Perihal Left Group Whats App

Buat Sahabat-sahabat Saya Alumni TK 95.

Jika disederhanakan pada dasarnya manusia dalam hidup ini selalu bergerak dari titik ‘ketidaknyamanan’ menuju titik ‘nyaman’. Bertolak dari itulah manusia bermigrasi mulai dari pindah domisili dari satu kota menuju kota lainnya bahkan sampai antar negara dan benua. Itu pulalah yang terjadi pada saudara-saudara kita di daerah konflik Timur Tengah, meraka bukan hanya mencari rasa nyaman tapi rasa aman. Sebagian lagi hanya cukup berpindah kantor (perusahaan) atau pindah profesi. Saya telah mengalami kedua jenis migrasi (hijrah) tersebut.

Inilah kenyataan dunia nyata, namun pada dunia maya hakekatnya sama, sama-sama mencari kenyamanan, nyaman dengan segala sesuatu yang menarik baginya, nyaman dengan apa-apa diminatinya, terganggu dari segala sesuatu mengusik ‘kenyamanan’. Kita harus sadar setiap manusia adalah pribadi yang unik yang punya minat dan ketertarikan yang berbeda begitu pula reaksi dalam mensikapi ‘ketidaknyamanan’ yang dirasakan.

Menurut saya setidaknya ada 4 tipikal manusia dalam merespon ketidaknyamanan dalam bersolialisasi dunia maya ; (1) Orang yang suka berkonfrontasi akan meresponnya dengan mengcounter (membantah) sebagian dengan cara santun dan lebih banyak dengan cara yang tak pantas sehingga sering berakhir dengan pertikaian. (2) Orang yang punya sense of humor selalu punya cara dengan mudah membelokan topik yang tidak disukainya dengan canda sehingga tidak terjadi perselisihan, (3) mereka tidak suka berkonflik cenderung menghindar akan menarik diri dari hiruk pikuk perdebatan, (4) mereka sudah mencapai maqom sempurna dalam bersosialisasi dalam dunia maya meresponya dengan diam lalu mengambil hikmat atas segala yang tidak disukainya.
Karena saya bukanlah tipikal orang pertama dan kedua namun belum mencapai maqom sempurna seperti level ke empat maka yang paling tepat bagi ‘lelaki pendiam penempuh jalan sunyi’ adalah menarik diri. Dengan harapan silaturahni di dunia nyata tetap terjaga dan semoga saya dapat mencapai maqom sempurna dalam bersosialisasi dunia maya.

Ceritanya begini, beberapa hari yang lalu saya ditarik kedalam sebuah grup WhatsApp, tidak beda dengan grup WA lainnya, content dan info yang dibagikan tidak relevan dengan tema, nama bahkan tujuan grup dibuat. Seperti biasanya yang sering saya lakukan setelah beberapa hari tidak ada yang ‘Progresif Radikal’, misalnya setiap minggu ada quiz tentang pelajaran kuliah masa lalu, pemenangnya mendapatkan voucer nonton, makan malam gratis di restaurant Bernama milik Sugiarno. Mendapatkan Jaket dari Sadri Wendi, atau Bakery dan Cake merk Cantika dari Yane Wahayu. Namun setelah beberapa hari saya perhatikan sama saja seperti grup-grup WA lainnya yang sudah saya tinggalkan. Maka alam bawah sadar saya menuntun jemari yang dengan bantuan mata menekan tombol ‘exit group’.

Sebagai lelaki yang bertanggungjawab tentunya ada kewajiban moral yang harus saya sampaikan alasan meninggalkan grup tersebut. Namun bagaimana caranya jelas saya tidak dapat menyampaikan klarifikasi melalui grup tersebut, walaupun beberapa hari sebelumnya saya telah meninggalkan gelagat akan ‘exit grup’.

Keesokharinya setelah selesai sholat subuh, saya memberikan klarifikasi melalui dinding akun facebok, setelah menulis kurang lebih satu jam dengan memikirkan segala macam pertimbangan agar tidak menyinggung perasaan sahabat-sahabat terbaik, dengan beberapa kali pengeditan, tambal sulam dan sensor yang berulang-ulang, akhir saya publish.

