Perihal Jogging

Sekitar empat tahun lalu saya rutin jogging setiap pagi kurang lebih satu jam. Kesadaran pentingnya olahraga tidak serta-merta datang begitu saja. Insomania keparat menyerang ketika itulah adalah penyebabnya. Setelah tidak berhasil menyelesaikan secara medis, saya putuskan untuk rutin berolahraga dan berkebun sesuai dengan anjuran Dokter. “kamu harus punya kegiatan selain kerja. Rutinitas mungkin salah satu penyebabnya”, ujar Buk Dokter.

“memang sih buk, saya tidak terlalu suka olahraga” jawab saya jujur setengah malu.

“tapi olahraga itu penting, jika kamu mau sehat, kasihan anakmu masih kecil”, sahutnya sambil melirik ke anak saya yang sengaja ikut.

“iya buk”, jawab saya.

“jagan iya-iya saja, mulai besok lari pagi, gampang kan”,tegasnya.

“insyaallah buk”, balas saya.

“selainnya itu juga harus punya aktifitas selain kerja untuk menghindari kejenuhan akibat rutinitas kerja, salurkan hobimu, bisa pelihara ikan, burung, atau memancing”, desaknya.

“saya tidak terlalu tekun dengan hewan peliharaan seperti burung atau ikan, kalau memancing juga belum pernah kayaknya saya juga tidak suka”, terang saya.

“Berkebun, menanam kembang, sayuran, bumbu dapur, atau buah-buahan juga boleh” tukasnya.

“kalau ini saya bisa, kebetulan di samping rumah ada sedikit pekarangan kosong”, papar saya.

“Tadi, kamu bilang suka membaca, maka akan mudah bagimu untuk menulis, tuangkan semua uneg-unegmu melalui tulisan”, saran dia lagi.

Saya jadi ingat sejak belasan tahun lalu tepatnya awal-awal kuliah hampir tidak pernah lagi menulis tanpa disuruh atau diminta, menulis untuk diri sendiri. Penyebabnya Gara-gara teman se-kos meledek “alah nggak punya pacar, tapi sok pakai diari” ujarnya setelah menemukan diari saya di lemari pakaian kami yang memang digunakan bersama. Saya merasa kena upper cut Tyson tepat pada hulu hati, pada saat bersamaan sebuah jab Elias Pical tepat bersarang di kuping kanan saya. Saya berhenti tidak pernah menulis lagi. Kalaupun menulis, ya pasti tugas kuliah dari dosen. Setamat kuliah paling menulis surat lamaran kerja atau menulis surat kepada orang tua juga pernah beberapa kali.

Sejak pulang dari dokter, keesok harinya dengan kesadaran penuh selesai sholat subuh, minum segelas air putih dan sedikit kudapan jika ada saya lansung memulai aktifitas baru lari keliling komplek. Kadang sendiri, sekali-kali berdua sama anak, pernah juga bertiga namun jarang karena si ibu mesti menyiapkan makan pagi. Setiap Sabtu atau Minggu arena Jogging sedikit lebih jauh Jogging trek Taman Menteng atau Taman BX-Change Bintaro.

Bersamaan dengan itu saya mulai berkebun, menanam beraneka tanaman seperi Kunyit, Rawit, Pare, Tomat dan Jeruk Purut. Setiap pulang Jogging atau pulang kantor menjelang azan Magrib saya luangkan sedikit waktu untuk merawat tanaman dengan menyiram atau mencabuti rumput-rumput liar.

Dengan aktifitas sesuai anjuran dokter selang setahun Insomania itu bosan dan tanpa saya sadari pergi tanpa pamit. Meski tak serutin biasa namun aktifitas jogging tetap saya lakukan.

Setelah pindah ke Padang sejak awal tahun ini, hampir semua aktifitas itu (Jogging dan berkebun) terlupakan padahal waktu lebih luang dan lahan juga tersedia. Kalaupun bisa disebut Olahraga hanya seminggu sekali ke GOR Agus Salim untuk bermain bola dengan anak atau bersepeda sepanjang Pantai Padang.

