Muhammad Yamin Sastrawan cum Sejarahwan

MUHAMMAD YAMIN SEORANG SASTRAWAN CUM SEJARAHWAN

MUHAMMAD YAMIN (24 Agustus 1903-18 Oktober 1962)

Apa jadinya jika tidak ada Sumpah Pemuda, lalu apa pula jadinya jika Yamin tidak menuliskan tiga klausul lalu mengusulkan untuk diikrarkan pada kongres pemuda II.
Mungkin bangsa yang multietnis dengan puluhan bahasa tidak punya bahasa persatuan seperti India. Betapa ribetnya komunikasi antar etnis dan suku seperti yang terlihat dalam film Chennay Express.

Betapun kontroversialnya, Muhammad Yamin adalah bagian dari kekayaan sejarah Indonesia. Ketika para pemuda pada Kongres Pemuda I pada 1926 berdebat perihal bahasa, saat itu pemuda kelahiran Talawi-Sawahlunto yang baru berusia 23 tahun mengusulkan bahasa Melayu, bukan Jawa atau lainnya, sebagai bahasa persatuan. Baru dua tahun kemudian pada Kongres Pemuda II pada 28 Oktober 1928 gagasan ini terwujud.

Putera Minang yang terpesona Budaya Jawa dan kebesaran Majapahit. Pemuda yang menekuni kebudayaan Jawa hingga menguasai bahasa Sangkerta ini melahirkan gagasan bentuk negara RI, terbit dari romantismenya akan kejayaan Kerajaan Sriwijaya dan Majapahit. Menurut beliau baik Sriwijaya maupun Majapahit adalah ‘negara’ bukan ‘kerajaan’. Menjadi kuat karena memiliki tokoh pemersatu dan ditopang oleh pemerintahan pusat yang kuat. Dalam sidang BPUPKI,Yamin menegaskan bentuk negara yang cocok bagi Indonesia adalah kesatuan bukan faderasi seperti yang diusulkan Hatta.

Kekaguman terhadap masa lalu, sekaligus ketakutannya terhadap disintegrasi bangsa, boleh jadi telah membuatnya berlebihan dalam ‘menakar’ teritorial Indonesia. Yamin tidak hanya menyusulkan wilayah Indonesia meliputi Semenanjung Malaya, Timor-Portugis hingga Papua Nugini, tapi juga menciptakan simbolik pemersatu ‘negara’ Majapahit ; Gajah Mada. Belum cukup ‘melahirkan’ Gajah Mada sebanyak tujuh jilid, Yamin merasa perlu mencari raut wajah Gajah Mada. Ia memungutnya dari gambar yang tertera pada celengan terakota saat mengunjungi situs Trowulan yang ia percaya datang dari era Majapahit. Raut wajah itulah yang kita kenal sekarang sebagai wajah Gajah Mada. Ia dikritik dan dicacimaki karena tak mengindahkan verifikasi arkeologis, dengan enteng ia menjawab “jika ada yang tidak sepakat, silakan membuktikan yang sebaliknyalah yang benar”. Hingga hari ini tidak ada Sejarahwan menerbitkan versi tandingan wajah Gajah Mada sebenarnya.

Gagasan Yamin dan Soekarno tentang negara Kesatuan dengan pemerintahan pusat yang kuat-yang dicemaskan Hatta sebelumnya- memang menjadi kenyataan. Yamin mendukung sepenuhnya pengerahan militer ke Sumatera Barat-Tanah kelahiranya-dalam melumpuhkan PRRI. Yamin dibenci dan dicaci-maki oleh masyarakat Minang. Bahkan tidak lama setelah PRRI usai, Yamin meninggal. Awalnya orang-orang menolak jenazah dikuburkan di kampung halamannya hingga akhirnya Buya Hamka turun tangan sesuai amanat Yamin ketika sakit keras ; kelak jika ia meninggal agar jenazahnya dimakamkan di tanah kelahirannya dan jika ditolak warga, meminta Hamka untuk menyelesaikan. Akhirnya berkat bantuan Hamka, ia dimakamkan di tanah kelahirannya.

Fanatisme negara persatuan ala Yamin yang diterapkan Seokarno tentu tidak sepenuhnya bisa diterapkan pada saat ini. Persatuan terkadang ‘dikeramatkan’, NKRI harga mati ‘diberhalakan’. NKRI sejatinya ikatan yang menyatukan kita sebagai bangsa, mesti dipadukan menghargai keunikan dan keistimewaan tiap daerah. Hatta pernah memplesetkan persatuan dengan ‘persatean’-humor hitam atas kegelisahannya terhadap pengendalian di bawah satu tangan ala Soekarno. Di era Orde Baru,di bawah rezim Totalitarian-Seoharto bahkan lebih parah lagi. Hanya tafsir tunggal atas persatuan, NKRI dan Pancasila yaitu versi rezim pemerintah.

Bagaimana dengan orde reformasi sekarang ini ? Yang jelas masing-masing kita berebut menafsirkan, saling mengklaim makna dari Persatuan, NKRI dan Pancasila lalu menuliskannya besar-besar agar semua orang tahu. Seakan-akan semua itu (Persatuan,NKRI, Pancasila) benda yang mesti diperebutkan.

Yamin memang tokoh kontroversial dengan segala mimpi kejayaan Nusantara pada masa lalu yang diangan-angankanya terwujud dalam NKRI. Ia bagian dari kisah para pendiri negara bersama Soekarno, Hatta,Sjahrir,Natsir,Tan Malaka, Agus Salim dan lainnya. Menyebut Yamin-membuktikan bahwa sejarah Indonesia bukanlah sesuatu yang lempang. Indonesia hari ini adalah sintesis dari perjalanan panjang. setiap jengkal sejarahnya dibangun di atas pertentangan dan pergulatan. Ada idealisme, mungkin juga pragmatisme seperti zaman sekarang. Oleh karena itu perlu rileks memandang masalalu. Seperti masa kini, masa lalu juga banyak cacatnya.

Alwi Albana~Penyuka Sejarah

Padang, 28 Muharam 1439

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close