Investasi Waktu

Sambil memandangi wajahmu, kadang saya berkhayal andai saja kita terlahir dalam kurun waktu yang bersamaan dan dalam lingkungan yang sama mungkin saja kamu menjadi “konco arek lawan kareh” bagiku. Dalam banyak hal kamu menjadi ‘pengekor’-ku misalnya tempo hari kamu ngotot minta celana jeans percis yang saya miliki-jeans dengan pengait full kancing bukan resleting. Saya bersusah payah meyakinkanmu bahwa tidak ada jeans seperti itu untuk ukuran ‘kid’. Namun dalam banyak hal pula kita sering berhadap-hadapan dan bahkan menjadikan aku sebagai ‘kompetitor’. Kamu tak jarang mengeluarkan belanjaan untukku dari trolly jika kamu anggap belanjaan untukku lebih banyak daripada untukmu.

Saya telusuri salah satu hal yang menjadikan kita ‘konco arek lawan kareh’ adalah kita sama-sama tipikal ‘pria rumahan’. Hampir tidak ada waktuku di luar rumah selain untuk mencari nafkah. Saya bukan pula seorang ayah yang punya seabrek hobi dan komunitas yang harus keluar rumah mewujudkannya, seperti memancing, berburu babi, club motor, komunitas pecinta aneka burung. Meskipun bisa main ‘sampilang’, ‘koa’ dan suka kopi namun saya tak terbiasa nongkrong di ‘lapau’ pada malam hari karena tak biasa tidur lambat. Jadwal tidur saya selepas Isya atau paling telat pukul 21.00, sedangkan ‘kehidupan’ di lapau baru dimulai pada saat itu hingga menjelang dinihari lagi pula saya tak punya kecakapan untuk ‘bagarah’ di lapau kopi.

Ketahuilah nak! menjadi orang tua itu sama beratnya dengan menjadi anak. Paling tidak, jika tak disebut berat, yang jelas tak selalu mudah. Jika waktu kanak-kanak saya selalu dimanjakan oleh orang tua. Maka sesudah dewasa saya harus bisa melakukan sebaliknya. Mengajak mereka ngobrol, atau memberi mereka perhatian-baik yang bersifat emosional maupun material, adalah hal-hal yang perlu ditunaikan kepada orang tua. Namun sayang saya belum sempat melakukan itu sepenuhnya ‘Uwo’-mu telah dipanggil-Nya enam tahun lalu, saat itu usiamu masih satu setengah tahun. Saya tidak yakin kamu masih punya memori tentang dia. Tinggallah sekarang hanya ada ‘ungku’ yang sudah sepuh.

Hal serupa juga berlaku bagi kamu anakku. Menjadi Ayah bukan sekadar bisa memberi uang jajan, kasih makan, membelikan baju, atau menyekolahkan, tapi juga harus bisa memenuhi semua kebutuhan emosional dan psikologis.

Selain sebagai kewajiban orang tua kepada anak. Saya mengalokasikan lebih banyak waktu untukmu sebenarnya saya sedang berinvestasi. Tepatnya investasi waktu, semoga bukan ‘investasi bodong’.

Tentu saja saya sangat berharap saat kami mulai menua investasi itu cair-kami mendapatkan banyak waktu darimu. Kamu dengan segala aktifitas dan kesibukan selalu ada waktu untuk kami. Bukan hanya pada saat terjadi apa-apa [sesuatu yang buruk] namun juga pada saat tidak terjadi apa-apa. Untuk sekedar minum teh sambil main catur di kala petang menunggu gelap menggulung siang. Atau mendorong kursi roda saya atau Bundamu saat kaki kami sudah tak kuat menopang tubuh namun sekali-kali masih ingin menghirup udara segar di luar semisal jalan-jalan di taman atau menikmati aneka kuliner. Bukankah ketika di Jakarta dulu setiap berpapasan dengan orang berkursi roda di pusat keramain saya selalu menanyakan “Nanti setelah Ayah atau Bunda tua, maukah kamu mendorong kami seperti itu”. “Siap”, jawabmu.

Begitulah Nak, kehidupan ini hanyalah siklus dan tak seorang pun dapat menghadangnya.

Padang, 30 Muharram 1439

A.A. Albana~~seorang Ayah yang takut kesepian di usia senja~~

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close