Teror Kucing

Setelah mengalami intimidasi selama lebih dua bulan oleh seekor kucing dan gagal menyelesaikan dengan langkah-langkah beradab, akhirnya saya tempuh cara hewani untuk mengatasi ulah kucing yang cacat ini.

Awalnya dua bulan lalu, seekor kucing liar (tidak punya majikan) sering berkeliaran di depan toko. Saya kasihan melihat karena ada luka yang cukup lebar di bagian perutnya dan jalannya pun sangat pelan dan tertatih-tatih oleh karena luka itu. Sehingga beberapa kali sempat saya kasih makan. Namun pada suatu malam ia masuk dan meninggalkan kotoran yang pasti sangat bau di dalam toko. Beberapa kali membuat saya muntah karena aromanya.

Saya berfikir untuk mencari solusi. Dua minggu lalu saya pasang jaring-kawat di ventilasi yang saya duga jalan masuknya. Saya merasa yakin akan terbebas dari siksaan bau ‘tai kucing’. Beberapa hari memang saya terbebas dari aroma yang tak mengenakan itu. Namun pada suatu pagi saat membuka pintu toko kucing itu meloncat ke luar dari dalam toko. Saya terus masuk semakin ke dalam semakin kuat aroma kotorannya. Saya lemas tak berdaya, langkah apalagi yang mesti dilakukan untuk mengatasinya.

Semula saya berfikir mungkin saja kucing silumam yang dapat masuk bersama angin, atau ia telah membuat duplikat kunci sehingga jika hendak masuk ke dalam toko untuk tidur malam hari ia bisa gunakan kunci itu. Namun sebagai orang yang biasa berfikir rasional saya membantah asumsi di awal dengan kesimpulan kucing itu masuk dan bersembunyi di dalam sebelum saya menutup toko.

Dengan kesimpulan ini saya mengambil keputusan berat-membuang kucing itu. Dan demi peri kehewanan dan keberkelansungan hidupnya saya telah memilihkan sebuah lokasi yaitu pasar yang ada penjual ikan. Saya lega inilah cara terbaik untuk mengatasinya.

Sore hari saya membuangnya. Malam hujan turun dengan deras hingga pagi. Saya teringat akan nasib kucing itu. Bagaimana cara ia beradabtasi dengan lingkungan yang baru? Bagaimana ia menyelamatkan tubuhnya dengan perut yang masih luka dari amukan dingin angin malam. Rasa sesal dan lega silih berganti hinggap di kepala.

Di tengah kelegaan menghirup udara tanpa aroma ‘eek’ kucing beberapa hari lalu tercium lagi bau dengan aroma yang sama dari dalam toko. Praduga awal bahwa Kucing ini Siluman menyeruak dalam benak. Namun tak berlansung lama saya menemukan seekor anak kucing di depan toko. Selamatlah saya dari hal-hal yang berbau mistis. Dengan kesimpulan kucing yang telah saya buang mengirimkan telepati kepada ketua paguyuban kucing di sekitar sini untuk melanjutkan terornya.

Dengan kesimpulan seperti ini saya tidak berani menangkap dan membuang kucing kecil ini. Sementara memaksa hidung berdamai dulu untuk menentukan langkah selanjutnya dalam menghadapi teror ini.

Ahhh, andai saja saya dianugeragi kemampuan berkomunikasi dengan binatang seperti nabi Sulaiman tentu saya akan memilih cara dialog. Sebagai manusia beradab tentulah saya menempuh langkah kebudayaan dengan musyawarah dan mufakat seperti nilai-nilai sila ke-4 Pancasila bukan main buang seperti cara penjajah Belanda menghadapi para pejuang kita menyelesaikan pertikaian.

Alwi Albana~Bukan Pembenci Kucing

Padang, 24 Muharram 1439

Kategori Hewani

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close