Pahit Getir Islam dan Orde Baru

Setelah membebaskan beberapa tokoh politik Islam seperti Hamka dan Natsir dari tahanan Orde Lama. Masa ‘bulan madu ‘ antara Politik Islam dengan Orde Baru tidak berlansung lama. Saluran politik umat Islam malah dikerdilkan Orde Baru. TNI-AD organ tubuh Orba memang orang-orang yang sama dengan para penumpas gerakan PRRI/Permesta(konon dijadikan alasan bagi Sukarno untuk membubarkan Masyumi). Setelah berhasil menghabisi PKI, sasaran berikutnya tertuju pada gerakan politik Islam. Harapan umat Masyumi hidup kembali pun padam.

Namun, karena pernah memanfaatkan tangan umat Islam dalam menumpas PKI dan meruntuhkan Orde lama, Orba memulai usaha pengerdilan Politik Islam dengan menggaet unsur dalam Islam sendiri. Kelompok Islam liberal dengan lokomotif Nurcholis Madjid Cs dan HMI dirangkul menjadi kendaraan politik sedangkan yang lainnya kelompok Hamka , Natsir, Roem dan pentolan Masyumi lainnya dienyahkan dengan pelbagai cara, termasuk todongan senjata. Militer dibawah komando ‘anak emas’ Pak Harto-Benny Moerdani menghabisi ratusan umat Islam pada peristiwa Priuk dan Talangsari-Lampung. Sedangkan Intelegent Cerdik Orde Baru, Ali Murtopo memancing sisa-sisa gerakan DI/TII agar keluar lalu dihabisi.

Masa “berakit-rakit dahulu, bersenang-semang kemudian” bagi umat Islam terhadap Orde Baru berbalik menjadi “dirakit-rakit dahulu, centang perenang si tepian”.

Kini mereka datang lagi, meniupkan angin surga , tiupannya membuat umat bergerak, berlomba-lomba ambil bagian menumbangkan rezim, jika berhasil hasilnya entah untuk siapa?. Wajahnya dipoles sedemikian rupa, didandani se-islami mungkin. Mungkin karena memori umat yang terlalu pendek atau kita memang pemaaf.

Peristiwa-peristiwa yang hadir pada masa kini dan mungkin yang akan datang hanya perulangan sejarah masa lalu dalam dimensi dan lakon yang berbeda sedangkan secara konseptual hanyalah ulangan peristiwa masa lalu saja.

“Mereka yang tidak bisa mengingat masa lalu akan dikutuk untuk mengulanginya(lagi”). Ujar George Santayana filsuf Spanyol.

 

Padang, 17 Safar 1439

Kategori Esai, Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close