Sepatu dan Takdir

“Sini nak, pasang sepatu”, ujar saya sambil memantul-mantulkan bola beberapa saat sebelum berangkat ke GOR H. Agus Salim, minggu pagi kemarin.

“Nggak ah, tidak usah pakai sepatu, lebih enak nyeker tendang bolanya, daripada pakai sepatu?”, balasnya.

“Ya, perlu pakai sepatu agar melindungi kaki dari duri,pecahan kaca atau kerikil yang tajam”, terang saya sambil membawa sepatu mendekatinya. Lalu ia menyerahkan kakinya untuk dipasangkan sepatu.

“Ups…kaos kakinya belum, ambil kaos kaki di gudang!”, pinta saya sambil membersihkan sepatunya.

Tak cukup satu seruputan kopi, ia telah kembali dengan membawa sepasang kaos kaki.

“Kan sudah ada sepatu untuk melindungi kaki kenape mesti ditambah pakai kaos kali lagi?”, tanya dia sambil menyerahkan kaos kaki beserta kakinya untuk dipasangkan.

“Sepatu kita gunakan untuk melindungi telapak kaki dari bahaya atau gangguan dari luar, sedangkan kaos kaki berfungsi untuk melindungi telapak kaki agar tidak lecet akibat mengenakan sepatu”, jelas saya sambil memasangkan koas kakinya.

“Oh, begitu”, ucapnya sambil mengangguk-anggukan kepala.

“Kamu tahu kenapa kita mesti membentuk negara, lalu memilih pemerintan (presiden) dan anggota legislatif?”. Jelas saya sambil memasangkan sepatunya.

“Ya, tidaklah, saye kan masih kecik”, balasnya sambil berdiri setelah sepasang sepatu terpasang sempurna.

“Sama seperti kita menggunakan sepatu dan kaos kaki. Kita mendirikan negara agar kuat bertahan dari ancaman bangsa lain (dari luar) lalu kita pilih presiden sebagai panglimanya. Setelah aman dari ancaman luar, ternyata kita lebih sering tidak ‘nyaman’ oleh pemerintahan sendiri, makanya kita butuh DPR untuk melindungi kita dari ‘ketidaknyamanan’ akibat kebijakan pemerintah”. Jelas saya sambil menyeruput kopi.

“Wah, ayah parah, Jokowi di bilang sepatu, anggota DPR dibilang kaos kaki, bisa kena pasal penghinaan”, ancam ia, sambil mengambil bola.

“Yang begini, yang bikin gaduh, membuat orang saling gontok-gontokan di dunia maya, memancing keributan dengan memenggal percakapan, sini tak jelaskan!, dalam mensikapi berita, kita tidak cukup hanya melihat teks saja, namun harus melihat ‘kondisi’,’sedang apa’, ‘dimana’, ‘dengan siapa’, inilah yang dinamakan ‘pra teks’, selanjutnya pahami teks secara utuh, jangan dipenggal apalagi ditambah atau dikurangi”, papar saya dengan hati-hati.

“Paham……paham sekarang”, jawabnya, “yuk kita berangkat!”, ajaknya sambil menarik tangan saya.

“Tunggu dulu Bunda juga ikut, ia sedang ganti kostum”, jawab saya.

“Kalau sepatunya terlalu keras kayak sepatu tentara dan kaos kakinya juga tidak nyaman karena dari bahan yang keras dan kasar bagaimana?”, tanya ia lagi.

“Maka dari itu saat membeli kita mesti hati-hati, perhatikan dengan seksama, dipilih dan dipilah yang paling sesuai dengan kaki kita, jangan seperti yang kamu lakukan selama ini, memilih sepatu karena ingin mendapatkan hadiahnya berupa robot-robotan atau mobil-mobilan”, jawab saya sambil melotot.

“He..he…he…,Tapi kalau tetap tidak nyaman, sedangkan kita telah merasa memilih yang paling bagus dan terbaik”, desak ia lagi.

“Sebagai muslim kamu tahu rukun iman yang ke-6?”, pancing saya.

“Beriman kepada takdir baik dan takdir buruk”, sambarnya cepat.

“Ya, itu jawabnya”, balas saya enteng sambil menyambar tas, setelah melihat sekelebat bayangan Bunda keluar dari rumah dan kami berangkat menuju GOR kebanggaan “Urang awak”.

~Alwi Albana~Penikmat Joging setiap Minggu

Padang, 23 Syawal 1438.

PS ; mulai kemarin Hak untuk memilih sepatu sudah dicabut, sehingga demi kenyamanan kakinya Bunda Wisdawati Syafri yang pilihkan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close