PEREMPUAN DI RUANG PUBLIK

Sebagai seorang pengikut ‘Mahzab Tengah’ tentulah tidak ‘mutlak-mutlakan’ dalam mensikapi segala sesuatu, apalagi isu sensitive. Isu tentang boleh tidaknya seorang isteri membantu suami mencari nafkah.

Seiring berkembangnya kapitalisme dunia global yang mau tak mau melibatkan perempuan ke ruang publik karena sumber daya manusia dari jenis kelamin laki-laki sudah tidak dapat mengimbangi laju produksi. Wanita terseret untuk menjalankan kantong-kantong produksi, implikasinya terkadang berubah menjadi nanggung ketika dipertemukan dengan nilai agama, semisal: karena laki-laki saja tidak mampu memenuhi kebutuhan ekonomi, kini perempuan boleh bekerja.

Tetapi, di pengajian tertentu ibu rumah tangga tetap dianggap lebih mulia menurut agama. Atau, perempuan berkarya itu baik, tetapi mereka yang menjaga diri di rumah adalah perempuan terhormat. Materi seperti itu acap kali memunculkan chaos internal antar sesama perempuan.

Stereorip negatif terus dilekatkan kepada mereka yang bekerja sebagai SPG, front-office, operator SPBU, ojek online, sopir taxi, dan pekerjaan ruang publik lainnya.

Seorang agamawan dengan ekonomi berkecukupan kadang tidak peduli bahwa di balik pekerjaan yang dilakoninya, ternyata perempuan itu berjuang untuk suaminya yang sakit kanker, atau anak-anaknya di rumah yang ingin terus bersekolah. Sedangkan, tanpa stereotip pun posisi perempuan buruh seringkali sudah berat.

Di daerah, para perempuan penjaga toko masih banyak yang mendapat gaji setara dengan harga ‘segantang’ beras saja perhari. Mereka berdiri sepuluh jam per hari, tanpa uang makan dan bonus lainnya. Konon, para pemilik modal menganggap perempuan bekerja hanya sebagai sosok yang membantu tambahan penghasilan suami, hingga gajinya pun cukup dianggap bukan pokok, namun sebagai nominal tambahan saja.

Yang lebih berbahaya lagi, stereotip negatif adalah semacam legitimasi bagi seseorang untuk memandang rendah orang lain, hingga orang tersebut dianggap boleh digoda, dilecehkan, dan bermacam tindak kekerasan lainnya. Pola pelecehan verbal hingga kekerasan fisik terhadap perempuan semakin kompleks dengan beragam pola dan tingkat variasinya.

****

Al Albana, Padang, Juli 2017

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close