Elfonso dan Kisah Kelabu Masa Lalu

Ia meraung-murka setiap kali mendengar nama Jokowi diikuti oleh kata “sepeda”. Bila diilustrasikan seperti film-film horor, muncul dua tanduk berwarna merah di kepala dan diikuti oleh taring yang keluar di antara bibirnya. Tak luput pula mekar surai-surai dari pundaknya. Namun terkadang ia tercekat-meradang, seperti seekor harimau ketika sebutir timah panas menembus perutnya yang dimuntahkan dari senapan pemburu. Tapi, ia lebih sering diam dan mendesis untuk menahan semua itu dan sekali-sekali ikut menimpali berita yang dari sebuah tivi di warung kopi yang biasa ia menghabiskan waktu dengan bermain ‘simpilang’ hingga menjelang dinihari. Dan semua itu menyakitkan.

Bukan, ia tidak tahu politik dan masa bodo dengan kebijakan Jokowi yang katanya doyan ngutang,tukang PHP, bahkan menggadaikan negara kepada asing dan aseng, anti islam bahkan melindungi PKI dan Ahok. Tak peduli.

Namun setiap kali mendengarkan berita dari tivi ; Jokowi memberikan hadiah sepeda, ia merasa dilemparkan ke masa lalu. Ketika 30 tahun silam, mimpi memiliki sepeda. Ia merasa Jokowi dan penerima hadiah sepeda sedang meledeknya, menjulurkan lidah kepadanya. Dunia sedang mentertawakannya. Meskipun saat ini ia punya dua mobil yang digunakan sebagai travel antar kota.

Bagaimana tidak hanya dengan menyebutkan lima jenis ikan dapat hadiah sepeda. Sedangkan ia hafal belasan spesies ikan yang hidup di sungai-tempat ia mandi setiap pagi dan sore serta bermain dengan sahabat-sahabatnya sepanjang hari. Atau semua nama ikan yang dijual di pasar nagari yang ia kunjungi setiap minggu menemani neneknya. Terlebih lagi Raisa-Penyanyi yang telah membuat patah hati para jomblo,hanya dengan satu lagu, pulang dari istana dapat sepeda. Sedangkan ia hafal seluruh lagu dalam buku kumpulan lagu wajib nasional dan perjuangan. Meskipun dengan suara yang lebih sering membuat nenek menjerit untuk menghentikannya dari pada terhibur.
——————————————————–
Namanya Elfonso. Tidak tahu mimpi apa Bapaknya-seorang buruh tani yang tinggal di desa belum diterangi listrik dan tentunya televisi yang menayangkan telenovela dari Amerika Latin juga masih sangat sedikit-memberi nama latin kepada kepada bayi lahir pada akhir tahun 70-an.

Elfonso sudah piatu sejak usia 7 tahun, saat libur kenaikan kelas 5, ia giat belajar naik sepeda dengan menggunakan sepeda Onthel tua milik seorang kakek. Ia girang sekali setelah bisa, lupa akan lecet dan luka selama belajar. Elfonso berharap Bapaknya memenuhi janji membelikan sepeda seperti yang dijanjikan sejak lama. Janji itulah yang membuat ia giat belajar. Sehingga ia berhasil naik kelas walaupun rangking 30 dari 32 murid.

Bapaknya yang sudah menikah lagi setahun setelah kepergian Ibunya . Namun, bapaknya ingkar tidak memenuhi janji membelikan sepeda malah membelikannya seekor kambing.

“Kambing bisa membuatmu lebih cepat dewasa, sedangkan sepeda akan membuatmu tetap jadi kanak-kanak,” demikian bapaknya memberi alasan.

“Tapi aku ingin sepeda.”, gerutu Elfonso.
“Kambing lebih baik.”, balas bapaknya.

Elfonso menangis seharian di kamar yang jendelanya menghadap jalanan setapak-yang digunakan orang-orang untuk pulang pergi ke sungai kecil-yang membelah desa itu sengaja ia dibuka. Setiap ada orang melintas semakin kencang tangisannya. Sejatinya memang begitulah cara orang-orang kecil untuk mengabarkan kepada dunia tentang keadaan yang tak diinginkan.

Seminggu berlalu, bapaknya yang sejak menikah lagi tinggal di desa seberang sungai dengan isteri muda datang lagi. Elfonso menangis semakin kencang.

Bapaknya mencoba menghibur
“sepeda bisa rusak, tapi kambing justru dapat beranak.
Ia lalu terdiam, tetapi tetap saja cemberut. Di matanya, kambing itu tampak buruk. Kepala dan mulutnya yang legam terlihat jelek sekali, bulunya kotor, dan badannya kurus. Dan embekannya bikin sakit telinga. Apalagi baunya. Pasti kambing itu jauh lebih murah dari harga sepeda.

Tapi menurut cerita nenek, bapaknya menghabiskan masa kecil hingga remaja sebagai penggembala Kambing, pasti bapak sangat paham ciri-ciri kambing yang bagus. Bulu hitam mengkilat, tanduk gagah, tungkainya panjang, dan yang terpenting ia pasti betina yang subur. Dan, karena itu, bapaknya rela memecah celengan yang dikumpulkan dari hasil panen mentimun dan kacang panjang akhir bulan puasa lalu.