Berdasarkan informasi seorang ‘agen yang tak berbayar’, status facebook saya dicapture lalu dibagikan di WA grup yang baru saya tinggalkan, sebenarnya ‘Wagu’ juga karena status facebook itu bersifat umum untuk semua group WA yang saya tinggalkan tapi saya akui pemicunya adalah grup WA yang terakhir.

Mereka sahabat-sahabat terbaik merisak saya atas keputusan meninggalkan grup tersebut, ketika saya tanya lebih lanjut siapa saja oknum yang merisak saya, ia keberatan, hanya memberikan menjawab ringan, “sebagian besar Bapak-Bapak”. Saya kaget, biasanya kaum hawa yang senang bergosip, lihatlah ’emak-emak’ bergunjing dipinggir sungai sambil mencuci dengan suara setengah berbisik namun mulut dimonyong-monyongkan, bahkan ada yang sampai jatuh di pematang sawah dengan bakul berisi kain setelah dicuci saking asyiknya ‘bergunzing’, (just internezo, ingat dan kangen film Indonesia tempo doeloe) . ini kok wong lanang. Beberapa saat saya baru sadar semuanya terjadi bukan di dunia nyata namun di dunia maya, semua serba terbalik dan sah-sah saja, dan nalar saya yang pendek tak akan dapat mencernanya.. Lagi pula seorang laki-laki wajar menjadi bahan gunjingan laki-laki pula, kalau yang mengunjingkan saya wanita, ‘menteri keuangan’ saya bisa sewot.

Sampai detik ini saya tidak percaya sahabat-sahabat terbaik merisak saya di grup WA, bagaimana bisa grup yang setiap menit membagikan tausiah penyejuk jiwa, setiap detik berbagi motivasi kiat agar sukses menjalani hidup dunia terlebih akhirat, grup yang dihuni oleh sahabat-sahabat terbaik saya tega bergunjingkan sahabat terbaiknya pula (klaim sepihak).

Mereka hanya iseng, sesaat karena sedang. kehabisan bahan untuk dibagikan di Grup yang menurut petunjuk ‘Mbah Gambrong’ trafik lalu lintas pesan harus tinggi, tidak boleh jeda lebih dari lima menit, maka jadilah saya bahan diskusinya.

Mata bathin saya melihat, mereka saat berkomentar negatif tentang saya bukan dari hatinya, dari penerawangan jarak jauh saya menyaksikan, saat jemari mereka menari di keypad tubuh mereka justeru mendongak kebelakang agar dada (hati) mejauh dari gawai yang sedang menulis komentar tentang saya. (“Jangan percaya bozz, mungkin saja mereka mengalami rabun dekat karena telah > 40 tahun, sehingga harus menjauhkan objek untuk membaca-mengetik pesan dengan jelas”, ujar Jin nakal yang coba mempengaruhi prasangka baik saya, “ooalahh, tahu apa kamu tentang niat manusia, makhluk terbaik ciptaan Allah”, balas saya sambil mengusirnya dengan ayat kursi.)

