Perihal Kelapa

“Tak ada satu bagian pun dari Pohon Kelapa yang tidak dapat dimamfaatkan, karena itulah Tunas Kelapa dijadikan lambang Pramuka”

Pada akhir 80-an, sering penyuluh kesehatan datang ke desa-desa mengkampanyekan bahwa ; Minyak Kelapa itu tidak sehat, berakibat buruk bagi kesehatan. Saat itu di kampung saya-pesisir barat Pulau Sumatera, hampir tak satu keluarga pun yang tidak punya pohon kelapa, bahkan rumah-rumah kami di bawah pohon Kelapa yang sering tertimpa buah atau pelepah kelapa dikala angin kencang.

Saya yakin setengah pengguna minyak goreng adalah minyak kelapa yang diolah sendiri, dan setengahnya lagi Minyak Kelapa yang dijual perliter yang dipompa dari drum besar di pasar kecamatan atau warung hasil pengolahan Kilang Kopra milik rakyat. Segelintir orang menggunakan minyak dalam kemasan jerigen, saat belum pakai kemasan plastik seperti sekarang, orang-orang kampung menyebutnya minyak Harrau, saya tidak tahu itu jenis atau brand (merek dagang). Minyak jenis ini dikonsumsi oleh kalangan ekonomi menengah keatas.

Bahkan jika pergi keluar kota mengunjungi sanak saudara minyak kelapa olahan sendiri menjadi buah tangan. Atau perantau yang pulang kampung tak jarang minta minyak kelapa untuk dibawa saat balik ke kota masing-masing.

Pada awal milenium kedua, saat saya remaja pohon-pohon Kelapa dirobohkan berganti dengan Kelapa Sawit. Komoditas dunia-yang rakyat tidak dapat mengolah sendiri agar bisa dikonsumsi menjadi minyak goreng. Orang-orang berlomba-lomba menanam kelapa sawit yang memang lebih menguntungkan secara ekonomis di saat itu. Pabrik-pabrik penggilingan kopra berguguran karena tidak ada kopra untuk digiling.

Tidak cukup hanya sampai disitu, bahkan di beberapa daerah; rakyat tidak hanya mengganti Kelapa menjadi Sawit, sebagian yang berpikir instant dengan iming-iming uang berlimpah mereka melepas tanahnya kepada pengusaha besar dari Jakarta dan Malaysia. Jatuhlah lahan-lahan pertanian ke tangan konglomerat besar. Hingga pada masa berikutnya anak-cucu dan keturunan mereka menjadi buruh dengan upah sekadar makan dan memburuh untuk tanah yang dulu milik mereka.

Sebagian orang menyebut komoditas pengganti ‘Kelapa’ ini dengan ‘Kelapa Sawit’, sebagian lagi cukup menyebut dengan ‘Sawit’. Meskipun tanaman kampiun dengan akar serabut seperti Kelapa, namun kalau melihat buah tidak ada mirip-miripnya dengan buah Kelapa. Dari bentuk dan ukuran buahnya lebih dekat kepada Aren atau Sagu. Saya curiga pemberian nama ‘Kelapa Sawit’ dengan mempertahan kata ‘Kelapa’, ini adalah upaya-upaya pengelabuan, agar ‘memori kolektif’ rakyat tidak merasa tercabut dari Tanaman yang sudah menjadi identitas dari kebudayaan mereka sejak ratusan mungkin juga ribuan tahun silam.

Namun beberapa tahun belakangan seiring dengan stagnant harga Kelapa Kawit muncul berita-berita yang melansir penelitian bahwa minyak kelapa justru yang paling sehat. Jauh lebih sehat dari minyak Kelapa Sawit. Pelan-pelan minyak kelapa dicari dan dikonsumsi lagi, dengan berbagai merek seperti VCO oil dan berbagai macam lainnya. Persoalannya tidak berhenti di sana, seandainya tidak ada isu Minyak Kelapa itu buruk bagi kesehatan, yang dilakukan secara masif dan terstruktur kala itu, kami yang tinggal di pesisir dengan iklim tropis yang cocok dengan tanaman Kelapa dengan dukungan teknologi dari pemerintah mungkin sudah punya pabrik pengolahan minyak kelapa yang canggih sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan rakyat pesisir.

Itu baru soal komoditas kelapa, bagaimana dengan beras, gula, kopi yang sering dikambinghitamkan sebagai penyebab berbagai macam penyakit.

Gula, Bagaimana dengan gula?, yang juga terkena ‘tsunami’ isu-isu negatif tentang kesehatan. Kita tunggu saja. Kalau mau proaktif pelajari, simak dan baca, tentunya bukan artikel-artikel kesehatan yang viral-viral di media sosial dengan judul boombastis, seperti “wow”, “dibalik rahasia”, “sebarkan untuk menyelamatkan”, “jangan berhenti pada anda”, dan lainnya, tapi jurnal-jurnal penelitian ilmiah yang bebas dari berbagai kepentingan Kapitalis.
Yang jelas tebu tanaman yang diolah menjadi gula adalah komoditas rakyat yang pada masa kolonial dari keuntungannya telah digunakan oleh Kerajaan Belanda untuk membangun Dam-dam penghalang abrasi agar daratan Belanda tidak tenggelam.

Dalam ilmu ekonomi politik, komoditas rakyat bukan sembarang isu, karena efeknya sangat kompleksitas, mulai dari kultur, pergantian komoditas, pengusaan lahan, sampai kriminalisasi petani.

Ini baru isu komoditas pertanian, apalagi isu politik. Segala sesuatu isu yang gaungnya sangat kencang kalau istilah kekinian viral, mesti dicurigai, kita harus skeptis mensikapinya. Tak mengapa curiga, Jangan gampang percaya, jika tak ingin celaka.

Al Albana, Padang, 7 Safar 1439

Kategori Telaah

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini:
search previous next tag category expand menu location phone mail time cart zoom edit close