Pada suatu petang, dengan berat hati bercampur malu Elfonso, menggiring kambing betina hitam itu ke surau tempat ia dan sahabat-sahabat mengaji. Di halaman belakang surau ada lapangan kecil tempat ia dan teman-teman bermain dan bercengkrama sebelum atau usai mengaji. Rupanya mereka sudah tahu perihal kambing itu. Elfonso dan kambingnya dikerubuti. Rata-rata mereka menyatakan turut bergembira walau beberapa orang meledek. Menurut mereka, memiliki kambing itu menyenangkan.

“Bukan anak desa kalau tidak memiliki hewan peliharaan, seperti; sapi, kerbau,kambing atau sekurangnya ayam jago”, bela Jufriadi sahabat dekatnya yang telah memiliki seekor sapi betina yang tengah hamil, pemberian bako (kelurga Bapak) pada pernikahan kakak perempuannya yang tertuanya setahun yang lalu.

“Bayangkan, kau bisa membantu nenekmu, jika kambing ini telah beranak tanpa harus kehilangan waktu bermain”, ujar Ungku Sidi-guru ngaji juga menyemangati sambil mengelus tanduk kambing.

“Maksudnya, menggembala itu bekerja tapi rasanya seperti bermain. Itulah kalau kau memiliki kambing”, timpal Utiah Malin, sambil mendongakan kepala dari jendela surau berdinding dan berlantai papan trambesi.

Waktu berlalu Elfonso sudah melupakan sepeda ia berkembang dan bahagia dengan kambing-kambingnya yang beranak setiap enam bulan sekali kadang dua namun lebih sering tiga sekali lahir. Elfonso memang tidak bisa bertutur dengan kambing, namun mengerti bahasa kambing dari ; ’embekan’, tatapan mata, mimik, gestur dan kebiasaan kambing-kambingnya. Elfonso sangat paham jadwal merumput, minum, masuk-keluar kandang dan tidur. Tidak perlu Mantari Hewan, hanya dari suara ’embekan’, warna dan tekstur ‘eek’, Elfonso bisa menerbitkan rekam medis kambing-kambingnya. Jika diperlukan juga bisa menuliskan resep daun dan akar pohon yang mesti dikonsumsi kambing-kambing agar tetap sehat dan kuat. Begitu pun sebaliknya, kambing-kambing itu juga mengerti jadwal Elfonso bangun, sekolah, mengaji dan bercengkrama dengan teman-temannya.

Dan yang lebih membuat Elfonso senang, ia tak perlu lagi menyeberangi dua sungai, dua kali turun-naik bukit. Melintasi lembah yang ada pohon beringin tua, konon katanya ‘sijundai’ sering bergelantungan di dahannya. Menelusuri pematang sawah sambil menenteng sandalnya agar tidak putus jika terpeleset. Tak perlu was-was lagi diseruduk babi hutan saat melintasi ‘pincuran limau hantu’ untuk menjemput uang jajan mingguan ke rumah bapaknya bahkan ia sering memberi neneknya uang.
—————————————————–
Sore itu orang-orang berkerumun di sekeliling rumahnya. Menurut cerita seorang ibu yang tengah menggendong bayinya, Elfonso baru saja dilumpuhkan Sutan Pamenan-Kepala Pemuda. Dan rencana sebentar lagi akan dibawa ke Rumah Sakit Jiwa.

Gaek Johar, Wali Korong Kampung menceritakan bahwa sejak awal September Elfonso ‘damam paneh’ sering berperilaku aneh, tatapannya kosong, mulutnya komat-kamit tak jelas yang diucapkannya. Yang dapat didengar dari gumamannya hanya empat kata ; Sepeda, Kambing, Jokowi, PKI, hanya kata itu yang diulang-ulang dan urutan acak.

Bahkan sejak seminggu warga tidak bisa menonton tivi. Elfonso gerilya keliling kampung, jika didapati tivi sedang nyala dibanting hingga hancur sambil bergumam “Jokowi, Kambing, Sepeda, PKI”, lalu pergi.

Cerita dari Sutan Palimo, bahwa ia pernah menyaksikan Elfonso sedang mengajarkan kambing naik sepeda sambil bersenandung pada suatu malam yang dingin menggigit saat pulang dari dari melepaskan air sawah. Elfonso tidak bergeming saat ia bertanya.

Kerumunan warga sore itu bubar sesaat setelah mobil yang membawa Elfonso memasuki tikungan tajam dan menghilang disertai gerimis yang sejak siang tadi tertahan geluduk.

Alwi Albana

Kuranji Hilir, Pangkal Musim Hujan 1439

Ps ; September berlalu dengan segala kegaduhannya. Saya membungkusnya dalam sebuah cerita pendek. Tokohnya sahabat kecil saya, sedangkan kisahnya khayalan liar ditengah kesendirian saat musim hujan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close