Sudah Lupakanlah!

Faktanya sudah terang dan jelas bahwa PKI melakukan penculikan dan pembunuhan terhadap tujuh jenderal terlepas apakah sepenuhnya dilakukan oleh PKI dengan dukungan Intelegent Uni Soviet/China atau PKI terjebak (dijebak) oleh operasi intelegent USA (CIA). Jelas CC PKI secara organisasi terbukti pelaku Malam Jahanam itu. Dan harus bertanggung jawab.

Namun kita tak bisa mengabaikan rasa kemanusiaan terhadap ratusan ribu bahkan ada yang menyebutkan angka satu juta dan tiga juta nyawa (angka ini mesti diteliti lagi oleh pemerintah agar tidak bias dibelakang hari) melayang pasca peristiwa itu dalam penumpasan PKI. Ribuan orang di penjara tanpa proses pengadilan. Mereka yang anggota PKI, dituduh PKI atau di PKI-kan karena menerima bantuan alat-alat pertanian dari dari sebuah partai (PKI) atau di-PKI-kan karena alasan-alasan pribadi diluar politik. Belum cukup lagi jutaan anak-anak mereka bahkan cucu mereka yang belum lahir pada saat peristiwa terjadi dikucilkan, dipermalukan dibatasi aksesnya untuk pendidikan dan pengabdian. Namun jangan lupakan pula intimidasi dan pembunuhan yang dilakukan oleh PKI terhadap ulama dan pesantren rentang waktu 1960-1965 dan juga Pemberontakan PKI Madiun 1948.

Sekarang ada dua kubu ; pertama mereka phobia PKI hasil doktrin Orde Baru yang diseberangnya mereka-mereka yang juga terdoktrin oleh ‘sama rata sama rasa’~Karl Heindrich Mark. Persaman kelas hanya photamorgana yang tak akan tercapai di dunia yang fana ini, jangan dijadikan tujuan cukup ambil semangatnya dalam mencapai keadilan sosial. Masing-masing adalah korban doktrin tak elok merawat luka dan dendam.

Sudahlah kamerad lupakan dan maafkan toh saat ini di e-KTP sudah tidak ada lagi ‘Red Label’ dan tidak adalagi yang dipenjara atau dikucilkan lagi pula akses kalian dalam pendidikan, kesehatan dan pengabdian kepada negara juga tidak dibatasi lagi. Kalau mau menuntut juga sama siapa?, militer dan paramiliter yang mengesekusi pada saat itu juga sudah dibawah batu nisan.

Yang phobia komunis juga jangan lebay. Ide ‘sama rata sama’ Mark belum dan tidak akan pernah terwujud baik karena salah tafsir dalam mewujudkannya atau memang ‘ideologi cacat’ yang hanya cocok untuk dibahas di ruang-ruang diskusi namun tidak untuk diimplementasikan. Segala sesuatu yang digembor-gemborkan hampir selalu berakhir antiklimak. Berbeda dengan Komunis yang diagung-agungkan pengikutnya sampai hari ini belum pernah kita lihat orang menggunakan kaos oblong bergambar Adam Smith, atau bertuliskan “Saya Kapitalis”. Namun hampir tidak ada tembat di bumi ini yang tak tersentuh oleh Kapitalis. Komunis sudah mati, membatu menjadi fosil bahkan jadi hantu untuk menakut-nakuti yang digunakan dalam kepentingan politik.

Mungkin saat ini Adam Smith dan Karl Mark ngobrol sambil ‘cekikan’ menyaksikan masing-masing pengikutnya saling bunuh dalam mengaplikasikan Ideologi mereka. Atau juga mereka geleng-geleng kepala karena pengikutya keliru menafsirkan idelogi mereka. Entahlah…

Demikian perspektif dari seorang yang bukan bagian dari korban baik akibat intimidasi PKI maupun Orde Baru dalam menghabisi PKI dengan demikian tentu juga mesti memaklumi perspektif yang berbeda dari mereka yang menjadi korban ulah PKI atau korban keberingasan Orde Baru dalam menumpas PKI.

Mari kita jadikan September Ceria seperti lagu Vina Panduwinata.

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close