Para Petarung Tangguh Ibukota

Minum kopi sambil scrool beranda facebook bersua dengan ‘status’ seorang sahabat yang sedang berkunjung ke ibukota, ia menuliskan tentang kerasnya kehidupan ibu kota.

Status itu memberikan impresi kepada saya untuk mengais kembali puzzel-puzzel kehidupan di ibukota selama belasan tahun yang telah saya ‘talak’ sejak sembilan bulan lalu.

Dari kacamata sempit dan pengalaman yang secuil walaupun menetap belasan tahun di ibukota, saya tidak setuju jika ada orang yang bilang ”Rakyat Indonesia Pemalas”. Mungkin orang yang itu belum pernah datang ke ibukota. Menyaksikan keuletan kaum urban dari pelbagai penjuru nusantara dalam melawan kerasnya kehidupan ibukota atau ia belum pernah menonton film lawas “ibu tiri tidak sekejam ibukota”

Perhatikanlah! kelas menengah perkotaan~kaum urban yang terlihat seolah-olah hidup enak dan senang saat mudik lebaran. Mereka rela bangun pagi, sebelum subuh, meninggalkan anak dengan sedikit kecupan yang masih pulas di bawah selimut,lalu naik ojek atau mikrolet menuju stasiun atau halte Trans Jakarta. Berdesakan. Berhimpitan. Berkejaran dan Berebutan di commuterline atau Trans Jakarta. Butuh berganti jalur di stasiun commuterline atau koridor TransJakarta. Tentu butuh waktu berjam-jam. Lalu turun. Naik ojek lagi. Terlebih lagi bagi yang berdomisili di daerah penyangga ibukota ; Bekasi,Bogor, Depok, Tangerang. Perjalanan rutin mereka bekerja seperti yang tertulis di body bus ‘antar kota antar propinsi’ .

Sampai kantor, bekerja hingga delapan atau sembilan jam jika tidak sedang dikejar target, bahkan kadang dipaksa lembur hingga pukul 8 atau 9 malam. Ketika jam kerja usai, menunggu lalu lintas, bermacet-macet lagi. Berdesakan lagi. Berhimpitan lagi. Kejar-kejaran lagi. Melakukan hal yang sama. Sampai rumah sudah malam dan capek. Anak yang ditinggal pagi saat berangkat masih tidur, pulang malam sampai di rumah sudah tertidur lagi karena kecapekan menunggu orang tua yang belum juga sampai di rumah. Suami atau isteri cari makan malam sendiri-sendiri. Besoknya begitu lagi. Bulan depan begitu lagi. Tahun depan masih begitu.

Jaganlah terlalu mencibir jika viral di medsos photo seorang wanita muda yang tertidur atau pura-pura tidur sementara wanita hamil atau menggendong bayi percis berdiri dihadapannya pada gerbong commuterline. Karena tertidur diperjalan adalah kemewahan tersendiri bagi kelas pekerja ibukota. Atau manakala menyaksikan pengendara motor mengokupasi trotoar di tengah-tengah kemacetan ibukota saat jam bubaran kantor, mungkin ia ingin segera sampai di rumah sebelum anak-anaknya tertidur kelelahan menunggu.

Jangan menanyakan hari libur kepada mereka!, meski kadang lupa nama hari namun hafal luar kepala semua kalender yang berwarna merah, libur nasional dan cuti bersama untuk tahun berjalan bahkan tahun depan. Walau sebagian dari mereka tidak tahu dan tidak mau kandidat yang akan bertarung di ajang Pilkada, Pileg dan Pilpres namun mereka hafal jadwal pemilu (libur nyoblos). Pada saat KPU mengumumkan pemilihan tidak selesai satu putaran mereka bersorak dengan girang tidak peduli kandidat yang gagal dan tim sukses menyumpah-serapahi KPU dan Bawaslu dan bersiap-siap mengumpulkan data guna melayangkan gugutan ke Makamah Konstitusi. Kalau bisa pemilu sampai tujuh putaran agar lebih banyak libur.

Tak perlu ajarkan mereka ‘jimat’ (hemat ; bahasa Malaysia) atau Manajemen Keuangan~istilah kaum urban Metropolitan. Itu sama saja mengajari Beruk mencibir. Kaum Urban Metropolis sebagian besar adalah kelas pekerja di sektor swasta, meski ada sebagian dari mereka pengusaha.

Karyawan swasta, sebagian besar penghasilan mereka pure dari gaji(bonus dan insentive), meski ada sedikit orang yang luar biasa dapat membagi waktu punya usaha sampingan. Hanya dengan mengandalkan gaji mereka mampu menutupi pengeluaran rutin bulanan ; belanja bulanan (keperluan rumah tangga), uang sekolah anak plus bayar ojek untuk antar-jemput anak sekolah, gaji asisten rumah tangga ; kadang mesti dua orang jika anak lebih dari dua, biaya transportasi ke kantor, cililan KPR, cicilan mobil, cicilan Motor(N-Max atau Ninja), cicilan gadjet (Iphone 8). Kadang juga ditambah lagi cicilan Kamera dan Laptop. Belum lagi pulsa listrik dan gas, BBM yang terus naik, dan untung saja pulsa telpon dan kuota internet yang cenderung semakin murah adalah anugerah yang mesti disyukuri oleh kelas menengah yang harus melek informasi agar peduli kepada kondisi negeri tercinta. Masih belum habis?

Benar, Tidak habis. Setiap week end mereka masih bisa nonton di XXI, hunting resto dan cafe yang kekinian untuk diunggah di instagram. Belum habis juga beli pakaian, bisa plesiran ke negeri singa dengan tiket promo yang didapat hasil hunting di internet tengah malam, bahkan melancong ke Eropa meski dengan tiket promo cicilan credit card yang pada even travel fair, beli buku, dugem. Setahun sekali masih kuat mudik (tiket PP, oleh-oleh, angpao untuk dibagikan kepada sanak-saudara dan kerabat.

Terus bagaimana mereka bisa menyiasati itu semua? Tidak ada yang tahu. Mereka korupsi?. Bukan mereka bukan koruptor. Bagaimana bisa? Dengan sistim persetujuan, kontrol dan audit yang berlapis-lapis. Palingan juga korupsi waktu karena macet atau commuterline tertunda keberangkatan akibat banjir, dan itupun resiko potong gaji.

Mereka liat. Mereka kuat dan tangguh. Mereka produktif ditengah kondisi negara yang tak berdaya menghadapi globalisasi dan pasar bebas. Mereka manager keuangan mumpuni disaat negera tidak mampu menutupi kebocoran keuangan negara.

Mereka para petarung tangguh yang hidup ditiang-tiang kemuliaan sementara sebagian politisi seolah-olah sedang berlomba-lomba dan berbangga-bangga mengotori jubah kemuliaannya dengan menilep uang negara yang semestinya untuk rakyat jelata.
Mereka jauh lebih terhormat daripada pada para bajingan pengembat uang rakyat.
Mereka pejuang sesunggungnya walaupun hanya untuk diri sendiri dan keluarga jauh lebih berharga daripada politisi yang mulutnya berbusa-busa “berujar berjuang demi rakyat”

Padang, 26 Dhulhizah 1438

Alwi Albana~Mantan Petarung Ibukota

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close