Nasionalisme Cek Kosong

Kita bangsa yang sudah terbiasa menilai segala sesuatu dari yang terlihat di permukaan. Seremonial dan simbolik yang bersifat kebendaan dijadikan tolak ukur nasionalisme.

Upacara bendera, lomba panjat pinang, makan kerupuk, menangkap belut dan pelbagai serangkaian seremonial dalam rangka merayakan ulang tahun kemerdekaan bangsa ini.

Pantaskah mengukur nasionalisme dari tinggi tiang bendera?, kepekatan warna merah-putih bendera yang dikibarkan?, atau yang lebih absurd lagi; jumlah kerupuk yang dihabiskan atau belut yang berhasil dipindahkan.

Hampir sepanjang hidup saya tidak pernah berpartisipasi lansung dalam merayakan ulang tahun kemerdekaan. Baik ketika SD-SMU,apalagi setelahnya. Baik acara sekolahan terlebih lagi acara dilingkungan tempat tinggal. Saya tak pernah ikut upacara bendera di lapangan kecamatan saat SD-SLTP. Ketika SMU juga tidak pernah ikut upacara di halaman kantor Bupati. Semua itu tidak lebih ritual seromonial yang bersifat normatif dengan berbagai simbolik.

Orang-orang sibuk dengan beraneka lomba dalam rangka memeriahkan HUT kemerdekaan, partisipasi saya tak lebih sebagai penonton,sekali-kali sebagai ‘donatur wajib’ karena sudah dipatok oleh pejabat RT.

Apakah saya tidak nasionalisme?, bisa jadi. Tapi belum pasti juga. Kenapa?.
Sekali-kali perhatikanlah pejabat negara kita!, kurang simbolik apalagi?, bendera merah-putih ada di mobil, di meja kerja, di halaman kantor, diruang kerja. Pin garuda ada di jas, di dinding ruang kerja selain photo presiden dan wakil presiden juga ada Burung Garuda. Namun semua simbolik nasionalisme itu tak pernah menghalaginya untuk menilap uang rakyat, menggadaikan asset negara kepada asing berkantong tebal.

Namun sebaliknya, para exil dibelahan bumi eropa yang dicabut kewarganegaraan pasca peristiwa Gestok, walaupun tak pernah upacara bendera, jarang melihat merah-putih atau Burung Garuda tapi nasionalismenya mungkin saja lebih dari pada kita. Kata yang belakangan ini berbusa-busa ngomongin Nasionalisme dan Pancasila.

Nasionalisme tidak terkait dengan kebendaan, apalagi cuma sekedar seremonial dan simbolik tanpa pendalaman maknanya. Bukan berarti pula Nasionalisme seperti ‘Cek Kosong’ yang kita serahkan kepada negara, lantas diisi sesuka pengabil kebijakan, misalkan dengan menarik subsidi BBM & PLN, menaikan pajak, layanan publik yang amburadul.

Kalau kita amati melalui film-film terutama produksi Hollywood. Bangsa yang paling tinggi nasionalismenya adalah Amerika (mungkin juga ini propaganda). Ironis memang. Padahal Amerika negara multi etnis, multi kultur, multi agama, multi ras dan lain sebagainya. Kenapa bisa tinggi nasionalisme mereka?.

Bagi mereka menjadi warga Amerika lebih dari sekedar kebanggan , bukan seperti Nasionalisme ‘cek kosong’ yang dipaksakan negara kepada kita disini. Menjadi warga negara Amerika ada benefit yang didapatkan. Birokrasi yang menyenangkan, layanan publik yang nyaman, perlindungan hukum dan lain sebagainya, inilah yang menumbuhkan Nasionalisme.

Nasionalisme bukan terletak pada seremoni dan simbolik namun bukan juga ‘cek kosong’ tanpa syarat. Nasionalisme berbanding lurus dengan benefit.

 

Al Albana

Padang 23 Safar 1439

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close