NKRI Hindia Belanda Apa Beda ?

Sejak diproklamirkan Kemerdekaan Indonesia pada hari ke-17 bulan ke-8 tahun ke-5 (2605 penanggalan Jepang) kerajaan-kerajaan yang ada seantero Nusantara melebur kedalam tubuh bayi baru lahir yang kita sebut Negara Kesatuan Republik Indonesia(NKRI). Sebagian orang saat ini menyebut “NKRI harga mati”, saya tidak setuju dengan yang belakangan ini, saya lebih setuju dengan ide Tan Malaka yang ingin menggabungkan Nusantara dengan Australi dalam satu negara atau ide Soekarno yang berhasrat mencaplok Sabah dan Serawak. Kalau NKRI harga mati ya, segitu-segitu saja. Bukankah kita bangsa yang besar ya mestinya luas juga harus bertambah, kalau bisa Singapura dan Thailand kita aneksasi, masa kalah sama Gaj Ahmada.

Sejak itu Kerajaan dan Kesultanan seantero Nusantara yang bersifat foedal tinggalah simbolik pemersatu bangsa tanpa punya wilayah otonomi dan ottoritas politik.

Namun apakah feodalistik yang telah bersemayam ratusan tahun hilang begitu saja?, para bangsawan, priyayi yang sudah terbiasa hidup enak dengan menjadi kaki-tangan pemerintah Hindia Belanda dapatkah menerima hidup setara dengan kawula dan rakyat jelata?.

Sejatinya tidak, Kerajaan dan Kesultanan boleh melebur ke dalam tubuh NKRI namun mental feodal aristokrat tidak lenyap menyelinap kedalam tubuh birokrat, pejabat publik, politisi yang ingin selalu dilayani bukan melayani. Mereka ingin disanjung dan dipuji. Perhatikanlah iring-iringan pejabat yang datang ke daerah, bahkan berbagai kegiatan mendadak dilakukan dalam rangka penyambutan agar pejabat daerah mendapat apresiasi dari sang tamu. Semua penuh basa-basi dan kepentingan sesaat.

Pada zaman Hindia Belanda Bangsawan dan Priyayi hidup senang berlimpah harta dan kesenangan karena belas kasihan Hindia Belanda sedangkan rakyat jelata hidup sengsara dan menderita. Sekarang dengan NKRI juga begitu tidak ada bedanya hanya beda penyebutannya. Pejabat, Birokrat, legislator, senator tidak malu-malu memperagakan gaya hidup hedonisme dengan mengisap darah rakyatnya.

Bahkan keberadaan Partai Politik saat ini pun tak ubahnya seperti Kerajaan-kerajaan Nusantara pra Kolonialisme. Mereka saling berperang untuk saling menaklukan, kadang perlu berkoalisi untuk menjatuhkan musuh bersama. Apa bedanya dengan Parpol saat Pilkada dalam menancapkan kekuasan pada suatu Provinsi, Kabupaten atau Kota.

Sistim Parpol saat ini juga masih feodal, Trah Soekarno pada Benteng, trah Yudhoyono pada Bintang Merci, sedangkan Trah Soeharto bersembunyi dalam banyak warna yang bersiap-siap kembali muncul.

Sejarah memang hanya perulang-perulangan saja dalam dimensi yang sesuai zamannya.
Tidak ada yang berbeda kecuali penyebutan nama.

Al Albana

Padang 22 Safar 1439

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close