GAMIS DAN HIJAB SYAR’I DITENGAH PUSARAN SENTIMEN IDENTITAS

Saya sering heran (bercampur geli) kepada mereka yang sinis melihat orang-orang yang bergamis, tidak isbal (cingkrang) surban, atau hijab syar’i dan cadar. Mereka–orang-orang sinis itu–yang membangun perpektif sendiri bahwa orang yang bergamis, surban dan hijab syar’i adalah orang-orang yang punya pengetahuan agama lebih tinggi begitu pula dengan keimanan, lalu pada saat bersamaan mereka juga membangun prasangka buruk sambil ‘ngedumel’ ; “ahh, sok alim, paling cuma luarnya saja”, atau “jangan sok suci dong!”. Sinis dan mencibir. Aneh memang orang-orang seperti ini.

Jika kita menengok ke kebelakang, masa peralihan abad 19-20. Sinisme seperti halnya terhadap gamis,surban atau hijab syar’i dan sejenisnya yang terjadi saat ini juga terjadi terhadap pakaian-pakaian yang kita gunakan saat ini pada masa itu, misalnya celana panjang, kemeja, sepatu dan topi pat.

Mereka yang beranjak kepada pakaian ala ‘Londo’ pada saat itu, dengan meninggalkan pakaian tradisional dianggap telah tercerabut dari akarnya, bahkan dianggap murtad budaya. Seorang pria yang meninggalkan beskap mengganti dengan kemeja, melepaskan kain jarik beralih ke celana panjang atau mengganti destar (blangkon) dengan topi pat dianggap telah melepaskan ‘kejawaan’ dengan menjadi ‘totok’ atau sok ‘Indo’, bahkan sampai dituduh telah meninggalkan keislaman mengikuti kepercayaan yang dianut penjajah. Toh, akhirnya saat ini kemeja, celana panjang, sepatu ,topi pat bahkan jas yang dulu dianggap budaya luar yang tidak sesuai dengan nilai lokal menjadi keseharian bagi kita semua.

Bahkan pelajar STOVIA yang telah mendapat pencerahan dari peradaban barat (kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi) juga dilarang menggunakan pakaian yang dulunya hanya boleh digunakan oleh orang-orang kulit putih. Ya. Pakaian seperti yang kita sekarang. Abdoel Muis pernah dihajar hingga babak belur oleh pamong karena mengenakan kemeja dan celana panjang serta sepatu yang masa itu tidak boleh digunakan oleh pribumi.

Saya salut dengan jawaban Salman Al Jugjawy yang dulu dikenal dengan nama Sakti, ex punggawa Sheila On Seven saat wawancara di salah satu stasiun Tivi beberapa waktu silam.

“Jadi kenapa Anda berpenampilan seperti ini? Ada tujuan tertentu atau gimana?” tanya mbak host tivi.

Salman menjawab sambil mengelus gamis panjangnya.

“Mmm gini mbak. Saya tidak mengatakan pakaian ini lebih baik, lebih suci atau semacamnya. Tapi kalau orang-orang pakai jins dan kemeja tampak keren atau merasa keren, maka pakaian seperti ini (jubah) pun bisa keren, kan?, setidaknya menurut saya”

Saya terkesan dengan jawaban itu. Terus terang, pakai gamis dan surban bukan selera saya. Tapi cara Salman menjawab pertanyaan Host Tivi menurut saya smart sekali. Bahwa itu bukan perkara merasa lebih suci dan lebih benar. Melainkan semata: kalau yang itu (pakaian eropa) bisa keren, yang ini (pakaian Arab) pun bisa keren. Masalah selera.

Budaya punya dua fungsi. Pertama, sebagai warisan yang perlu dikonservasi (lindungi). Kedua, sebagai strategi dalam penentrasi. Kalau kita menempatkan budaya semata sebagai warisan, maka kita cuma melulu pasif, dan berposisi sebagai recipient alias konsumen. Namun kalau kita menjalankan budaya sebagai strategi, kita berposisi aktif, dan peran kita bukan lagi recipient, melainkan aktor.

Jika memang apa yang Salman sampaikan itu secara konsisten ia jalankan, Ia menjalankan strategi kebudayaan berupa pakaian gamis dan jubah dalam rangka counter atas budaya arus utama (yang selama ini kita lahap dalam posisi kita sebagai recipient), tanpa klaim-klaim kebenaran dan kesucian. Ini adalah budaya tanding.

Kalau jins, kaos, tanktop dan celana pendek, atau bisa menjadi budaya massa milik dunia saat ini maka produk kebudayaan lain pun selalu punya kesempatan yang sama untuk bertarung di ajang ini. Tak ter kecuali pakaian muslim atau sebagian menuduh Arab style. Terserah.

Mari kita bersaing, baik yang melakukan konservasi (melindungi) budaya lokal ataupun yang melakukan strategi (penetrasi) budaya luar tanpa ‘klaim kesucian’ baik yang pro maupun yang kontra.

Bisa?

Ya mesti bisa, mudah kok. Jika sampean berpapasan dengan ikhwan bercelana cingkrang dengan gamis serta surban bangun perspektif yang sama saat bertemu dengan selebritis idola sampean yang bercela jogger pant dan topi ala cowboy.

~Al Albana~

Padang, 17 Syawal 1438.

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close