Kepala Empat

 

Menjelang usia 17 saya mengalami ketakutan luar biasa, dan merasa akan meninggal saat seventeen, padahal saya dalam kondisi sehat tanpa penyakit. Penyebabnya karena hari ulang tahun bertepatan dengan hari lahir saya. Sebagai orang yang lahir menjelang senja saya memang punya khayalan yang aneh-aneh ketika remaja. Mitos yang pernah saya dengar bahwa setiap orang akan meninggal bersamaan dengan hari lahirnya. Itulah yang menyebabkan saya ketakutan. Belakangan saya baru tahu ternyata mitos itu ada karena dihubung-hubungkan dengan kelahiran dan wafat Rasullah pada hari yang sama yaitu hari senin.

Dulu, saya kira usia yang membuat gentar adalah kepala tiga. Mungkin karena ketika saya mulai berkepala tiga, saya belum berkeluarga. Tidak tahu akan menikah dengan siapa. Saya bahkan tidak begitu berani memikirkan kehidupan dua atau tiga bulan ke depan. Benar-benar kehidupan yang mengalir begitu saja, tanpa rencana. Saya bersyukur tidak mengalir ke tempat yang buruk.

Tapi ternyata menginjak usia berkepala empat lebih gentar. Beberapa geraham sudah dibongkar, beberapa bulan belakangan tanpa sadar saya sering melepas kacamata yang selalu digunakan sejak belasan tahun lalu, saya berfikir minusnya sudah berkurang, namun ketika dua minggu lalu ketika mampir ke optikal ternyata mata juga sudah plus, itulah penyebab kurang nyaman selama ini. Selainnya itu rambut berwarna putih semakin banyak terlihat saat sisiran.

Saya seorang suami dari seorang isteri dan juga seorang ayah dari sudah seorang anak laki-laki yang sudah berusia 7 tahun. Tentu saya sangat bersyukur dan menyayanginya. Tapi jujur saja saya juga punya kekhawatiran, apakah saya bisa menjadi seorang ayah yang baik dan mampu menjalankan amanah dari Allah.

Di agama saya, Islam, Tuhan memberi perhatian khusus pada orang yang berusia 40 tahun, dengan ayat yang khusus pula. Saya bukan orang alim, tapi mungkin saja Allah tidak sembarangan memberi wahyu kepada pemimpin saya, Nabi Muhammad, pada usia 40 tahun.

Di usia kepala empat ini, saya hanya belajar mensyukuri hidup. Dan doa khusus saya : semoga saya tidak mudah membenci orang. Karena beberapa tahun belakangan ini, saya telah menjadi saksi, betapa bahaya kebencian bagi kehidupan manusia. Semoga di masa akan datang saat saya semakin menua dan anak beranjak remaja kegaduhan ini semakin mereda. Setidaknya saya semakin bijak mensikapinya.

Sebagai seorang ayah dengan seorang anak laki-laki, sama seperti harapan orang tua pada umumnya, berharap diberikan kesehatan agar dapat mendampingi setiap fase tumbuh kembang anak. Dan dapat membimbing, memberikan jalan serta mengantarkannya menuju masa depan sesuai bakat dan minatnya.

Saya berharap semoga ia tumbuh secara organik, alamiah sesuai dengan umur dan zamannya. Tentu saja dengan kecakapan dan ketangkasan yang dibutuhkan dalam menghadapi tantangan zaman. Tak sedikit pun terlintas dalam pikiran saya, agar ia tumbuh melampaui usia atau seperti zaman saya kecil dulu. Organik adalah Lifestyle saat ini yang sedang berkembang, orang-orang mulai sadar pentingnya tumbuh kembang mahkluk hidup secara alamiah, mulai dari sayur,buah, beras, daging dan aneka makanan lainnya serba organik, jadi sewajarnya saya berharap ia tumbuh seperti itu pula bukan karbitan atau instant.

Kategori My Family

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close