DARAH MUDA DAN PENGABDIAN

Seorang pemuda yang setapak lagi akan memasuki hiruk pikuk panggung politik. Yang memang telah memaksanya ikut serta memikirkan nasib bangsa ini sejak dalam rahim ibunya. Atas nasehat ayahnya, ia tetirah ke kampung halaman orang tuanya di ‘negera angin’ untuk menenangkan diri sesaat, mengisi paru-paru dengan udara segar, membasuh wajah dengan tetesan embun yang tersisa di ujung daun dan sambil memikirkan gebrakan awal sebagai penanda langkah awal kaki menginjakan kaki di paggung politik.

Pagi itu, selang beberapa langkah ia menginjakan kaki memasuki areal persawahan, sekelebat melihat ada bayangan yang melintasi diatas kepalanya dan ikuti suara, ‘alwi, wi, … alwi…wi…wi..wi…’.
Semula ia tak menghiraukan dan berfikir, mungkin bayangan sekumpulan bangau sedang melintasinya dan suara itu hanyalah gesekan rumpun bambu tertiup angin, ia terus berjalan.

‘Alwi…wi, alwi…wi…wi…,’ suara itu semakin jelas dan nyata, membuat langkahnya berhenti.

“Siapa, suara siapa?, siapa dirimu?”, balasnya tanpa ada rasa takut.

“Saya suara, suaramu”, jawab suara itu, tetap tidak terlihat wujudnya.

“Tidak mungkin, saya adalah saya dan dirimu bukanlah aku”, bantahnya lagi.

“Apakah engkau ingin melakukan suatu perbuatan baik untuk negerimu?”, tanya suara itu.

“Iya, pasti, semua pemuda pasti punya keinginan untuk memperjuangkan untuk kemajuan bangsanya”, jawabnya dengan yakin.

“Mulia, sungguh mulia cita-citamu anak muda”, puji suara itu masih tanpa wujud.

“Apa bekal yang telah engkau siapkan untuk memperjuangkan negerimu?”, tanya suara itu.

“Saya punya tekad, saya punya semangat dan niat yang ikhlas”, jawabnya penuh semangat.

“Apalagi?”, desak suara itu.

“Saya masih muda, baru itu yang saya miliki”, jawabnya membela diri.

“Anak muda, jangan kau pikir, niat yang ikhlas, semangat yang membaja, tekat yang kuat cukup untuk berjuang di panggung kebangsaan yang tengah oleng dan hampir tenggelam ini”, papar suara itu.

“Tapi ini keadaan sudah gawat kalau kami yang muda tidak berbuat bisa bubar negara ini,saya mesti melakukan sesuatu”, balasnya penuh semangat.

“Dengarkan anak muda, berjuang butuh ilmu karena perlu strategi untuk memenangkan perperangan, dan ingatlah anak muda bahwa pertempuran selalu dimenangkan oleh orang-orang yang tenang dan sabar, bukan grasa’-grusu’ membabibuta, begitu pula perang dalam panggung politik”, jelas suara itu.

“Lantas apa yang dapat saya berikan untuk bangsa ini?”, kali ini dengan penekanan suara yang mulai mereda.

“Anak muda ketahuilah, mereka yang menghabiskan waktu berjam-jam di laboratorium untuk penelitian, atau yang menghabiskan waktu hingga larut malam membalik lembar demi lembar buku di perpustakaan juga tengah berjuang untuk negeri ini”, suara itu menjelaskan.

“Kok bisa,bukankah mereka melakukan untuk menyelesaikan skripsi atau tesis sebagai syarat wisuda? Bukan untuk bangsa dan rakyat”, desaknya dengan penasaran.

“Anak muda kamu tahu penemu jam digital sebagai penunjuk waktu sholat yang ada di Masjid?”, tanya suara itu.

“Tidak, kenapa?”, balasnya.

“Saya juga tidak tahu namanya, tapi saya percaya penemunya adalah seorang mujahid”, jelas suara itu,

“Kok bisa?”, balasnya heran.

“kamu tahu penemu vaksin malaria?”, timpal suara itu lagi.

“Ya, jelas tidak saya kan masih kecik, cari di ‘mbah google juga tidak ada”, balasnya penasaran.

“Siapapun nama mereka penemu jam digital penunjuk waktu sholat atau penemu vaksin malaria, atau penemuan lainnya yang telah memberikan sumbangsih untuk kemajuan peradaban manusia di bumi ini, mereka adalah pejuang (mujahid) dan di ganjar jannah jika mereka ; (1) Beriman kepada Allah dengan tidak menyekutukan-Nya, (2) Ikhlas karena Allah. Mereka telah melakukan ‘jihad tekhnologi, jihad medis, jihad ekonomi dan lain sebagainya”, jelas suara itu dengan rinci.

“Sumbangsih apa yang dapat berikan, untuk orang yang belum punya ilmu seperti saya ditengah kondisi bangsa yang kacau ini?”, tanyanya penuh harap.

“Menantu nabi, Ali bin abu Thalib pernah berucap [andai saja orang yang bodoh (tidak berilmu) itu diam, tak bicara, niscaya tak akan ada perbedaan pendapat (fitnah) diantara kita], “papar suara itu, lalu menghilang.

Dengan langkah lemas ia meninggalkan areal persawahan sekaligus mengakhiri tetirah yang semula direncakan tiga hari dan ia kembali kepada ayahnya, lalu mengutarakan akan membatalkan rencananya terjun ke dunia politik serta berjanji untuk belajar (menuntut ilmu) dengan sungguh-sungguh.
“Itu lebih baik” balas ayahnya sambil menutup halaman buku yang tengah dibaca, lalu mengajaknya sholat di Masjid sesaat setelah azhan magrib berkumandang.

PS ; status ini terinspirasi setelah ngobrol dengan salah seorang sahabat yang siap maju pada Pileg 2019 pada acara reuni dua hari lalu.

~Alwi Albana~Seorang Ayah.

Padang, 14 Syawal 1438 H.

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close