Garing

“Yah, nggak usah mancing-mancing keributan. Nggak ada gunanya debat di Facebook. Yang menang debat agama juga tidak akan diikuti agamanya oleh yang kalah, yang menang debat politik juga tidak akan diikuti pilihan politiknya oleh yang kalah, lagian Ayah nggak punya bakat punya banyak pengikut seperti Jonro, Denny Siregar, atau siapalah selebook itu , mendingan posting yang lucu-lucu aja”, ujar Mevrouw Santi a.k.a Wisdawati Syafri tak bosan-bosannya mengingatkan.

Dia memang tipikal ‘lempang’ bermedia sosial. Medsos buat dia diperlakukan sesuai khittah, buat menyapa sahabat dan menjalin silaturahim dengan kerabat. Sekali-kali membagikan resep makanan. Makanya dia bingung kalau ada orang yang sampai ribut-ribut dan berantem di Facebook bahkan mereka yang tidak saling kenal secara personal selain di dunia maya.

Padahal sejak jauh hari saya sudah ikuti sarannya,meski terkadang jempol masih gatal menulis sesuatu yang kadang memancing perdebatan. Masalahnya saya juga bingung kalau mau menuruti anjurannya. Pada dasarnya saya orang yang tidak bisa melucu. Bahkan kata anak saya, “mendingan ayah tak usah melucu, garing, mendingan baca puisi saja, jangan sampai nyanyi ya!, nanti bohlam bisa pecah”. Pengen juga sih kayak seleb fecebook yang lucu-lucu. Kalau posting sesuatu, jamaahnya yang puluhan ribu itu langsung kasih emoji terkekeh-kekeh. Sampai ada yang lepas konde bahkan gigi palsunya.

Tapi wajar , mereka lucu akademis, bukan lelucon garing cela-celan ala ABG alay seperti di Inbox, Dahsyat atau Facebooker, mereka paham ilmu membuat orang tertawa. Mengerti dimana harus menaruh twist dan kapan harus kasih punchline.

Lha saya? Boro-boro. Setiap saya tes kasih joke ke istri, dia selalu bilang “kayak kerupuk, Ayah! Coba lagi!. Mending kalau kerupuk ikan atau Kemplang, garing tapi enak. Kalau kerupuk kalengan di warteg yang sudah melempem siapa sudi”, katanya.

Dulu waktu masih menjadi kaum sudra dengan menjadi ‘sekrup kecil di kapal besar’, dengan terima gaji bulanan. Pada tanggal muda adalah saat-saat gemilang karir pelawak saya bagi dia. “Bun, Ayah sudah transfer”, kata saya. Sedangkan saat ini andai ia sedang tidak ada di kamar saat selesai mandi dan bersiap berangkat ke Toko,lalu saya menyusul ke dapur. Sambil makan saya kasih tahu, “Bun, duit ditaruh diatas meka kamar”, atau “ada film bagus, malam minggu kita nonton yuk”, lalu saya ceritakan joke, pasti istri ketawa. Kadang malah sampai tiga kali ketawa. Saat saya ceritakan, dia ketawa. Saya jelaskan maksud joke-nya, dia ketawa lagi. Terakhir setelah dia menangkap maksudnya, eh dia ketawa lagi. Bahkan kadang baru memulai nge-joke dia lansung menyela “lucu bangat”.

Bagaimana, lucuan mana dibanding manuver HT?, atau bagaimana kalau saya menantang Raditya Dika open mic?

Al-Albana, Padang Juli 2017

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close