Bertanya dan Berfikir

“Setiap anak adalah filusof.” kata Jostein Gaarder dalam sebuah artikel yang pernah saya baca beberapa tahun silam. Dulu, saya tak memahami makna kalimat ini. Tapi setelah memiliki anak yang banyak mengajukan pertanyaan-pertanyaan, saya mulai mengakui kebenaran pernyataan Gaarder.

Jujur, saya sering speechless, kehabisan kata saat harus menjawab pertanyaan anak saya Alwi. Sejak usia tiga tahun hingga sekarang ia tumbuh sebagai anak yang menyakan segala hal dengan pertanyaan yang hampir selalu diakhiri dengan “kenapa?”. Saya tak selalu punya jawaban tepat, atau bahasa yang tepat untuk mengatasi dahaga pengetahuannya.

Saat ia bertanya tentang Matahari, Bulan,Bintang , Nabi,Malaikat,Dajjal ataupun hari kiamat saya tidak mampu merangkai kata-kata yang tepat untuk menjawabnya. Saya menyadari bahwa pertanyaan seorang anak sangatlah mendasar. Tidak selesai dengan sebuah jawaban. Ia akan jejali lagi dengan pertanyaan lanjutan hingga mendasar. Pertanyaannya sangat filosofis.

Teruslah bertanya anakku, biar ayahmu juga terus belajar untuk memenuhi dahaga pengetahuaanmu!.

Bertanya adalah akar dari pengetahuan. Tahap awal memang sekedar bertanya atas ketidaktahuan, ini sangat wajar terjadi pada anak-anak. Bertanya bisa disebut indikasi seseorang sedang berfikir. Untuk anak-anak semua yang membuat ia bertanya-tanya pastilah berujung pada pertanyaan yang ditujukan kepada orang dewasa yang berada disekitarnya. Kepada orang tua di rumah atau kepada guru di sekolah.

Peradaban dibangun atau kemajuan dunia bermula dari pertanyaan-pertanyaan. Atau setidaknya ‘mempertanyakan’ atas segala sesuatu yang pada saat itu. Misalnya surat elektronik (e-mail) terlahir dari pertanyaan ; “apakah tidak ada media lain yang bisa dikembangkan agar berkirim kabar bisa lebih cepat dan effesien dari pada berkirim khabar melalui surat secara konvensional?”.
Peradaban tanpa pertanyaan akan jumud. Statis. Tidak ada kemajuan.

Rene Descartes filsuf Prancis pernah berucap ” cogito ergo sum” kurang lebih dalam bahasa Indonesia seperti ini “Saya berfikir maka saya ada”. Maksudnya selagi hidup orang mesti berfikir,jika proses berfikir berhenti itu sama saja dengan kematian.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close