PRAGMATIS-OPPORTUNIS

Susah untuk dibantah bahwa NU memang lebih toleran dibandingkan Muhammadiyah, sama sulitnya untuk tidak percaya bahwa NU memang cenderung lebih politis dibandingkan Muhammadiyah yang lebih konsen kepada pemberdayaan umat terutama dibidang pendidikan dan kesehatan.

Pertanyaannya, Benarkah untuk bertahan di panggung politik yang mahal dan mewah memang harus ‘over toleran’?, yang hanya berjarak sepersepuluh milimeter dengan sikap pragmatis dan opportunis seperti yang dilakukan oleh beberapa partai Islam pada pilgub putaran kedua DKI Jakarta minggu lalu.

Mengenai boikot beberapa Partai Islam karena telah melukai hati umat, saya rasa wajar. Namun perlu diketahui juga bahwa ; kebijakan Partai tidak bulat, tidak baku dan tidak me-nasional, sehingga kebijakan partai setiap daerah berbeda-beda, lagi-lagi tergantung kepada situasi dan kondisi di medan laga. Bisa saja di Jakarta PPP mendukung calon yang diusung PDI-P namun pada Pilkada didaerah lain PPP berkoalisi dengan Golkar untuk menghadang laju calon dari PDI-P. Bahkan saat ini PKS sedang menjajaki koalisi dengan PDI-P pada Pilkada Kota Bekasi tahun depan. Artinya jangan terlalu mudah mensimplikasikan masalah, lalu mengeneralisasi.

****

Al Albana, Andalas 25 April 2017

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close