Politisi

Seperti hal pelatih sepakbola liga-liga Top Eropa, seperti Coah Morinho, Pep Guardiola, Don Carlo, Arsene Wanger dan lainnya, profesi politisi juga tidak jauh dari hiruk-pikuk puja-puji dan caci maki. Seolah-olah puji dan caci hanya satu tarikan nafas yang berebut saling mendahului dari penggemar dan pemuja mereka.

Meskipun sering dihujat, saya sering merasa salut terhadap kedua pelaku profesi ini terlebih kepada politisi. Mereka punya nyali yang berbeda dari manusia kebanyakan seperti kita. Berantem keras, lalu rekonsiliasi. Tapi tak lama kemudian, berantem lagi. Baik sesama politikus dalam satu partai, maupun berbeda partai. Bahkan kadang secara fisik mulai berebut bicara (berebut mic) sampai saling gebuk di dalam ruang sidang . Lalu reda. Musuh bisa jadi kawan, bisa jadi musuh lagi. Kawan bisa jadi musuh, bisa jadi musuh selamanya. Ucapan pagi hari ini bisa berbeda dengan sore kemarin. Dan itu biasa saja, tanpa malu seperti kita.

Sering mereka dibuli di media masa apalagi di media sosial bahkan sampai di boikot. Tak cukup hanya itu, bahkan , anak-istri mereka juga sering dijadikan sasaran bulian. Sepertinya politisi adalah orang-orang yang dilahirkan khusus dengan ‘mental baja’ atau ‘tebal muka’ sedemikian rupa sehingga sanggup menjalani kehidupan dengan berakrobat di panggung panas dunia politik yang menentukan nasib rakyat.

Kadang saya berpikir, mereka orang-orang hebat. Namun lebih sering saya berpikir mereka orang-orang yang suka(tega) menyakiti diri sendiri dan orang lain. Tapi, ya terlepas dari segala kontroversi: mereka hebat, berbeda dari kita.

Politisi, itulah profesi orang hebat yang membutuhkan mental sekeras baja dengan tingkat stress yang tinggi. Sedangkan profesi yang paling rendah tekanan (stress)-nya mungkin seniman, sastrawan, budayawan. Berbeda dengan politisi yang bekerja untuk hajat orang banyak sedangkan kelompok ini berkerja untuk kepuasan diri sendiri.

Namun yang membuat saya penasaran, seniman (artis), kenapa banyak yang bunuh diri ?, bukankah seniman kerja tanpa presure dan hanya untuk kepuasan(kesenangan) diri sendiri. Kemudian yang menjadi tanda tanya, tahanan politik (tapol) kebanyakan bukan politisi tapi sastrawan dan budayawan. Kalau politisi masuk bui karena ‘rusuah’ itu wajar.

Jangan-jangan mereka sedang menyamar, politisi sebenarnya adalah seniman yang mencari materi untuk kepuasan diri sendiri, sedangkan seniman,sastrawan dan budayawan yang benar-benar memikirkan rakyat banyak dan orang susah.

Nah, kalau Ahmad Dhani. Politisi atau Seniman?

****

Al Albana, Padang, 1 Mei 2017

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close