MEMPERHALUS BAHASA

Lebih setahun yang lalu, selama kurang lebih enam bulan setiap hari saya melewati di gedung KPK dikawasan kuningan. Setiap kali melihat keatas membaca tulisan KPK perpaduan warna hitam-merah-hitam dalam hati saya membatin, kenapa memakai istilah Korupsi?, bukan maling?, atau kenapa tidak garong, istilah yang telah mengakar kuat dalam benak masyarakat Indonesia.

Beberapa hari yang lalu, kasus penganiayan yang menimpa penyidik senior KPK Novel Baswedan. Sebagian politisi lebih tepatnya simpatisan atau tim hore politisi mencoba mencari peruntungan politis dari kebiadaban ini alangkah tindakan tercela yang memalukan.

Patutnya momentum itu perlu dipakai untuk merenung persoalan korupsi dari mulai hal yang sepintas sangat kecil dan tidak penting, padahal menurut saya ini sangat penting. Persoalan istilah. Persoalan bahasa.

Apakah istilah untuk lembaga yang mengurusi urusan segawat itu diambil begitu saja?, menggunakan istilah korupsi, bukankah istilah korupsi terlalu prestisius bagi masyarakat yang tidak paham bahasa asing? tanpa menusuk ke sanubari masyarakat atau tidak mencengkeram secara psikologis, tanpa mengakar ke dalam pikiran publik .

Seandainya istilah maling atau garong terlalu vulgar untuk kejahatan kerah putih seharusnya ada istilah lain yang tidak seprestisus korupsi namum juga tidak sekasar Maling.

Apalagi sekarang dipopulerkan istilah ‘rasuah’. Bahasa politik itu bukan bahasa gaya-gayaan. Bukan untuk eksperimen penyuka bahasa yang keganjenan. Bukan untuk menampung kegenitan para editor bahasa dan munsyi. Kalau judul film atau novel bolehlah gaya-gayaan biar enak didengar.

Untuk hal genting begini yang telah menggerogoti bangsa ini hampir lumpuh. Malah kita memberi gincu bahasa, jangan salahkan masyarakat kalau mereka tidak terlalu antipati dengan apa yang selalu disebut sebagai: koruptor. Kata itu, termasuk juga korupsi tak punya akar kuat di jagat batin masyarakat.

Mari kita ingat sudah berapa banyak kita memberi gincu untuk mendandani bahasa seperti ; lapas untuk penjara, wanita penghibur untuk lo**e, selingkuh untuk zina, dan lain sebagainya.

****

Al Albana, AAndalas 15 April 2017

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close