Aksara

Mungkin ini kutukan zaman, politisi ditempatkan seperti malaikat setidaknya nabi yang maksum atau sebaliknya (syaithon bahkan Dajjal) yang menyeramkan. Semenjak Pilpres 2014 segala sesuatu hanya dilihat dari dua kubu, kalau bukan pendudung pasti oposisi. Bahkan masalah yang terjadi di luar negeri tragedi kemanusiaan pun dinilai dari pilihan politik. Padahal kenyataan begitu komplek tidak dapat disederhanakan hanya dalam dua kubu.

Yang menyedihkan semakin hari kita semakin kehilangan kemampuan merangkai aksara demi aksara untuk menyampaikan kritik yang menohok seperti yang dilakukan oleh tokoh-tokoh pergerakan bangsa ini tempo dulu.

Jika kita telisik tulisan-tulisan pendiri bangsa seperti RM Tirto Adhi Suryo yang mengantarkannya 5 tahun pengasingan di Pulau Bacan. Suryadi Suryadiningrat yang kita kenal sebagai Ki Hajar Dewantoro dengan goresan penanya ‘Andai saya seorang Belanda’ yang memilih di buang ke Belanda. Soekarno, Hatta yang keluar masuk penjara dan diasingkan. Atau Tan Malaka yang mesti menjelajahi 2/3 bumi demi menghindari kejaran polisi kolonial Hindia Belanda. Sutan Sjahrir, Natsir, atau Chairil Anwar memilih menyebut dirinya ‘binatang jalang’ dan tokoh lainnya. Tulisan-tulisan mereka jauh dari kata kasar dan vulgar namun mampu menohok jantung kolonial, sangat berbeda sekali dengan tulisan yang berlalu lalang di beranda sosial media kita saat ini.

Kita hanya mewarisi hasil perjuangan mereka namun kita gagal mewarisi teladan yang telah mereka goreskan dalam membangun dan menyampaikan kritik.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close