Sejak pulang ke Padang pula seiring tidak lagi rutin Jogging impian punya kebun hydroponik dan vertikal garden juga menguap tak pernah terpikirkan lagi.

Adalah Minggu lalu saya ke GOR, rutinitas setiap minggu pagi kami. Setelah selesai bermain bola lalu berkeliling melihat aneka macam dagangan yang diperjual-belikan. Mulai dari ikan hias, sayuran, buah hingga pakaian dan alat elektronik. Pada suatu sudut saya melihat sekelompok anak muda mungkin mahasiswa sedang demo cara menanam aneka sayuran dengan metode hydropinik. Saya mampir dan memperhatikan secara seksama. Setelah mendapatkan jawaban atas beberapa pertanyaan yang saya lontarkan lalu berlalu sambil mengkhayal punya kebun hydroponik.

***
Akibat terinfluent oleh seseorang yang sering mengunggah photo sedang jogging membuat saya mengulang ‘kaji lamo’. Sudah beberapa hari ini saya memulai lagi lari pagi sepanjang Seine River van Padang yaitu ‘Banda Bakali’.

Target saya tidak terlalu muluk. Kalau dulu pernah berharap bisa menyelesaikan full Marathon yang jaraknya 42 km lebih atau pulang ke Pariaman tanpa kendaraan bermotor alias dengan jogging, maka sekarang cukup realistis-jika ada even lari 10 K di kota ini saya akan berpartisipasi. Tentunya tidak hanya berpartisipasi di garis “Start” lalu setelah capek ngacir berburu kuliner. Tidak. Sebagai lelaki bertanggung jawab-memulai di garis “Start” wajib mengakhiri di garis “Finish”. Semoga hal yang baik ini tidak hanya “angek-angek cik ayam” yang dengan mudah dikalahkan oleh alasan malas dan bosan.

Sedangkan motivasi utama saya adalah untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh. Setelah usia menginjak kepala empat tentu saya harus punya perhatian lebih terhadap kesehatan. Apalagi saya tidak terlalu gemar berolahraga dan sebagai spesies pemakan segala yang halal tentu sangat sulit bagi saya mengikuti pola hidup sehat dengan diet ala publik figur maka saya harus memaksa diri untuk lari setiap pagi.

Selainnya itu sama seperti orang tua pada umumnya saya ingin sehat bugar agar bisa mendampingi setiap fase tumbuh kembang anak. Meskipun anak saya tidak butuh wali saat pernikahannya kelak (karena belum punya anak perempuan) saya berharap bisa mendampingnya hingga dewasa dan memastikan ia mendapatkan pasangan yang baik, syukur-syukur otot masih kuat untuk mengendong cucu.

Dan tiba-tiba urusan lari ini jadi persoalan yang tidak remeh lagi bagi lelaki sentimentil seperti saya. Umur adalah rahasia Allah. Tapi sudah jadi tugas kita untuk tetap merawat titipan tubuh zahir ini. Tidak lucu bila bukan kita yang mendampingi anak kita di pelaminan nanti, atau kalau masih ada tapi pakai kursi roda karena sudah tidak kuat berdiri (masa’ salaman duduk) hanya gara-gara soal ‘cupu’.

Kalau misalnya kita ditakdirkan tidak ada duluan karena ditugaskan menghadang asteroid yang akan menabrak Bumi seperti Bruce Willis dalam Armagedon atau Pilot Jepang yang menabrakkan pesawatnya ke Kapal Perang Amerika detik-detik berakhir Perang Dunia ke-2 kita mungkin bisa cukup bangga dan bahagia. Setidaknya kedengarannya heroik gitu, bukan karena hal-hal cupu seperti karena malas olahraga, merokok tanpa henti sehingga mulat seperti cerobong asap sepur, begadang sepanjang malam, minum alkohol kayak ikan sapu-sapu atau penyalahgunaan narkoba.

Bung ayo Bung lari pagi!

Padang, 19 Safar 1439

A.A. Albana-Pelari Sepanjang Banda Kali-

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close