Potensi Umat

Pusaran kehidupan religius di kota-kota besar di Indonesia saat ini, terutama Jakarta, selain didominasi oleh dua ormas besar yang sudah mapan ; Muhammadiyah dan NU yang semakin tergeser (setidaknya terlihat seperti itu) oleh kelompok yang tumbuh subur pasca reformasi. Ada banyak kelompok namun setidaknya ada tiga kelompok yang berkembang pesat dan menonjol. Pertama adalah kelompok Ikhwani, kedua HTI dan yang ketiga Salafi.

Ikhwani dan HTI populer di kalangan Kampus digemari oleh Mahasiswa dan Akademisi. Kedua gerakan ini mampu memberikan ideologi dan cara pandang gejolak darah muda yang mereka inginkan yaitu identitas keislaman menghadapi ancaman dari luar ; Kapitalis, Modernisasi dan Globalisasi. Yang menjadi pembeda Ikhwani menyediakan sarana untuk terjun ke panggung politik praktis, ambil bagian dalam Demokrasi yang haramkan oleh HTI Sedangkan HTI menjadi populer karena men’Thougut’kan Demokrasi dan anti Kapitalisme, masih segar diingatkan kita pada pemilu 2014 HTI mengimbau umat untuk tidak berpartisipasi alias Golput.

Salafi tidak populer di kalangan anak muda dan kampus dibanding HTI dan Ikhwani. Namun populer di kalangan pekerja (karyawan) . Usia 30-40 tahun keatas. Sudah berkeluarga dan punya anak yang membutuhkan ketenangan dalam beribadah dan menjalani kehidupan yang semakin komplit di kota besar. Titik fokusnya lebih kedalam diri sendiri ; Aqidah lurus dan tegak, iman kuat, keinginannya menjalani kehidupan sesuai tuntutan rasul. Meski merindukan tegaknya Syariat Islam namun mereka cenderung tidak terlibat dalam hiruk-pikuk politik praktis. Meski menolak demokrasi namun tidak memboikot pemilu, sebagian berpartisipasi pemilu sebagian tidak. Mereka lebih fokus mengajak umat untuk menegakan Syariah dari bawah ; diri sendiri→keluarga→lingkungan bukan dari atas ke bawah.

Semangatnya dalam menjalani kehidupan sesuai tuntunan rasul terkadang bergesekan dengan tatanan praktik ibadah muslim yang sudah mapan di masyarakat. Memang tak dapat dipungkiri ada sedikit, hanya sedikit tak seperti gaungnya, beberapa pengikutnya mencela praktik-praktik ibadah kelompok lain. Bid’ah. Syirik dan Tahayul dan sejenisnya.

Jika kelompok Ikhwani dan HTI menyampaikan dakwahnya melalui Mushola-mushola Kampus, berbeda dengan Salafi menyampaikan dakwah di Mushola-Mushola kantor yang terletak di Basement Gedung bertingkat pada kawasan perkantoran dan pusat bisnis.

Ketiga kelompok ini, jika merujuk kepada Kuntowijowo dapat disebut ‘Muslim Tanpa Masjid’. ~Muslim Tanpa Satu Garis Komando~. Meskipun di Kampus atau Perkantoran Mushola sebagaian sudah ‘Masjidkan’ untuk kebutuhan sholat jum’at namun belum mejadi Masjid Jami’ yang diperuntukan kepada seluruh ummat.

Realitas ini merupakan potensi besar ummat jika dapat dikelola dengan tepat, terutama bagi Partai Politik Islam dalam menghadapi kompetisi pada politik electoral. Saya percaya ini merupakan kekuatan besar jika masing-masing kita lebih mengedepankan Ukhuwah Islamiah , mencari persaman, bukan menggali perbedaan, menahan diri untuk tidak menonjolkan kelompok masing-masing berorientasi kepada kepentingan ummat bukan kelompok. Sekaligus merupakan challange bagi Ormas dan Parpol Islam untuk berbenah karena sebagian dari mereka merasa Ormas dan Parpol Islam saat ini kurang progresif dalam menghadapi dinamika kehidupan yang semakin kompit akibat modernisasi dan globalisasi.

Alwi Albana, Padang 4 Muharram 1439.

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close