GRUP WHATSAPP

Salah satu penyebab yang membuat saya meninggalkan Grup WhatsApp adalah sebagian besar kontennya tidak sesuai dengan tujuan, tema dan nama grup. Di grup-grup WhatsApp sebagian besar berisi opini politik, kebijakan publik, medis alternatif, motivasi, tausiah agama bahkan kadang disampaikan dengan cara yang garangnya bukan main. Setiap pesannya adalah pernyataan perang. Tidak siang tidak malam, kalimatnya senantiasa penuh kebencian, kedengkian, hasutan dan amarah.

Ia tak peduli, grup-grup itu ada untuk menjalin kenangan yang pernah dijalani bersama saat belajar atau saat tinggal di satu tempat di suatu masa.

Dalam kegarangannya itu, ia juga tak henti memberi petuah tentang kehidupan, tentang jalan yang sesungguhnya bila hendak menuju surga seolah-olah ia telah memegang kunci pintunya, tentang dunia yang sementara dan manusia yang terlena.

Orang-orang yang tak senang berdebat dan bertikai melayaninya dengan guyon dan sebagian meninggalkan grup tersebut, supaya tidak terjadi perdebatan biarlah terputus silaturahmi di dunia maya agar tetap terjaga di dunia nyata.

Satu dua yang mencoba memberi bantahan, akan dibalasnya dengan aneka kutipan, copy and paste, dan tautan-tautan dari situs antah-berantah. Ia begitu terlatih mencomot kabar-kabar muslihat, gambar-gambar yang dicocokkan, dan seruan-seruan chauvinist tentang diri dan kelompok yang mengenggam kebenaran sejati dan janji kejayaan.

Sungguh, saya tak paham dari mana gerangan energi untuk itu didapatkannya. Dalam kalimat penuh kedengkian, perbedaan yang selalu ia tonjol-tonjolkan di antara kawan sendiri, ditemukannya kebahagiaan.

Menengok profilnya di media sosial(facebook), di padang belantara dunia maya yang lebih luas tak berbatas , tak ada tulisan panjang milik sendiri. Hanya celetukan ringan tentang keluarga, meme, share berita kekisruhan politik, foto makanan. Di medan yang teramat luas itu tak tersisa kegarangan seperti di antara kawan sendiri di grup WhatsApp.

Mungkin ia lebih senang berseteru dengan kawan sendiri di grup WhatsApp ketimbang menjadi jagoan di belantara dunia maya yang luas tak berbatas.

Mereka menjelma menjadi Motivator menggantikan Mario Teguh dan menyaingi Tere Liye, mereka berlomba-lomba menjadi juru dakwah mensejajarkan diri dengan Yusuf Mansur, Arifin Ilham atau Aa’ Gym, mereka telah menjadi Pakar Politik dan Kebijakan Publik seperti Ichsanudin Nursi dan Effendy Ghozali, mungkin juga mereka telah menjadi pakar medis alternatif seperti Ratu Givana dan Jeng Anna, sebagian lagi menjadi pakar parenting seperti artis yang tidak berhasil mengendalikan berat badan pasca melahirkan. Sekali mereka bercanda dengan cela-celaan namun garing seperti acara fesbuker, inbox dan dahsyat yang digemari oleh ABG alay kalau lawakannya kayak Andre dan Sule’ mendingan.

https://m.facebook.com/story.php?story_fbid=1967859783458888&id=1500884650156406

~alwi albana~pengguna WhatsApp tapi bukan penyuka WhatsApp group.

Kategori Esai

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close