AKAL ANTARA FUNGSI INTUITIF DENGAN IMAJINATIF DAN MANIPULATIF

Biasanya kami membahas Naruto terlebih dahulu, lalu mengakhirinya dengan membaca do’a sebelum tidur. Namun, malam itu saya memcoba untuk mengalihkannya dari Manga Naruto yang telah membuatnya melupakan kisah-kisah teladan para pejuang Islam.

Malam itu saya mengawali dengan sebuah pertanyaan yang sangat philosophis: “mengapa manusia, spesies bipedal yang tak dilengkapi senjata alamiah seperti tanduk seperti rusa, cula seperti badak, taring mencuat seperti Harimau dan Singa, ataupun cakar yang tajam seperti Beruang, Bisa yang mematikan seperti Ular, kaki yang dapat berlari kencang seperti kuda, bisa mendominasi spesies lain?”

“Karena manusia punya akal,” kata sahabat kecilku, yang tampak tiga derajat lebih ganteng malam itu karena saya tidak menduga ia bisa menjawab.

“Kalau sekadar punya akal,” kataku sembari menghirup “sampayang” hangat primata seperti monyet juga punya.

“Terus bedanya apa?”, katanya menimpali sambil menggunyah dendeng.

“Itu beda. Pada hewan, akal berfungsi secara instingtif untuk sekadar bertahan hidup dan kawin,” ujarku,

“Yang menjadi pembeda” desaknya.

“sedangkan akal pada manusia adalah perangkat imajinatif yang fungsinya tak hanya untuk mempertahankan diri, tapi juga memanipulasi dan menciptakan teknologi pembaruan”

Lalu aku menjelaskan penggunaan api sebagai senjata ampuh pertama manusia, yang dengannya manusia tak cuma mampu memasak dan menghangatkan diri dan menerangi malam, melainkan juga menghalau hewan-hewan di rimba raya. Kadang-kadang juga membunuhnya.

Imajinasi dan sifat manipulatif pula yang membuat manusia bisa menciptakan korek api dan roket ke bulan.

Itulah jawaban pertanyaan tadi: imajinasi. Sesuatu yang tak sekadar membuat manusia menguasai rantai makanan, melainkan juga membuat manusia mampu menjadi spesies paling mengagumkan di jagat raya. Nomor dua, maksudku, setelah alien.

Oh, ya, alien jelas paling mengagumkan. Jika kamu tak mampu mengapresiasi pencapaian teknologi mereka, yang mencakup kendaraan antargalaksi bebas emisi dan kemampuan merebahkan batang-batang gandum dari ketinggian tertentu dan membentuknya menjadi simbol tertentu, tentu kamu mampu membayangkan makhluk berinteligensi macam apa yang menempuh jarak ribuan tahun cahaya hanya demi menjadi misteri, atau sensasi.

Tapi, sebelum kutuntun ia ke membaca do’a sebelum tidur, satu pertanyaan tiba-tiba muncul: jika manusia ditakdirkan sebagai khalifah, pengelola bumi, maka kenapa manusia gemar sekali menciptakan benda-benda yang kemampuan terbaiknya adalah menghancurkan bumi? Dinamit, misalnya.

“Ya ampun, nak, bumi ini, tanpa atau dengan bantuan manusia, akan hancur juga, kan? Itulah tugas utama manusia: memastikan kehancurannya berjalan di jalur yang benar dan lebih cepat.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close