektif saya, Bahasa Minang mulai ditinggalkan oleh kelas menengah. Mereka sangat serius terutama untuk anak-anak agar tidak bertutur dengan bahasa Minang. Meskipun terkadang saat memarahi anaknya lebih sering dengan Bahasa Minang dan terkadang Kakek-Nenek yang sudah ngelotok Bahasa Minang juga terpaksa Berbahasa Indonesia dengan cucu.

Saya berburuk sangka, jika di acara pesta atau arisan kelas menengah, semua yang hadir orang minang atau dapat berbahasa Minang, namun jika anaknya bicara bahasa Minang mungkin muka orangtuanya akan merah padam bahkan lebih malu daripada rendang yang alot mental ke meja sebelahnya.

Selain semangat kembali ke syariat Islam yang sedang booming di Indonesia termasuk Ranah Minang pasca Reformasi, alasan lain yang membuat sebagian orang tua kelas menengah enggan mendaftarkan anaknya di sekolah negeri adalah faktor bahasa. Sekolah negeri yang bukan unggulan, hampir seluruh percakapan di luar kelas dengan Bahasa Minang, inilah momok yang menakutkan bagi sebagian orang tua kelas menengah. Sehingga ibu-ibu yang sering berucap, “nggak ada doh” atau “yang dimuka itu a” memilih memasukan anaknya di sekolah Islam Terpadu. Dan mengantar anak-anaknya mengaji di Rumah Tahfizd dari pada di Surau atau Masjid dengan bahasa pengantar Bahasa Minang dan bergaul dengan anak kampung yang suka ngomong kurang ajar dan kotor.

Nah, termasuk penulis status ini, ditulis oleh putera Minang tulen, di Ranah Minang serta ditujukan kepada Orang-orang berdarah Minang namun tidak menggunakan Bahasa Minang. Tapi tenang kalau sudah mahir saya tidak hanya menulis status dengan Bahasa Minang Aksara Latin namun akan menulis status Bahasa Minang Aksara Melayu.

Al Albana, Padang 22 Safar 1439

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close