Mereka adalah sahabat terbaik saya belasan tahun lalu, pelbagai suka dan duka selama lima tahun kami lewati, mana mungkin saya melupakan kalian dan memutuskan silaturahmi, sebutlah nama ;
1. Hendry Mayz, pria bijak laksana Krisna asal Tambangan-Padang Panjang, yang telah saya klaim secara sepihak sahabat terbaik saya di jurusan Teknik Kimia dan selama belasan tahun menaklukan keras dan kejamnya belantara Batavia. Selainnya itu beliau saya daulat tanpa sepengetahuannya sebagai ‘guru spritual’, beliau guru tanpa mengurui, mengajar dengan perilaku bukan lisan. Saya banyak belajar darinya; menjadi anak yang sholeh untuk ibunya, menjadi adik yang patuh pada kakaknya, menjadi ‘Mamak’ yang bertanggung jawab untuk keponakannya yang piatu, menjadi sahabat yang baik bagi temannya yang “dhuafa” (suka berbagi rokok waktu kuliah dan kamar kostnya menjadi rumah singgah, tempat berlindung sementara bagi teman yang belum dapat tempat menginap di Batavia).
Bagi sahabat-sahabat yang ingin mengambil hikmah (ilmu) untuk merubah laku dekati beliau, ikuti langkahnya, perhatikan diamnya, karena ia memang tidak pernah memberikan petuah(wejangan) walau diminta sekalipun. Bagi akhwat yang belum berpasangan silakan!, siapa tahu beliau punya keinginan poligami. (Untuk kalimat terakhir efek samping diluar tanggung jawab penulis).
Salah satu dari sekian banyak alasan saya mendaulatnya menjadi ‘guru spitual’ adalah cara di sholat menurut saya sempurna; sangat khusu’, raut wajah dan gerakan bibirnya saat melafalkan bacaan sholat menunjukan seolah-olah ia memang sedang berbica dengan Allah, tuma’ninah antar gerakannya sangat tenang menunjukan seakan-akan benar-benar menikmati rangkain aktifitas sholatnya. Beliau senang membaca buku, kebanyakan buku-bukanya tentang pensucian jiwa. Saya sering meminjam bukunya namun sebaliknya dia seingat saya tidak pernah meminjam koleksi buku milik saya, mungkin ia tidak tertarik karena sebagian besar buku milik saya, buku-buku sejarah dan Pemikiran Islam, Teori Konspirasi. Melihat dari bacaannya dulu saya menduga beliau akan menjadi Sufi di usia 40-an, maka dari itupulalah saya curiga kebiasaannya selalu menggunakan sandal gunung (setahu saya ia tidak pernah menggunakan sandal lain) adalah sebagai bentuk persiapan menjalani hidup kelak di lereng Singgalang atau Merapi jika kelak menjadi Sufi.

2. Bris Skr, pemuda yang saya duga bule dari Irlandia, saat pertama kali mengenalnya Kampus Ulang Karang pada masa penataran P-4 masih menjadi momok yang membosankan bagi mahasiswa baru. Pria yang pesonanya tidak hanya membius gadis remaja hingga nenek jompo, bahkan untuk saat ini saya berpesan kepadanya untuk tidak datang dulu ke tempat fitness jika ingin aman dari lirikan pria berotot. Tarung Drajat dan Basket sudah lebih dari cukup untuk menjaga kebugaran tubuhnya yang tinggibesar.
Saya angkat topi untuk kekuatannya menghadapi tekanan. Beliau selalu mengulur-ulur waktu untuk mengerjakan tugas dari dosen bahkan tugas wajib yang menjadi syarat untuk ikut ujian juga diserahkan detik-detik menjelang ujian, tidak terlihat kepanikan diwajahnya, bahkan masih santai-santai sambil belajar main gitar dan bercanda. (Apakah dalam dunia kerja beliau masih memperlakan hal yang sama?). Dulu saya tidak yakin beliau berbakat jadi engineer, saya menduga beliau akan lebih tepat di Fakultas Ekonomi yang dikelilingi oleh mahasiswi-mahasiswi agresif. Namun setelah beberapa kali bertemu di Batavia dan beliau menstimulus memori saya tentang pelajaran masa kuliah yang telah lama saya lupakan, terlebih saat ini ia telah membuktikan diri menjadi engineer. Sahabat kita ini sangat loyal dan royal, bagaimana tidak beliau tidak pernah bermasalah dengan keuangan sebagaimana Mahasiswa lainnya, terutama anak kost, jika kehabisan uang tinggal jemput ke salah satu toko kerabat Bapaknya daerah Permindo di Belakang Bioskop yang selalu memutar film India, saya sudah lupa namanya. Saya sedikit heran, dengan tampang Ok dan postur yang tinggi besar serta dukungan financial yang cukup kuat mestinya ia mamfaatkan untuk menggaet beberapa mahasiswi, namun setahu saya pacarnya cuma satu, jadi beruntunglah pasangannya saat ini beliau lelaki setia.

3. Kepala suku kita, Yose Rizal, tabik ketua, permintaan pertemanan kepada ketua di facebook sudah hampir ulang tahun kedua, mohon konfirmasinya.
Kita tidak salah ‘mandahulukan beliau salangkah, maninggikan saranting’, elekbilitas beliau tinggi disamping itu kemampuan negosiasi dan diplomasinya menjadi nilai plus sebagi kepala suku. Saya masih ingat berkat hasil lobby beliau pada Semen Padang, kita dapat membeli jersey Tim Nas Teknik kimia 95 yang berwarna hijau.

