Rokok Aidit

Sekarang adalagi dua kubu baru, kubu yang pertama Aidit merokok versi Kompas dan Intisari sedangkan seberangnya Aidit tidak merokok versi anaknya Ilham Aidit dan Tempo.

Saya ‘tergelak’ menyaksikan perdebatan ini, kasihan rokok dan perokok diseret-seret untuk dijadikan sebagai ‘pembatas’ antara orang ‘kejam dan sadis’ dengan ‘lembut dan penyayang’. Lebih jauh lagi ‘Orang Baik’ atau ‘Orang Jahat’. Meskipun saya bukan perokok dan kadang ikut kampanye anti rokok kepada orang-orang terdekat namun saya juga tidak tega orang-orang ‘menistakan’ rokok dan perokok.(eheem sudah adil sejak dalam pikiran).

Maso’ iya, membuktikan film G 30 S/PKI fakta atau fiktif hanya dari ‘merokok atau tidak’ dengan kata lain jika kenyataannya Aidit tidak merokok film itu fiktif dan sedangkan jika Aidit benar merokok film itu fakta. Kenapa sedangkal itu pisau analisis kita membedah film yang durasinya sangat panjang (270 menit tanpa iklan lho, bayangkan jika pakai iklan). Kalau hemat saya film ini memang sengaja dibuat sangat tipis batas antara fakta dan fiktif. Dengan mencampurkan fakta dengan fiktif. Karena Arifin C Noor sudah memprediksi; agar generasi medsos tidak kehabisan bahan bakar untuk berdebat.

Ini film Bung dan Nona! bukan Reality Show apalagi rekaman CCTV , jadi wajar saja jika ada yang tidak sesuai fakta. Reality show aja banyak yang direkayasa. Bahkan rekaman CCTV Kopi Sianida Mirna multipersepsi apalagi, film yang dibuat atas intruksi Soeharto sedang Jaya-jayanya.

Kembali ke soal merokok atau tidaknya Aidit kita ambil jalan tengah saja agar sama-sama enak. Tidak ada yang merasa menang sekaligus tidak ada yang merasa dikalahkan. Oleh Karena isteri Aidit seorang Dokter dan beliau ingin menjaga imaje sebagai ayah yang baik untuk anaknya Adil Aidit maka ia tidak merokok di rumah tapi merokok di kantor saat rapat-rapat genting PKI. Apalagi menurut Kompas Aidit minta kopi dan rokok detik-detik menjelang eksekusi. Jelas saja ia tidak bakal dijewer isterinya karena ketahuan merokok. Banyak kan perokok seperti ini. Di luaran merokok saat masuk rumah, buru-buru masuk kamar mandi untuk sikat gigi bahkan mandi agar tidak ketahuan isteri (ayo ngaku).

Meskipun menurut kesaksian Jajang-isteri Arifin sang sutradara sengaja menambahkan adegan seolah-olah Aidit perokok berat agar memperkuat karakter Aidit seorang ; pemikir, konseptor ulung dan administrator hebat. Tapi kayaknya nggak begitu bangat, buktinya Bung Hatta yang tidak merokok namun tidak ada yang bisa membantah bahwa ; bahwa Bung Hatta pemikir dan konseptor ulung. Meskipun kurang cakap dalam administrator apalagi berorator.

Jika kita terus-terusan membahas hal yang tak penting, tak substansial seperti ini terus-terusan maka perdebatan tidak akan berakhir hingga beberapa detik menjelang Isrofil meniup sangkakala.

Sahabat saya yang perokok pernah berucap bahwa ; dengan merokok akan membantu datangnya ide-ide dalam memecahkan persoalan. Saya coba buktikan ketika kuliah dulu ; mengerjakan tugas sambil merokok, alhasil rokok habis di asbak tak tersentuh karena lupa saking asyiknya berfikir mencari cara penyelesaian soal. Sejak itu saya tidak percaya.

Saya tidak peduli Aidit merokok atau tidak, namun yang membuat saya penasaran apakah Aidit pengagum Raisa atau Dian Sastro.

Padang, 02 Muharram 1439

~Alwi Albana~Bukan Ahli Hisab

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close