4. Irkhaswandi, fisikawan-Religius yang saya duga dapat meneruskan cita-cita Habibie jika mendapatkan kesempatan. Pria yang selalu tersenyum walaupun ekpresi wajahnya selalu terburu-buru dan sedikit agak panikan, lama sudah saya tidak bertemu dan mendengar khabarnya,mungkin sudah lebih sepuluh tahun. Terakhir saya mendapat khabar menjadi walinagari, ini profesi yang tepat untuk beliau, dimata saya beliau punya jiwa leadeship yang menonjol, namun entah alasan apa beliau tidak salurkan saat kuliah. Semoga saya punya waktu dan dan kesempatan menyisir dan men’sweeping’ daerah Gadue-Pauh Kambar untuk menemukannya. Pasti sangat mudah menemukannya, jika saya dapatkan beliau sedang melakukan pertapaan suci, akan saya hancurkan kuilnya lalu menyeretnya ke keramaian agar dapat memberikan pencerahan bagi kita terutama Alumni TK 95. Oh, ya sebagai bocoran, dulu sewaktu kuliah beliau selalu menggunakan celana bahan dan kemeja lengan panjang tanpa digulung bahkan di sampai tidur juga digunakannya, suatu hal yang tidak lazim untuk cuaca kota Padang yang panas tidur dengan kemeja dan celana panjang. (Jika sudah berubah saat ini tolong dikonfirmasi ya Iwan). Sebagai sesama putera Pariaman saya akan menunggu ada nama beliau di kertas suara untuk Pariaman-1. ‘Pariaman Bersyariah’, tagline yang akan saya berikan untuk beliu jika saya menjadi bagian Tim Sukses beliau.

5. Sadri Wendi di pundaknya saya sandarkan tanggung jawab untuk menasehati sahabat-sahabat saya Alumni Teknik Kimia wa bil khusus Sasura Syasura Hendra (piis da Hen bagarah). Status yang sudah panjang ini, rasanya tidak cukup untuk menceritakan kenangan dan kesan yang kami lewati bersama, baik di kota Padang maupun Batavia. Butuh satu status khusus untuk mengenang kisah kami, nanti di hari kesetiakawan nasional saya akan khususkan menulis status untuk beliau. Sebagai bocoran, ia sedikit (banyak) panikan. Bertolak belakang dengan Bris Sukarni

6. Syasura Hendra, pria flamboyan ini, saya yakin tidak hanya saya saja yang banyak kenangan dengannya. Saya Haqqul yakin hareem lebih banyak mengenangnya.
Saya pernah diajak beliau ke daerah puncak guna survey beberapa villa yang akan dijadikan acara outing kantornya, saat waktu masuk waktu ashar kami mampir di salah satu masjid di bilangan Puncak untuk menunaikan kewajiban sholat Ashar, kami melakukan sholat sendiri-sendiri, tidak berjamaah, saat akan mengakhiri sholat dengan salam, entah jin apa yang menganggu saya, salam pertama harusnya wajah dipalingkan ke kanan, saya malah sebaliknya. Al hasil saya mesti mengulang sholat lagi, beliau tertawa menyaksikannya. Dan beliau pulalah yang mengenalkan saya dengan gemerlap kehidupan malam Batavia, ia mengajak saya ‘anak kampung’ ketika itu menikmati kerlipan lampu HardRock Cafe Jakarta.
Sudah sejak setahun yang lalu beliau meninggalkan kantornya dan beralaih profesi menjadi Photographe. Entah apa sebabnya, mungkin ‘kuliah’ dari Sadri Wendi yang gencar dan bertubi-tubi tanpa memberi ‘ancik’ untuk segera meninggalkan riba, atau diam-diam mengikuti langkah saya dengan dengan anggun menalak riba, atau barangkali beliau sedang menuntaskan dendamnya karena ketika remaja tidak berhasil menjadi model. ‘”Tak bisa jadi fotomodel, menjadi tukang photo model juga tak apalah”, gumamnya, sambil membersihkan lensa kamera, pada suatu petang di studionya daerah Kalibata.

Ingin rasanya menuliskan satu-persatu namun ini sudah terlalu panjang, saya takut kalian ketiduran sebelum sampai baris terakhir.
Mohon maaf atas sahabat yang belum saya tulis disini untuk kali ini.

Tabik,

Alamin Dolorosa||Si tukang kaba||

Padang 12 Syawal 1438.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close